Demi Mengejar Cinta Illahi, Ada Sebuah Kisah Seorang Raja yang Meninggalkan Tahtanya

nujateng.com – Kisah seorang raja yang biasanya identik dengan kemewahan, kekuasaan tanpa batas, dan harta yang melimpah.
Namun, sejarah Islam mencatat sebuah riwayat yang sangat menyentuh hati tentang seorang penguasa yang justru memilih meninggalkan segala kemegahan dunia demi fokus beribadah kepada Allah SWT.
Riwayat ini bersumber dari hadis yang dibawakan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan telah dishahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah (no. 2833) dari sahabat Abdullah bin Mas’ud.
Kesadaran akan Kefanaan Kekuasaan
Pada zaman dahulu, hidup seorang raja di dalam istananya yang megah.
Di tengah kemuliaannya, ia mulai merenung dan menyadari satu kebenaran mutlak, bahwa kerajaannya pasti akan hilang dan kedudukannya selama ini telah melalaikan dirinya dari beribadah kepada Rabb-nya.
Kesadaran inilah yang menjadi titik balik hidupnya.
Pada suatu malam, secara diam-diam ia pergi meninggalkan istana tanpa membawa pengawal maupun kemewahan.
Menjadi Pembuat Batu Bata di Negeri Orang
Keesokan harinya, sang raja telah sampai di wilayah kekuasaan raja lain.
Ia menuju ke tepi pantai dan memulai hidup baru sebagai orang biasa. Untuk menyambung hidup, ia bekerja sebagai pembuat batu bata.
Dari hasil keringatnya sendiri, ia mengambil upah secukupnya untuk makan, sementara sisanya ia sedekahkan kepada orang lain.
Ketekunan ibadah dan kedermawanannya ini akhirnya terdengar oleh raja yang berkuasa di daerah tersebut.
Pertemuan Dua Penguasa di Jalan Allah
Raja setempat sempat mengirim utusan untuk memanggilnya, namun ia menolak.
Akhirnya, sang raja sendiri yang datang menemuinya dengan mengendarai kendaraan kerajaan.
Saat melihat kemewahan itu datang, pembuat batu bata ini sempat berusaha lari, namun akhirnya berhenti ketika sang raja memanggilnya dengan lembut.
Dalam dialog yang mengharukan, ia mengakui identitas aslinya:
”Aku adalah Fulan bin Fulan, mantan raja… Aku menyadari bahwa kekuasaan yang aku miliki pasti akan hilang dan telah menyibukkanku dari beribadah kepada Rabb-ku.”
Mendengar pengakuan tersebut, sang raja yang menemuinya justru merasa tersentuh dan berkata bahwa ia pun membutuhkan apa yang dilakukan oleh pembuat batu bata tersebut.
Akhirnya, raja kedua tersebut ikut turun dari kendaraannya, melepaskan dunianya, dan keduanya memilih hidup bersama untuk beribadah kepada Allah.
Akhir Hayat yang Mulia
Kedua mantan penguasa ini menghabiskan sisa hidup mereka dalam ketaatan hingga maut menjemput mereka secara bersamaan setelah berdoa agar diwafatkan oleh Allah.
Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa jika beliau berada di tanah berpasir di Mesir, beliau bisa memperlihatkan kubur keduanya berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah SAW.
Pelajaran dari Kisah Seorang Raja Ini
Kekuasaan adalah Amanah
Jabatan setinggi apa pun bersifat sementara dan tidak boleh melalaikan kita dari tujuan utama hidup, yaitu beribadah.
Keutamaan Tawakal
Meninggalkan dunia bukan berarti malas, melainkan memindahkan ketergantungan hati dari makhluk kepada Sang Khaliq.
Pengaruh Kesalehan
Keikhlasan seseorang dalam beribadah dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk ikut berubah menuju kebaikan.
Semoga kisah seorang raja ini menginspirasi kita untuk selalu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat.***
