Mbah Dur: “Rezeki Itu Wis Ono Jatahe,” Cerita Seru Doa Bersama Tim Media di Ungaran

UNGARAN, nujateng.com – Suasana Sabtu (27/12/2025) kemarin di kawasan Nyatnyono, Ungaran, terasa begitu hangat. Tim nujateng.com bersama Pemimpin Redaksi, Ali Arifin, berkumpul di Pendopo nujateng.com yang juga merupakan kantor DPW FKDT Jawa Tengah.
Acara dimulai sejak pukul 10.00 WIB yang dibuka langsung oleh Ali Arifin, kegiatan diawali dengan dzikir singkat dan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Abdul Rahman, atau yang akrab disapa Mbah Dur. Sosok yang dikenal bersahaja ini tetap pada prinsipnya: enggan dipanggil dengan sebutan “Kyai” karena merasa dirinya masih seorang murid yang terus belajar.
Pelajaran Syukur dari Si Tukang Kendi
Setelah shalat Dzuhur berjamaah, suasana menjadi sangat cair dengan diskusi santai yang humoris. Cerita yang paling membuat tim tertawa lepas adalah kisah penjual kendi celengan. Mbah Dur menceritakan seorang penjual yang mengeluh karena pembeli kendinya malah mendapat uang ratusan juta saat kendi itu dipecah di rumah.
Si penjual yang iri lantas membanting semua stok kendi dagangannya sendiri, yang ternyata isinya kosong semua. “Itu gambaran orang yang kurang bersyukur,” ujar Mbah Dur yang disambut tawa kompak tim. Pesannya sangat menyentuh: jika kita terus melihat rezeki orang lain, hati akan selalu merasa kurang meski kita sendiri sebenarnya sudah diberi kecukupan. Sang Pimred, Ali Arifin, bahkan menyebut wejangan Mbah Dur siang itu “ibarat daging semua” karena saking berbobotnya.

“Panjenengan Tidak Sendirian”
Di tengah cerita inspiratif tersebut, Mbah Dur sempat menyampaikan keprihatinannya dalam perjuangan mengelola sistem di Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Jawa Tengah. Mendengar hal itu, suasana menjadi hangat saat tim memberikan penguatan moral kepada beliau.
Tim menegaskan komitmen untuk membantu mengawal amanah tersebut. “Panjenengan sekarang tidak bekerja sendirian, kami siap membantu apa yang menjadi tanggung jawab dan amanah ini,” tegas salah satu anggota tim.
Tutup dengan Ziarah
Setelah puas berdiskusi, tim kemudian melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Kegiatan ditutup dengan ziarah ke makam Mbah Hasan Munadi sebagai bentuk penghormatan kepada sesepuh sekaligus ngalap berkah.
Selepas ziarah, tim berpamitan untuk pulang. Mbah Dur pun berpesan agar silaturahmi ini jangan sampai putus. “Kapan-kapan disambung lagi, bisa dengan kegiatan mujahadah atau yang lain,” pungkasnya. Momen Sabtu kemarin benar-benar menjadi sarana recharging bagi tim—sebuah perjalanan singkat memahami arti syukur dan ikhlas yang disampaikan dengan cara yang sangat ringan dan menyenangkan.

