
Ungaran, nujateng.com – Kekhawatiran terhadap rencana pengembangan panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran dan Telomoyo mendorong berbagai elemen masyarakat Jawa Tengah menyatukan langkah.
Ratusan orang yang terdiri atas tokoh masyarakat, aktivis, organisasi kemasyarakatan (ormas), budayawan, pemerhati lingkungan, pendaki gunung hingga mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) berkumpul di kediaman Havid Sungkar, S.H., M.H., Jalan Slamet Riyadi 10A, Ungaran, Kabupaten Semarang.
Pertemuan tersebut digelar dalam rangka pembentukan kepengurusan Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo, sebagai wadah konsolidasi masyarakat yang menyuarakan kekhawatiran terhadap rencana pengembangan geothermal di kawasan pegunungan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Ketua ARIB Jawa Tengah, K.A. Robani Albar, S.H., M.H., berpesan kepada para tokoh dan pengurus yang terpilih agar menjalankan amanah dengan penuh integritas.
“Wajib amanah, bersih dan jujur. Jangan tergoda bujuk rayu untuk mendapatkan sesuatu dari orang-orang yang berkepentingan. Hal itu pasti akan dihadapi ketika nanti kita mulai bergerak. Harus kuat iman. Kalau berkhianat pasti kuwalat,” tegas Robani saat memimpin rapat pembentukan pengurus.
Pertemuan tersebut bukan sekadar konsolidasi organisasi. Forum itu juga menjadi ruang bagi berbagai elemen masyarakat untuk menyampaikan keresahan dan mempertanyakan rencana pengeboran geothermal di kawasan Gunung Ungaran dan Telomoyo.

Havid Sungkar Dipercaya Memimpin Aliansi
Dalam proses pemilihan ketua, tiga nama kandidat diajukan, yakni Budi GJL, Ndaru dari Sumowono, dan Havid Sungkar dari Ungaran.
Setelah melalui proses pemilihan, Havid Sungkar akhirnya dipercaya menjadi Ketua Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo.
Havid dikenal sebagai penggiat gerakan antinarkoba dan Ketua Geram Jawa Tengah. Selain itu, ia berprofesi sebagai advokat. Ia lahir, besar, dan hingga kini tinggal di Ungaran.
Kedekatan tersebut membuat geothermal Gunung Ungaran tidak sekadar dipandang sebagai isu lingkungan, tetapi juga menyangkut kehidupan masyarakat di wilayah tersebut.
“Saya lahir dan dibesarkan di Ungaran. Gunung Ungaran adalah bagian dari kehidupan masyarakat di sini. Karena itu, ketika ada rencana pengeboran geothermal, tentu kami memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga dan menyuarakan kepentingan masyarakat,” demikian garis besar sikap yang disampaikan Havid dalam forum tersebut.
Menolak Bukan Berarti Anti-Pembangunan
Aliansi menyatakan sikap menolak rencana pengembangan geothermal. Namun, penolakan tersebut ditegaskan bukan semata-mata sebagai bentuk penentangan terhadap pembangunan.
Mereka mempertanyakan potensi dampak terhadap lingkungan, sumber mata air, ekosistem, kawasan pegunungan serta kehidupan masyarakat apabila eksplorasi dan pengeboran benar-benar dilakukan.
Bagi masyarakat, Gunung Ungaran bukan sekadar bentang alam yang dapat dilihat dari perspektif potensi energi. Kawasan tersebut juga memiliki hutan, sumber mata air, lahan pertanian, kehidupan masyarakat serta nilai budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Karena itu, mereka meminta pemerintah tidak hanya melihat Gunung Ungaran dari perspektif investasi dan ketahanan energi, tetapi juga mempertimbangkan aspek lingkungan dan kepentingan masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Pertanyaan yang mereka dorong untuk dijawab adalah sejauh mana pembangunan energi tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat dan bagaimana risiko lingkungan dapat diminimalkan apabila proyek geothermal dilaksanakan.
Aliansi juga menyoroti pentingnya komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Menurut mereka, publik membutuhkan keterbukaan informasi serta ruang dialog yang lebih luas sebelum kebijakan yang menyangkut masa depan kawasan pegunungan tersebut dijalankan.
Rencanakan Audiensi dengan Pemkab dan Pemprov
Sebagai langkah awal, Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo berencana melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Semarang dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Audiensi tersebut diharapkan menjadi ruang dialog antara masyarakat, pemerintah, akademisi, serta pihak-pihak yang berkepentingan dengan rencana pengembangan geothermal.
Bagi para penggagas aliansi, kawasan Gunung Ungaran memiliki banyak aspek yang perlu dipertimbangkan, mulai dari keberadaan sumber air, hutan, warga sekitar dan obyek wisatanya atau nilai budaya.***
