Ngopi, Ngobrol, Bedah Kasus Sihir: Share Pengalaman Ruqyah
- SALATIGA – nujateng.com – Masjid Pondok Pesantren Salafiyah, Blotongan hari ini menjadi saksi berlangsungnya kegiatan NGOBRAS Part 2, sebuah forum santai namun sarat ilmu yang mengangkat tema ruqyah, sihir, dan berbagai persoalan spiritual yang sering dijumpai masyarakat. Acara ini diprakarsai oleh Gus Mukarom, Ketua JRA (Jam’iyah Ruqyah Aswaja) Salatiga dengan menghadirkan narasumber utama Mas Arief Syaifuddin Huda, penulis buku ‘Sihir di Nusantara’ sekaligus pengasuh Majelis Ruqyah Rutin Ahad Pahing, Jombang.
Dalam pemaparannya, Gus Arif memberikan penjelasan mendalam mengenai konsep ruqyah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau menegaskan bahwa ruqyah adalah terapi aplikatif yang bisa dikombinasikan dengan terapi lain seperti bekam, pijat, akupuntur dan lain sebagainya. “Ruqyah yang diajarkan Rasulullah itu sangat sederhana, tidak rumit, dan memiliki banyak metode,” jelasnya. Di antaranya adalah bila tidak bisa dilakukan secara langsung, ruqyah bisa melalui media air, madu, herbal, serta media lain. Tentu semuanya diiringi doa dan harapan yang hanya ditujukan kepada Allah SWT.
Dalam acara tersebut, antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul. Salah satu audiens mengajukan pertanyaan: “Mengapa ketika ruqyah orang lain hasilnya manjur, tetapi ketika meruqyah keluarga sendiri kok tidak maksimal?”
Gus Arief menjawab, “Itu biasanya karena kurang yakin. Padahal jelas, tidak ada doa untuk anak yang lebih dari dia orang tuanya. Maka sangat bermanfaat jika orang tua meruqyah anaknya, suami meruqyah iatrinya, demikian sebaliknya.”
Pada sesi berikutnya, Gus Arief membedah isi buku Sihir di Nusantara dan menjelaskan berbagai metode penyembuhan yang diambil dari referensi kitab-kitab klasik.
Beliau menyampaikan bahwa dalam Sunan Ibnu Majah dijelaskan manfaat kayu gaharu, baik berupa maupun serbuk kayu yang dibakar (bukhur). “Dengan izin Allah, terapi sederhana seperti itu dapat menjadi jalan kesembuhan penyakit paru-paru” ungkapnya.
Selain tentang ruqyah, Gus Arief juga berbagi pengalaman unik. Orang yang diruqyah minta dirinya diberi aneka persajian dan selamatan agar setan yang mengganggunya pergi.
Gus Arief menjelaskan bahwa tradisi slametan yang diajarkan Sunan Kalijaga harus dipahami secara benar agar tidak melenceng, membahayakan aqidah dan mengarah pada kemusyrikan. Pernak-pernik selamatan sejatinya adalah simbol-simbol permohonan kepada Allah Ta’ala. Tumpeng misalnya, adalah simbol dari cita-cita yang luhur. “Babakane aqidah kuwi penting sanget, ojo nganti salah paham,” tegasnya.
Sesi tanya jawab kembali menghangat ketika seorang peserta mengeluhkan anaknya yang kecanduan handphone meski sudah dinasehati dan diruqyah berkali-kali.
Menanggapi hal itu, Gus Arief menyampaikan dengan tegas namun santun:
“Nyuwun sewu, kecanduan handphone pada anak biasanya berawal dari orang tuanya. Wong tuwane sibuk bermain media sosial, bikin status disana-sini, anak akhirnya meniru.”
Beliau juga mengingatkan, pernah memiliki pengalaman menangani kasus anak kelas 2 SMP yang sampai terjerumus pada sindikat pornografi internasional akibat penggunaan handphone tanpa pengawasan.
Solusi yang ditawarkan Gus Arief adalah perubahan pola asuh:
Orang tua harus mengurangi intensitas bermain handphone di depan anak dan memberi penjelasan bahwa orang tua memegang handphone untuk bekerja, bukan bermain.
Orang tua juga perlu mengalihkan perhatian anak kepada handphone pada aktivitas positif dan bermanfaat. Seperti melukis, bermain musik, bongkar pasang sepeda atau lainnya. Aktivitas ini selain mengurangi pengaruh handphone juga bertujuan meningkatkan kecerdasan visual, musikal dan teknis anak.
Kegiatan NGOBRAS Part 2 ini berlangsung penuh antusiasme. Para peserta menyambut baik kehadiran Gus Arief yang menyampaikan materi secara detail, lugas, dan mudah dipahami, terutama dalam hal kesehatan lahir batin serta problematika sosial yang semakin relevan dengan kehidupan modern.
Acara ditutup dengan doa bersama dan harapan agar kegiatan seperti ini dapat membawa berkah manfaat menambah wawasan umat dalam menghadapi tantangan spiritual masa kini dan masa mendatang. ***
