
JAKARTA – nujateng.com – Duka mendalam menyelimuti komunitas Madrasah Diniyah Takmilyah di Indonesia. Tokoh pejuang Madrasah Diniyah, Dr Sumitro,MSI wafat pada hari Sabtu, 20 Juni 2026 di rumah kediamannya Jakarta Timur. Setelah beberapa bulan menderita penyakit komplikasi dan sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Beliau menghembuskan nafas terakhir kurang lebih pukul tiga sore didampingi beberapa anak dan istri.
Ketua Umum Persatuan Guru Diniyah Nusantara ( PGDN), H Satuham Akbar, S.Ag menyampaikan rasa duka cita yang sedalam dalamnya atas meninggalnya Dr Sumitro, M.SI sebagai wakil Ketua Umum PGDN. Beliau sangat getol dan semangat memperjuangkan nasib Madrasah Diniyah di Indonesia. Tercatat dalam sejarah Al Marhum Sumitro adalah pendiri utama Forum Komunikasi Diniyah Takmilyah yang lahir di Jakarta pada bulan April 2012.
” Ketika bicara umur tentu menjadi rahasia Tuhan. Hanya Alloh SWT yang tahu setiap ajal manusia. Hari ini kami berduka cita, tokoh pejuang pertama MDT telah dipanggil menghadap Alloh. Kita berdoa semoga khusnul khotimah dan segala amal ibadah serta perjuangannya diterima disisi Alloh. Semua dosa dan kesalahannya mendapatkan ampunan dari Alloh, ” kata Satuham saat dihubungi via ponsel, Ahad 21 Juni 2026.
Dirinya merasa kehilangan sosok yang betul betul murni berjuang untuk kebesaran Madrasah Diniyah di Indonesia. Namanya tentu tercatat sebagai tokoh pendiri FKDT ( Forum Komunikasi Diniyah Takmilyah) yang menjadi mewadahi komunitas Madrasah Diniyah Takmilyah se Indonesia. Pergerakan dan perjuangan Sumitro tidak mengenal lelah untuk Madrasah Diniyah, termasuk membidani berdiri PGDN yang lahir di Surabaya beberapa tahun yang lalu.
Satuham mengungkapkan, gagasan dan ide pergerakan untuk MDT selalu muncul dalam benak Sumitro. Ide dan gagasan tersebut bisa dikomunikasikan dengan beberapa pejabat pemerintah dan steakholder yang memiliki perhatian kepada Madrasah Diniyah Takmilyah. Sehingga hari ini MDT sudah banyak dikenal dimana mana. Jaringan Beliau tingkat nasional menjadi salah satu kekuatan untuk mengkampanyekan pentingnya MDT untuk masa depan generasi bangsa.
Ketum PGDN juga menuturkan bahwa Al Marhum Sumitro menjadi tokoh yang bisa melakukan komunikasi antara FKDT dan PGDN. Kedua lembaga tersebut memiliki ruh yang sama dalam meningkatkan kesejahteraan guru MDT dan guru ngaji di Indonesia. Di tangan Al Marhum Sumitro, komunitas guru MDT baik yang FKDT maupun PGDN bisa menyatu dalam satu barisan mewujudkan tujuan pendidikan nasional. MDT menjadi pilar dalam sistem pendidikan nasional yang memiliki peran penting dalam mengimplementasikan fungsi tujuan pendidikan nasional.
” Kurang lebih satu bulan yang lalu, saya sempat berkomunikasi dengan Sumitro. Saat itu dalam keadaan sakit dan meminta untuk mendoakan kesembuhannya. Meskipun dalam keadaan sakit Beliau masih memiliki perhatian kepada pergerakan komunitas MDT, ” tambah alumni IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Satuham mengenal Al Marhum Sumitro sebagai pribadi yang ulet, penuh dedikadi yang tinggi, pantang menyerah. Lebih dari itu kecerdasan komunikasi yang dimiliki merupakan modal utama dalam menggerakkan komunitas MDT dalam konteks nasional.Banyak pelajaran yang bisa diambil dalam kiprah dan perjuangan Sumitro dalam mengangkat harkat dan martabat Madrasah Diniyah. Selamat jalan Dr Sumitro, engkau Pejuang Madrasah Diniyah Takmilyah di Indonesia. Al Fatihah.
