By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Reading: Menjaga Akhlak di Era Krisis Moral Digital: Ketika Jari Lebih Tajam dari Pedang
Share
Font ResizerAa
Search
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Have an existing account? Sign In
Follow US
Home » Blog » Menjaga Akhlak di Era Krisis Moral Digital: Ketika Jari Lebih Tajam dari Pedang
Menjaga Akhlak di Era Krisis Moral Digital: Ketika Jari Lebih Tajam dari Pedang
Artikel

Menjaga Akhlak di Era Krisis Moral Digital: Ketika Jari Lebih Tajam dari Pedang

Dwi Widiyastuti
Last updated: November 18, 2025 4:20 am
Dwi Widiyastuti
Published: November 18, 2025
Share
Menjaga Akhlak di Era Krisis Moral Digital: Ketika Jari Lebih Tajam dari Pedang
SHARE

NUJATENG.COM – Teknologi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Hampir setiap hari mata terpaku pada layar ponsel, menyaksikan arus informasi yang tidak pernah berhenti. Media sosial bukan hanya ruang sosialisasi, tetapi juga ladang yang kerap disalahgunakan untuk menyebar emosi negatif, provokasi, bahkan dosa yang terselubung di balik sentuhan jari.

Contents
Media Sosial dan Tantangan Baru Akhlak UmatTafsir Ulama: Betapa Besarnya Dosa Menghina SesamaMenghina Orang yang Sudah Bertobat, Dosa yang Mengundang DosaDigital Etiquette: Menjaga Lisan di Era JempolMedia Sosial Sebagai Ujian KeimananKembali ke Akhlak, Kembali ke Kebaikan

Di tengah kemudahan itu, umat Islam berhadapan dengan tantangan besar:
bagaimana menjaga akhlak ketika moral publik kian tergerus oleh budaya saling menghina?

Islam menempatkan akhlak sebagai fondasi utama kehidupan. Rasulullah SAW bahkan menegaskan:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.” (HR. Al-Baihaqi)

Media Sosial dan Tantangan Baru Akhlak Umat

Di media sosial, menghina lebih mudah daripada menegur secara baik. Setiap orang bebas berbicara, bahkan tanpa identitas. Akibatnya, budaya saling meremehkan menjadi tontonan biasa. Padahal, Allah telah memperingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 agar umat tidak mengolok-olok satu sama lain karena boleh jadi yang dihina justru lebih mulia di sisi Allah.

Ayat tersebut menegaskan tiga larangan utama:

  1. Tidak mengejek kaum lain
  2. Tidak mencela atau merendahkan sesama
  3. Tidak memanggil seseorang dengan julukan buruk

Peringatan ini bukan sekadar etika. Ini adalah benteng akhlak, terlebih di era digital di mana penghinaan bisa menyebar dalam hitungan detik.

Tafsir Ulama: Betapa Besarnya Dosa Menghina Sesama

Dalam Marah Labid, Syekh Nawawi Al-Bantani menegaskan bahwa QS. Al-Hujurat ayat 11 adalah perintah eksplisit untuk menjaga lisan, menghormati sesama, dan mencegah saling merendahkan. Menurut beliau, orang yang dihina bisa jadi memiliki kedudukan lebih tinggi di sisi Allah dibanding yang menghina.

Larangan ini berlaku untuk seluruh kaum, termasuk laki-laki dan perempuan.

Menghina Orang yang Sudah Bertobat, Dosa yang Mengundang Dosa

Islam sangat melarang seseorang menghina orang lain yang telah bertaubat. Bahkan Rasulullah SAW memperingatkan:

“Barang siapa mencela saudaranya atas dosa yang telah ia tobati, maka ia tidak akan mati sebelum melakukan dosa itu.” (HR. Tirmidzi)

Betapa berat konsekuensinya. Menghina seseorang dapat menjadi sebab seseorang terjerumus pada dosa serupa.

Digital Etiquette: Menjaga Lisan di Era Jempol

Ketika seseorang menekan tombol post, comment, atau share, itu sama saja seperti berbicara langsung. Karenanya, setiap ujaran harus mempertimbangkan:

  • Apakah mengandung unsur merendahkan?
  • Apakah bisa menyakiti hati orang lain?
  • Apakah melanggar syariat menjaga lisan?

Media Sosial Sebagai Ujian Keimanan

Di dunia digital, seseorang bisa saja:

  • mengolok-olok fisik orang lain,
  • menyebar aib,
  • memanggil orang dengan sebutan buruk,
  • atau menghina tokoh agama dan sesama muslim.

Semua itu termasuk akhlak tercela yang sangat dikecam dalam Islam. Keimanan seseorang kini terlihat dari bagaimana ia menahan diri di ruang publik digital.

Kembali ke Akhlak, Kembali ke Kebaikan

Krisis moral digital bukan masalah kecil. Ini adalah fenomena global yang menggerus karakter umat tanpa disadari. Rasulullah SAW telah menunjukkan bahwa akhlak adalah puncak ajaran Islam. Umat Islam wajib menjaga diri dari dosa dunia maya seperti ujaran kebencian, sindiran kasar, dan penghinaan terhadap sesama.

Mari jadikan teknologi sebagai sarana kebaikan, bukan tempat menyebarkan kemarahan.
Mari rawat akhlak, mulai dari jempol sendiri.

Semoga Allah menjaga kita dari fitnah perkataan dan menjadikan kita hamba yang senantiasa memelihara lisan—baik di dunia nyata maupun di dunia digital.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Khutbah Jumat: Menjaga Akhlak di Tengah Krisis Moral Digital

You Might Also Like

MTQ Nasional 2026, Jawa Tengah Siap Menjadi Tuan Rumah
Murka Allah Lebih Dahsyat dari Neraka, Ini Penjelasan dari Prof Sholihan
Imam Baca Shalat Terlalu Panjang? Ini Penjelasan Sunnah dan Ketentuan Ulama yang Sering Disalahpahami!
Dahsyatnya Kekuatan Sedekah, Kisah Nyata Orang Miskin Menjadi Kaya Berkah
Do’a Ketika Membutuhkan Uang dengan Cepat, Amalan dari KH. Maimun Zubair untuk Kemudahan Rezeki
TAGGED:akhlakamar_maruf_nahi_munkardigitalIslamkhutbahmedia_sosialujaran_kebencian
Share This Article
Facebook Email Print
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

  • ES Money
  • U.K News
  • The Escapist
  • Insider
  • Science
  • Technology
  • LifeStyle
  • Marketing

About US

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

Subscribe US

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?