Kyai Fadlolan Musyaffa’ Guncang Haflah Akhir Sanah Annuqayah 2026: Pesan “Habitus Santri” Jadi Sorotan Ribuan Jamaah

SUMENEP – Halaman Universitas Annuqayah penuh khidmat saat ribuan pasang mata tertuju pada satu sosok di atas panggung utama. DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA., Pengasuh Ponpes Fadhlul Fadhlan (Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf) Semarang, hadir memenuhi undangan sebagai pencramah dalam kegiatan Malam Puncak Haflah Akhir Sanah 2026 Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep Madura yang diasuh seorang kyai muda yang kharismatik Dr. KH. Mohammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum.
Membawa tema “Meneguhkan Habitus Santri”, Kyiai Fadlolan tidak hanya memberikan ceramah agama biasa, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang masa depan santri di tengah gempuran zaman. Membuka sesi, Kyiai Fadlolan mengajak seluruh santri dan jamaah mengirimkan bacaan Surah Al-Fatihah kepada muassis wa murobbi PP. Annuqayah yang telah berpulang mendahului.
Dalam mauidloh hasanah-nya, Kyiai Fadlolan menekankan bahwa menjadi santri bukan sekadar mengejar angka indeks prestasi. Beliau menegaskan bahwa esensi ilmu di pesantren terletak pada nilai berkah dan manfaat.
“Ilmu yang berkah itu nyata. Memiliki masa depan yang lebih panjang daripada sekedar gelar dan ijazah,” ujar Beliau. Menurutnya, keberkahan tersebut hanya bisa diraih melalui khidmah/pengabdian tulus kepada ilmu dan ahli ilmu (kiai/guru). Beliau mencontohkan tradisi roan atau kerja bakti sebagai bentuk nyata mencari tabarrukan (keberkahan) untuk menjaga kebersihan misalnya sebagai bentuk ikhtiar menciptakan lingkungan bersih, rapi, indah, nyaman, sekaligus ketenangan hati penghuni pesantren.
Salah satu pembahasan yang paling menarik perhatian jamaah adalah ketika Yai Fadlolan mengutip seruan Sayyidina Umar bin Khattab ra. yang menyerukan kepada untuk belajar berenang dan memanah:
علموا أبناءكم السباحة والرماية وركوب الخيل
“Latihlah anakmu berenang, memanah dan berpacu kuda.” Dalam konteks kekinian, metafora ini memiliki makna yang sangat dalam.
“Sayyidina Umar mengisyaratkan kepada generasi yang akan datang akan dihadapkan pada kehidupan yang sulit, bagaikan hidup di laut dengan deburan ombak besar. Manusia dihadapkan dengan kehidupan yang tidak menentu – kondisi politik yang bergejolak, degradasi moral, dan masa digital candu gadget yang membuat lalai generasi masa kini,” jelasnya.
Berenang, diartikan sebagai daya tahan mental dan benteng diri agar tidak terbawa arus zaman. Memanah, disimbolkan sebagai konsentrasi dan fokus pada tujuan dan sasaran. Misalnya seorang pelajar harus konsentrasi penuh dalam belajar agar tepat waktu tujuan dan sasaran serta mencapai cita-cita. Kyiai juga mendorong para santri untuk berani bermimpi memiliki cita-cita yang tinggi, bahkan hingga ke luar negeri, guna memperluas wawasan pemikiran. Merujuk pada Kitab Ta’lim Muta’allim,
فَيَنْبَغِي لِطَالِبِ العِلْمِ أَنْ يَكُونَ ذَا هِمَّةٍ عَالِيَةٍ فِي العِلْمِ
Kyiai Fadlolan mendorong santri untuk memiliki Himmah Aliyah atau cita-cita yang setinggi langit.
Testimoni pribadi yang dibagikan Kyai Fadlolan membuat jamaah semakin terpaku. Beliau menceritakan pengalamannya selama 17 tahun hidup di Mesir, kuliah sambil bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia Cairo di bagian Protokol Konsuler, hingga menorehkan segudang prestasi. Hal itu menujukkan bukti nyata bahwa berkah, manfaat ilmu dan mengantongi ridho kyiai memiliki masa depan lebih panjang daripada ijazah.
Suasana malam puncak tersebut terasa sangat hidup. Meski waktu terus beranjak malam, ribuan santri, wali santri, dan partisipan yang hadir tetap bertahan. Bahkan, saking antusiasnya, banyak jamaah yang meminta durasi ceramah diperpanjang karena merasa pesan-pesan yang disampaikan sangat menyentuh realitas kehidupan.
Kyiai Fadlolan menutup dengan pesan krusial: “Luruskan niat. Belajarlah untuk mendapatkan ilmu yang berkah, bukan sekadar mengejar gelar dan ijazah untuk sekedar bisa cari kerja.”
