
SEMARANG, nu.jateng.com — Ribuan jamaah memadati Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, Rabu malam (23/9/2026), dalam rangkaian Jateng Bersholawat dan tasyakuran atas suksesnya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Jawa Tengah.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB tersebut menjadi salah satu rangkaian penutup perhelatan MTQ Nasional XXXI. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengangkat tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban.”
Suasana Simpang Lima semakin semarak dengan lantunan sholawat yang dipimpin Habib Ali Zainal Abidin Assegaf atau Habib Bidin, bersama Majelis Az-Zahir Pekalongan. Setelah itu, jamaah mengikuti pengajian umum bersama KH. Ahmad Anwar Zahid (Abah Anza).
Dalam tausiyahnya, KH Ahmad Anwar Zahid menyampaikan bahwa keberkahan tidak semata-mata diukur dari hal-hal lahiriah, seperti kemegahan tempat, mahalnya biaya pembangunan, atau kemewahan ornamen. Menurutnya, ukuran keberkahan yang paling utama justru ditentukan oleh kondisi batin dan orang-orang yang menempatinya.
“Zahiran wa batinan, luar dalam. Jadi, barometer dan standar barokah yang paling utama itu lebih ditentukan oleh batiniyah. Allahumma salli ala Muhammad,” tuturnya.
Dengan gaya penyampaian yang khas, komunikatif, dan diselingi guyonan, Abah Anza mengajak jamaah memahami makna keberkahan melalui contoh-contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa rumah yang besar belum tentu menghadirkan ketenteraman, sebagaimana rumah sederhana tidak berarti jauh dari keberkahan.
Ia mengibaratkan rumah yang disebut berkah bukanlah rumah yang dibangun dengan biaya puluhan miliar atau dilengkapi bahan bangunan serba kristal dan ornamen eksklusif. “Barokahnya rumah itu dilihat dari penghuninya, orang-orang yang tinggal di dalam rumah itu,” jelasnya.
Menurut Abah Anza, rumah akan terasa berkah apabila penghuninya rajin beribadah, saling menghormati, menjaga lisan, serta menghadirkan suasana penuh kasih sayang. Sebaliknya, kemewahan bangunan tidak banyak berarti apabila di dalamnya dipenuhi pertengkaran, kesombongan, dan perilaku yang menjauhkan diri dari Allah.
Sambil mengundang tawa jamaah, ia menyampaikan bahwa ukuran keberkahan bukanlah seberapa mahal keramik rumah atau seberapa mengilap lampunya, melainkan apakah rumah tersebut digunakan untuk salat, membaca Al-Qur’an, mendidik anak, dan menerima tamu dengan baik. “Rumah boleh sederhana, tetapi jangan sederhana dalam ibadah,” pesannya.
Pertemuan dua pendakwah tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Habib Bidin dikenal sebagai pemimpin Majelis Az-Zahir, sementara KH Ahmad Anwar Zahid dikenal luas sebagai mubalig dengan gaya dakwah yang komunikatif, lugas, dan diselingi humor tanpa mengurangi pesan keagamaannya.
Kegiatan Jateng Bersholawat ini sekaligus menjadi ungkapan syukur setelah rangkaian MTQ Nasional XXXI yang digelar di Jawa Tengah. Sebelumnya, penutupan resmi MTQ Nasional telah berlangsung pada Sabtu malam dan dihadiri jajaran pemerintah daerah, DPRD, tokoh agama, panitia, peserta, serta masyarakat.
Di tengah suasana penuh khidmat, jamaah bersama-sama melantunkan sholawat, mengikuti tausiyah, dan memanjatkan doa agar semangat Al-Qur’an tidak berhenti setelah berakhirnya kompetisi MTQ, tetapi terus tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
Dengan kegiatan tersebut, Simpang Lima Semarang kembali menjadi pusat berkumpulnya masyarakat dalam suasana religius, sekaligus menandai berakhirnya rangkaian besar MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah dengan semangat kebersamaan, kecintaan kepada Al-Qur’an, dan ukhuwah Islamiyah.


