Semarak 10 Ramadhan, Warga Branggah Pererat Silaturahmi melalui Buka Bersama dan Pembacaan Manaqib

UNGARAN, NUJATENG.COM – Memasuki hari ke-10 bulan suci Ramadhan, suasana khidmat menyelimuti Masjid Raudhatul Taibin, Nyatnyono.
Para jamaah tampak antusias berdatangan memenuhi undangan takmir untuk mengikuti agenda rutin tahunan berupa buka puasa bersama sekaligus pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
Acara yang berlangsung di wilayah RT 02/08, Nyatnyono, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang ini dilaksanakan pada Sabtu (28/02/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi warga Branggah (RT 01, 02, dan 06) untuk memperkuat kemitraan spiritual dan sosial di tengah bulan mulia.
Menjaga Kerukunan Melalui Tradisi Spiritual
Wahyu Triatmoko Ketua RW 08, selaku pembawa acara sekaligus perwakilan takmir masjid, menegaskan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah persatuan.
Menurutnya, kerukunan antar warga merupakan fondasi utama lingkungan yang kondusif.
“Tujuan utama acara ini adalah mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan kualitas spiritual warga. Kondisi lingkungan yang selalu kondusif adalah harmoni yang harus terus kita pelihara bersama,” ujar Wahyu.
Edukasi Manaqib oleh Ustadz Abu Hanifah
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Abu Hanifah selaku Imam Masjid Raudhatul Taibin memberikan tausiyah singkat mengenai sejarah dan makna pembacaan Manaqib.
Beliau menjelaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar membaca riwayat hidup, melainkan upaya meneladani kesalehan tokoh besar Islam.
”Manaqib secara harfiah berarti riwayat hidup yang berisi kisah kebaikan dan karamah seseorang. Dalam hal ini, kita meneladani Syekh Abdul Qadir al-Jailani (1077–1166 M), pendiri Tarekat Qadiriyah,” jelas Ustadz Abu Hanifah.
Beliau merinci beberapa poin penting mengenai urgensi pembacaan Manaqib :
Tafa’ul (Mengharap Berkah): Mengharap agar pancaran kebaikan sang wali menular kepada pembaca dan pendengarnya.
Suri Teladan : Mengambil ibrah dari keteguhan ibadah, kejujuran, dan kedermawanan beliau.
Wasilah Doa: Menjadikan kisah hamba saleh sebagai perantara agar doa lebih diijabah oleh Allah SWT.
Pelestarian Tradisi di Nusantara
Ustadz Abu Hanifah juga memaparkan bahwa di Indonesia, tradisi manaqiban berkembang pesat melalui Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN).
Tradisi ini menjadi sarana dakwah yang efektif karena selaras dengan budaya guyub masyarakat lokal, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).
Pembacaan Manaqib di Masjid Raudhatul Taibin dipandu secara bergantian oleh :
Ustadz Maskur
Ustadz Sholekan
Ustadz Hasim
Ustadzah Halimah
Puncak Acara: Doa dan Buka Bersama
Rangkaian pembacaan Manaqib ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ustadz Abu Hanifah.

Setelah itu, suasana kebersamaan semakin terasa saat seluruh jamaah, mulai dari anak-anak santri Madin hingga jamaah ibu-ibu, melaksanakan buka puasa bersama.

“Sebagai penutup dari seluruh rangkaian acara, kami melaksanakan sholat maghrib berjamaah untuk menyempurnakan ibadah hari ini,” pungkas Ustadz Abu Hanifah.***
