Itikaf Ramadhan Ikhtiar Seorang Muslim dalam Meraih Lailatul Qodar
3 mins read

Itikaf Ramadhan Ikhtiar Seorang Muslim dalam Meraih Lailatul Qodar

nujateng.com – Sepuluh hari terakhir ramadhan waktu yang istimewa dan penuh keberkahan.

Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah ﷺ mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”

Demikian menurut lafaz Al-Bukhari.

Adapun lafaz Muslim berbunyi:
أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya.”

Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.”

Rasulullah ﷺ mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lain, di antaranya:

1. Menghidupkan malam
Ini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya.

Dalam Shahih Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
Diriwayatkan dalam hadits marfu’ dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali:
مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ صَحِيحًا مُسْلِمًا، فَصَامَ نَهَارَهُ وَصَلَّى وَِرْدًا مِنْ لَيْلِهِ، وَغَضَّ بَصَرَهُ، وَحَفِظَ فَرْجَهُ وَلِسَانَهُ وَيَدَهُ، وَحَافَظَ عَلَى صَلَاتِهِ فِي الْجَمَاعَةِ، وَبَكَّرَ إِلَى الْجُمُعَةِ، فَقَدْ صَامَ الشَّهْرَ وَاسْتَكْمَلَ الْأَجْرَ، وَأَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، وَفَازَ بِجَائِزَةِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى. قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ: جَائِزَةٌ لَا تُشْبِهُ جَوَائِزَ الْأُمَرَاءِ.
Barang siapa mendapati Ramadhan dalam keadaan sehat dan sebagai orang muslim, lalu puasa pada siang harinya dan melakukan shalat pada sebagian malamnya, juga menundukkan pandangannya, menjaga kemaluan, lisan, dan tangannya, serta menjaga shalatnya secara berjamaah dan bersegera berangkat untuk shalat Jum’at, sungguh ia telah puasa sebulan penuh, menerima pahala yang sempurna, mendapatkan Lailatul Qadar serta beruntung dengan hadiah dari Rabb Yang Maha Tinggi.”

2. Rasulullah ﷺ membangunkan keluarganya

Rasulullah ﷺ membangunkan keluarganya untuk shalat pada malam-malam sepuluh hari terakhir, sedang pada malam-malam yang lain tidak.

Dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu disebutkan:

أَنَّهُ ﷺ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ، وَخَمْسٍ وَعِشْرِينَ، وَسَبْعٍ وَعِشْرِينَ، وَذُكِرَ أَنَّهُ دَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ خَاصَّةً
Bahwasanya Rasulullah ﷺ melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak shalat keluarga dan istri-istrinya pada malam dua puluh tujuh (27).”

Ini menunjukkan bahwa beliau sangat menekankan dalam membangunkan mereka pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadar di dalamnya.

كَانَ ﷺ يُوقِظُ أَهْلَهُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَكُلَّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ يُطِيقُ الصَّلَاةَ
“Bahwasanya Rasulullah ﷺ membangunkan keluarganya pada sepuluh hari akhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat.”

Dan dalam hadits shahih diriwayatkan:

كَانَ يَطْرُقُ فَاطِمَةَ وَعَلِيًّا لَيْلًا وَيَقُولُ: أَلَا تَقُومَانِ فَتُصَلِّيَانِ
Bahwasanya Rasulullah ﷺ mengetuk pintu Fathimah dan Ali pada suatu malam seraya berkata: tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat?”
(HR Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga membangunkan Aisyah radhiyallahu ‘anha pada malam hari, bila telah selesai dari tahajjudnya dan ingin melakukan shalat witir.

Dan diriwayatkan adanya targhib (dorongan) agar salah seorang suami-istri membangunkan yang lain untuk melakukan shalat, serta memercikkan air di wajahnya (bila tidak bangun).

Dalam kitab Al-Muwaththa’ disebutkan dengan sanad shahih bahwasanya Umar radhiyallahu ‘anhu melakukan shalat malam seperti yang dikehendaki Allah, sehingga apabila sampai pada pertengahan malam, ia membangunkan keluarganya untuk shalat dan mengatakan kepada mereka:
“Shalat! Shalat!”
Kemudian membaca ayat ini:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا …
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.”
(Thaha: 132)

3. Bahwasanya Nabi ﷺ mengencangkan kainnya

Maksudnya beliau menjauhkan diri dari menggauli istri-istrinya. Diriwayatkan bahwasanya beliau tidak kembali ke tempat tidurnya sehingga bulan Ramadhan berlalu.

Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
Bahwasanya Nabi ﷺ senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau.”

Nabi ﷺ melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir yang di dalamnya dicari Lailatul Qadar, untuk menghentikan berbagai kesibukannya, mengosongkan pikirannya dan untuk mengasingkan diri demi bermunajat kepada Rabbnya, berzikir dan berdoa kepada-Nya.

Adapun makna dan hakikat i’tikaf adalah memutuskan hubungan dengan segenap makhluk untuk menyambung penghambaan kepada Al-Khaliq.

Mengasingkan diri yang disyari’atkan kepada umat ini yaitu dengan i’tikaf di dalam masjid-masjid, khususnya pada bulan Ramadhan, dan lebih khusus lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.***

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *