
Oleh : Akhmad Sururi
Ada sebuah pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama: Untuk apa anak-anak kita belajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT)? Apakah sekadar agar mampu membaca Al-Qur’an, menghafal doa dan memahami dasar-dasar ilmu agama? Ataukah lebih jauh dari itu, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, percaya diri, berprestasi, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika kita berbicara tentang Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (Porsadin) Kabupaten Brebes. Porsadin bukan sekadar ajang perlombaan antarmurid MDT. Lebih dari itu, Porsadin adalah ruang untuk menemukan potensi, membangun karakter, menumbuhkan keberanian, sekaligus mempertemukan semangat para santri dari berbagai MDT di Kabupaten Brebes.
Porsadin, Panggung Potensi Murid MDT
Selama ini MDT sering dipandang sebagai lembaga pendidikan pelengkap. Padahal, di banyak desa, MDT justru menjadi salah satu benteng penting pendidikan karakter dan keagamaan anak.
Di ruang-ruang kelas sederhana, para guru diniyah mengajarkan Al-Qur’an, fikih, akidah, akhlak, sejarah Islam, doa-doa harian, hingga tradisi keagamaan. Dari tempat-tempat sederhana itulah sesungguhnya masa depan generasi sedang dipersiapkan.
Porsadin yang secara maraton di laksanakan di tingkat kecamatan hadir untuk memberikan panggung kepada murid MDT dalam rangka melatih mental, mengasah keberanian dan menguji kompetensi. Bakat dan minat mereka akan disaksikan dan diuji oleh tim Juri.
Anak yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemampuannya. Anak yang berbakat dalam seni Islami mendapatkan kesempatan untuk tampil. Anak yang memiliki kemampuan olahraga dapat mengembangkan potensinya. Anak yang memiliki keberanian berbicara, menghafal, menulis, atau berkreasi mendapatkan kesempatan untuk berprestasi.
Dengan demikian, Porsadin bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi tentang bagaimana setiap anak menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
Prestasi Harus Berjalan Bersama Akhlak. Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan. MDT tidak boleh hanya melahirkan anak-anak yang pandai bertanding, tetapi juga harus melahirkan anak-anak yang santun dalam bersikap. Tidak cukup hanya mengejar medali, tetapi juga harus membangun karakter.
Sebab ukuran keberhasilan pendidikan diniyah bukan hanya ketika seorang anak mampu memenangkan perlombaan. Ukuran yang lebih tinggi adalah ketika ilmu yang dipelajarinya mampu membentuk perilaku. Inilah yang menjadi substansi pendidikan.
Prestasi tanpa akhlak akan kehilangan arah. Ilmu tanpa adab akan kehilangan keberkahan.
Karena itu, semangat Porsadin harus diletakkan dalam kerangka pendidikan karakter. Menang harus disyukuri tanpa menyombongkan diri. Kalah harus diterima dengan lapang dada. Bertanding harus menjunjung sportivitas. Menghormati guru, teman, dan lawan harus menjadi bagian dari proses pendidikan.
Di sinilah nilai penting Porsadin.
Dari Brebes untuk Generasi Hebat
Kabupaten Brebes memiliki potensi besar dalam pengembangan pendidikan diniyah. MDT tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat dengan dukungan para kiai, ustaz, guru, orang tua, dan berbagai elemen masyarakat.
Potensi tersebut perlu dirawat dan dikembangkan secara bersama-sama.
Porsadin tingkat Kabupaten Brebes yang akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Fattah Tegalgandu Kec Wanasari Kab Brebes pada hari Ahad tanggal 27 September 2027 menjadi momentum untuk membangun ekosistem pendidikan diniyah yang lebih kuat. Bukan hanya mempersiapkan peserta lomba menjelang perlombaan, tetapi membangun pembinaan yang berkelanjutan.
Kita membutuhkan pemetaan bakat murid MDT, pembinaan guru pendamping, pelatihan berjenjang, penguatan kelembagaan, serta dukungan pemerintah dan masyarakat.
Jika dilakukan secara konsisten, bukan tidak mungkin dari MDT-MDT di pelosok Brebes akan lahir generasi yang mampu berbicara di tingkat provinsi bahkan nasional.
Jangan Hanya Mencari Juara
Porsadin harus mengubah cara pandang kita terhadap prestasi.
Jangan hanya mencari siapa yang mendapatkan juara pertama. Carilah juga anak yang setelah mengikuti Porsadin menjadi lebih percaya diri. Carilah anak yang sebelumnya pemalu kemudian berani tampil. Carilah anak yang belajar menghargai teman. Carilah anak yang semakin rajin belajar karena ingin mengembangkan potensinya.
Sebab setiap anak adalah juara ketika ia mampu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Medali bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Sertifikat bisa tersimpan dalam map. Tetapi pengalaman, keberanian, persahabatan, kedisiplinan, sportivitas, dan akhlak yang tumbuh dari proses Porsadin akan menjadi bekal kehidupan.
Sinergi Menjadi Kunci
Mewujudkan murid MDT yang berprestasi, berakhlak, dan hebat tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja.
Pengelola MDT memiliki tanggung jawab membangun sistem pembinaan. Guru menjadi teladan sekaligus pelatih. Orang tua memberikan dukungan dan motivasi. Pemerintah memberikan perhatian dan kebijakan yang berpihak pada pendidikan diniyah. Organisasi dan masyarakat ikut menciptakan ruang berkembang bagi anak-anak.
Di sinilah pentingnya membangun sinergi.
Jangan sampai anak-anak MDT hanya mendapatkan perhatian ketika Porsadin akan dilaksanakan. Pembinaan harus dilakukan sepanjang tahun. Karena prestasi tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari latihan, kedisiplinan, pendampingan, doa, dan lingkungan yang mendukung.
Menyiapkan Generasi Masa Depan
Pada akhirnya, Porsadin Kabupaten Brebes bukan sekadar agenda perlombaan. Ia adalah bagian dari ikhtiar besar menyiapkan generasi masa depan.
Kita ingin anak-anak MDT tumbuh sebagai generasi yang cerdas pikirannya, lembut hatinya, kuat mentalnya, luas wawasannya, dan baik akhlaknya.
Mereka tidak hanya mampu membaca dan memahami ilmu agama, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Mereka tidak hanya menjadi generasi yang saleh secara pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Karena itu, mari kita jadikan Porsadin sebagai panggung prestasi, sekolah karakter, dan laboratorium masa depan generasi MDT Kabupaten Brebes.
Dari madrasah diniyah, kita tanamkan ilmu.
Dari guru, kita wariskan keteladanan.
Dari keluarga, kita kuatkan dukungan.
Dari Porsadin, kita tumbuhkan keberanian dan prestasi.
Dan dari semuanya, kita berharap lahir generasi Brebes yang berprestasi, berakhlak, berkarakter, dan hebat menghadapi masa depan.
Porsadin bukan sekadar mencari juara. Porsadin adalah ikhtiar menemukan dan menumbuhkan para juara kehidupan.
