Unissula: Benteng Ketahanan di Garis Depan Kaligawe
Oleh: dr H Agus Ujianto MSI Med SpB/Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang
SEMARANG – INDONESIA – nujateng.com – Bagi mahasiswa internasional, khususnya yang berasal dari Yordania dan negara-negara lain dengan tantangan iklim yang berbeda, menempuh pendidikan di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang menawarkan pelajaran unik dan nyata tentang ketahanan.
Unissula, bersama rumah sakit utama yang terafiliasi dengannya, RSI Sultan Agung, sengaja ditempatkan di kawasan Kaligawe—zona pesisir dataran rendah yang terkenal rentan terhadap banjir rob (air pasang) tahunan dan genangan parah.
Lokasi yang sekilas tampak merugikan ini, diubah secara sengaja menjadi aset akademik dan kemanusiaan yang tak tertandingi, sering diibaratkan sebagai “Pusat Pendidikan, Penelitian, dan Pelayanan di Zona Perang.” “Perang” yang dimaksud, dalam konteks ini, adalah perjuangan abadi melawan air, namun merupakan perjuangan yang sepenuhnya didedikasikan untuk membangun warisan martabat kemanusiaan dan kesejahteraan sosial.
Laboratorium Kaligawe: Tempat Teori Bertemu Realitas Hidrologi
Banjir tahunan di Kaligawe, yang diperparah oleh akselerasi perubahan iklim dan penurunan muka tanah (land subsidence) yang parah, menghadirkan masalah kompleks yang tidak bisa dipahami hanya dari buku teks. Bagi mahasiswa teknik, kedokteran, dan ilmu sosial, kampus Unissula dan RSI Sultan Agung berfungsi sebagai laboratorium hidup yang tak tertandingi.
Komitmen yang berkelanjutan terhadap kawasan ini, meskipun adanya tantangan operasional dan tekanan eksternal untuk relokasi, bersumber dari dedikasi mendalam oleh Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA).
Menurut dr. H. Agus Ujianto, M.Si, Med, Sp.B., Direktur Utama RSI Sultan Agung, komitmen ini adalah kunci utama.
“Kami menolak opsi untuk pindah, karena kehadiran kami di Kaligawe adalah penegasan warisan perjuangan. Kami adalah jangkar pelayanan esensial bagi masyarakat yang paling membutuhkan di Pantura. Ini adalah contoh nyata bahwa manusia mampu membangun dan melayani peradaban bahkan di lokasi paling menantang. Kami harus mengubah tantangan menjadi keunggulan.”
Membangun Warisan Kemanusiaan
Operasional RSI Sultan Agung mencerminkan filosofi “zona perang” ini secara nyata:
* Rumah Sakit sebagai Benteng Kemanusiaan: Ketika Jalan Pantura Kaligawe lumpuh total karena banjir, staf medis rumah sakit menunjukkan heroik luar biasa. Dokter seringkali harus berjalan kaki berkilo-kilometer menerobos genangan air rob—sebuah realitas yang disaksikan sendiri oleh Direktur Utama saat blusukan bersama aparat—demi memastikan operasi kritis dan perawatan pasien terus berjalan tanpa henti.
* Model SADEWA (Sultan Agung Disaster, Emergency, and Wary Agile): Ketahanan praktis ini dikodifikasi menjadi program pelatihan SADEWA. Model SADEWA, yang lahir langsung dari pengalaman bencana yang berulang, adalah kerangka kerja komprehensif untuk merencanakan, melaksanakan, dan merehabilitasi layanan vital dalam krisis bencana air. Program ini mengintegrasikan kebutuhan klinis (mempertahankan kamar operasi steril) dengan upaya logistik kompleks (seperti evakuasi pasien menggunakan truk militer dan perahu karet).
* Pusat Penelitian Peradaban: Bagi Unissula, tantangan rob menjadi materi penelitian terapan. Hal ini memberikan contoh yang kuat bagi mahasiswa internasional dan domestik tentang penelitian aplikatif yang secara langsung berkontribusi pada ketahanan nasional dan tujuan kemanusiaan global.

Undangan untuk Keterlibatan Global
Bagi mahasiswa Yordania dan komunitas global yang lebih luas, komitmen Unissula di Kaligawe adalah demonstrasi nyata bahwa pendidikan harus melampaui ruang kelas. Ini adalah tentang keterlibatan aktif dalam menghadapi tantangan paling mendesak umat manusia.
Upaya berkelanjutan Unissula dan RSI Sultan Agung—untuk tetap melayani di zona rawan banjir demi pelayanan, penelitian, dan pendidikan—adalah sebuah deklarasi yang mendalam.
Ini adalah warisan ketabahan manusia yang bertekad melayani mereka yang paling membutuhkan, mendidik melalui perjuangan nyata, dan pada akhirnya, membangun peradaban tangguh yang tahu bagaimana hidup harmonis dan berkembang di tengah realitas lingkungan yang paling menuntut. Warisan ini menjadi mercusuar dan model praktis bagi wilayah rawan bencana di seluruh dunia.***
