Mitigasi Bencana Berbasis Pengalaman Nyata: RSI Sultan Agung dan Model Pelatihan SADEWA untuk Bencana Hidrologi
Oleh: Goes Oedji, CEO nujateng.com
SEMARANG – nujateng.com – Konsep mitigasi bencana seringkali terperangkap dalam kerangka teoretis dan simulasi yang terpisah dari realitas lapangan. Namun, di kawasan Kaligawe, Semarang, Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung telah menjadi “laboratorium hidup” untuk penanganan bencana rob dan banjir, yang telah melahirkan model operasional unik.
Pengalaman heroik dan sistematis RSI Sultan Agung dalam menghadapi genangan abadi ini, terutama melalui inisiatif SADEWA—singkatan dari Sultan Agung Disaster, Emergency, and Wary Agile—layak dijadikan Program Pelatihan Bencana yang Berasal dari Air standar nasional.

1. Tantangan Lapangan Kaligawe: Episentrum Krisis Hidrologi
RSI Sultan Agung beroperasi di tengah salah satu wilayah paling rentan di Pantura, di mana bencana hidrologi bersifat majemuk: banjir dari curah hujan, rob dari pasang laut, dan diperparah oleh penurunan muka tanah (subsidence). Kondisi ini menciptakan tantangan logistik yang ekstrem: akses lumpuh, fasilitas terancam, dan kebutuhan evakuasi pasien vital.
Model mitigasi SADEWA membuktikan bahwa ketahanan sebuah fasilitas vital bukan terletak pada infrastruktur semata, tetapi pada kapasitas SDM dan sistem operasional darurat yang teruji secara tanggap (agile) dan waspada (wary).
2. Inisiasi SADEWA: Dari Pengalaman Lapangan Menjadi Standar
Pendekatan mitigasi yang unik ini dimulai langsung dari kepemimpinan dan pengalaman lapangan. Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, dr. Agus Ujianto, M.Si, Med, Sp.B., menjadi motor penggerak utama. Beliau didukung oleh Ketua SADEWA, dr. Cahyo, dan Sekretaris SADEWA, Bejo, SKM, yang memiliki latar belakang dan pengalaman di area lingkungan. Kombinasi ini menjamin bahwa model SADEWA memadukan perspektif klinis, manajerial, dan pengetahuan mendalam tentang ekosistem lingkungan setempat.
Pengalaman dr. Agus Ujianto yang dikenal rutin blusukan bersama aparat TNI-Polri ke titik-titik rob, dan pengetahuan lingkungan yang dibawa oleh Bejo, SKM, memastikan bahwa strategi SADEWA bersifat realistis dan berbasis kebutuhan komunitas yang tinggal di area rawan bencana.

3. Model Pelatihan SADEWA: Tiga Fase Penanganan Bencana Air
Pengalaman RSI Sultan Agung dalam menangani rob dan banjir berulang dapat dikristalisasi menjadi modul pelatihan tiga fase untuk institusi vital dan masyarakat yang terpaksa berhadapan dengan bencana hidrologi:
Fase A: Persiapan (Wary Agile)
Fokus pada pembangunan mentalitas “Siap, Meskipun Terendam.”
* Modul Access Triage: Pelatihan bagi petugas untuk menilai dan menentukan rute evakuasi dan jalur kedatangan tenaga medis/pasien. Berdasarkan pengalaman dr. Harka Prasetya dan tim yang harus berjalan kaki menerobos rob, modul ini mencakup teknik navigasi, pertolongan mandiri, dan penentuan titik temu aman.
* Modul Manajemen Logistik Vital: Pelatihan tentang pengamanan alat medis sensitif, pemindahan stok obat ke area yang lebih tinggi, dan perencanaan pasokan energi darurat (genset) agar kamar operasi, seperti yang dikoordinasikan dr. Arif, dapat beroperasi tanpa henti.
* Sinergi Multisektor Dini: Pelatihan simulasi yang melibatkan Komandan Koramil dan Kapolsek setempat untuk membangun kesepahaman prosedur evakuasi pasien menggunakan perahu karet atau truk militer sebelum bencana memuncak.
Fase B: Pelaksanaan (Disaster and Emergency Response)
Fokus pada Heroisme Operasional dan pelayanan di bawah tekanan.
* Modul Continuous Operation Kamar Bedah: Pelatihan bagi tim medis, khususnya anastesi (seperti dr. Kinanti) dan bedah (seperti dr. Sulaiman), mengenai protokol menjaga sterilitas dan stabilitas kamar bedah di tengah gangguan eksternal (listrik, suhu, kelembaban).
* Protokol Evakuasi Pasien Triage: Pelatihan terperinci untuk petugas dan relawan tentang cara mengevakuasi pasien kritis (termasuk alat bantu hidup) dari lantai terendam ke tempat yang aman, dengan simulasi penggunaan perahu karet dalam genangan air.
* Layanan Kesehatan Bergerak: Pelatihan bagi tim Baksos RSI Sultan Agung untuk membuat posko pelayanan cepat di luar gerbang RS, berkolaborasi dengan komunitas seperti santri, untuk penanganan kasus ringan dan pendistribusian obat darurat.
Fase C: Rehabilitasi (Pemulihan Pascabencana)
Fokus pada pemulihan kesehatan masyarakat dan rehabilitasi fasilitas.
* Modul Kesehatan Pascabanjir: Pelatihan spesifik mengenai diagnosis cepat dan penanganan penyakit dominan pascarob (infeksi kulit, ISPA) dan strategi pencegahan penyebaran penyakit menular air.
* Rehabilitasi Psikososial Petugas: Pengakuan atas tekanan psikologis tinggi yang dialami petugas setelah melalui periode pelayanan ekstrem, disertai mekanisme debriefing dan dukungan mental.
* Evaluasi dan Hardening Infrastruktur: Modul teknis untuk Kepala IBS dan tim teknik rumah sakit dalam mengevaluasi kegagalan sistem (pompa, listrik) selama banjir dan merencanakan perbaikan jangka panjang (peninggian lantai, pembangunan tanggul mini internal).
4. Kesimpulan: Menuju Standar Pelatihan Bencana Hidrologi
Pengalaman RSI Sultan Agung di Kaligawe adalah aset nasional yang berharga. Konsep SADEWA yang diprakarsai oleh Direktur Utama dan didukung oleh komite serta keahlian lingkungan, dapat diangkat menjadi Standar Program Pelatihan Bencana Hidrologi. Dengan mengintegrasikan aspek teknis, kepemimpinan, dan kesadaran lingkungan, SADEWA menawarkan cetak biru yang komprehensif untuk menyiapkan institusi dan petugas dalam menghadapi realitas krisis air di masa depan.***
