Ngopi Santai Penuh Makna Pencerahan dan Silaturahim

KEDIRI – nujateng.com – Suasana hangat penuh keakraban terasa di Desa Damarwulan saat keluarga berkumpul sederhana sambil ngopi bersama. Momen ini sekaligus menjadi ajang silaturahim Saifudin dengan saudara-saudaranya di kampung halaman di wilayah Damarwulan Kepung Kediri.
Berbeda dari kajian formal, pertemuan ini berlangsung sebagai pencerahan melalui diskusi santai, berbentuk sharing dan tukar pengalaman hidup. Yang ditekankan bukan sekadar teori, tetapi laku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam suasana tersebut, Mas Shodiq—yang akrab disapa Mbah Diq karena kedalaman ilmunya meski masih muda mengajak kepada sesama untuk lebih jujur melihat diri sendiri. “Sebelum kita mengajak orang lain, apakah kita ini sudah benar-benar murni lillāh?” ungkapnya.
Diawali dari jabarkan kisah teladan Rasulullah ﷺ yang selalu:
– Melayani keluarga dan sahabat
– Membantu pekerjaan rumah
– Mengutamakan kepentingan umat.
Selaras dengan hadis : سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
yang artinya “Pemimpin suatu kaum adalah orang yang melayani mereka.”
Penjelasan Singkat Hadis ini mengajarkan bahwa dalam Islam, kepemimpinan bukan soal kekuasaan atau kedudukan, tetapi pengabdian dan pelayanan. Semakin tinggi posisi seseorang, seharusnya semakin besar tanggung jawabnya untuk membantu, melayani, dan memperhatikan kebutuhan umat atau masyarakatnya.
Mbah Diq kemudian mengangkat sebuah hikmah tasawuf:
تَرَكْتُ مُرَادِي لِمُرَادِكَ
“Aku meninggalkan keinginanku demi kehendak-Mu.”
Serta versi yang lebih panjang:
تَرَكْتُ مُرَادِي لِمُرَادِكَ، فَإِذَا أَرَدْتَ شَيْئًا أَرَدْتُهُ
“Aku tinggalkan keinginanku demi kehendak-Mu, maka apa pun yang Engkau kehendaki, itulah yang aku kehendaki.”
Dalam penjelasannya, Mbah Diq menyampaikan bahwa ungkapan ini bukan hadis Nabi ﷺ, melainkan hikmah para sufi tentang maqām taslīm (pasrah total kepada Allah), yang sering dinisbatkan kepada tokoh seperti Rabi’ah al-Adawiyah, Abu Yazid al-Bustami, dan Junaid al-Baghdadi.
Penekanan utama dari diskusi ini adalah bahwa keikhlasan tidak cukup dipahami, tetapi harus dilatih dan dijalani. Mengosongkan kehendak diri (irādah nafs), ridha terhadap takdir, serta menyelaraskan keinginan dengan kehendak Allah adalah proses yang harus diwujudkan dalam tindakan.
Dengan bahasa sederhana, beliau mengingatkan tentang bahaya ego:
“Ngrayah hak e Gusti, ‘iku hake kulo Gusti’. Yen ora dipujo ora iso nerimo. Pendapate kudu dituruti. Kuwi gambaran wong sing dadi ‘abdul hawa’—nyembah hawa nafsune dhewe.”
Sebaliknya, orang yang berjalan dengan laku yang benar adalah mereka yang berusaha memuliakan orang lain, memberi manfaat, serta menghadirkan kebahagiaan bagi sesama tanpa menonjolkan diri.
Momen silaturahim Saifudin bersama keluarga pun semakin bermakna, karena tidak hanya menjadi ajang berkumpul, tetapi juga saling menguatkan dalam nilai keikhlasan dan praktik hidup yang nyata.
Diskusi santai ini turut direkam oleh Kang Saif, yang merangkum pesan penting dari Mbah Diq: bahwa kehidupan sejatinya bukan tentang mempertahankan ego, melainkan tentang menundukkan diri, ikhlas, dan hadir sebagai manfaat bagi orang lain.
Di akhir pesan, Mbah Diq berharap agar para tokoh masyarakat dan pemerintah dapat meneladani akhlak para salafus shalih yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga kuat dalam laku, penuh keikhlasan, dan rendah hati.
Ngopi sederhana pun dapat menjadi ruang pencerahan yang membumi, meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang hadir dan segenap pembaca media sosial ini yang akhirnya dapat bermanfaat bagi keluarga, bangsa dan negara. Amin
