Sedekah sebagai Penyelamat Kesalehan dan Persaudaraan
Oleh: Ahmad Rofiq*)
nujateng.com – Beberapa hari yang lalu ada video, yang sepertinya berada di daerah Bengkulu, beberapa petugas yang mengenakan seragam pegawai, ketika ingin memberikan bantuan sosial, menempelkan tulisan di jendela rumahnya, tulisan keluarga miskin.
Setelah itu mereka ramai-ramai mengundurkan diri, rela dan merasa lebih baik dan terhormat tidak menerima bantuan dari pada rumahnya ditempeli tulisan besar keluarga miskin.
Bahkan ada seorang guru besar yang menimpali, bahwa itu praktik yang melanggar hak azasi manusia.
Oleh karena itu, sebagai hamba Allah yang dititipi dengan karunia yang lebih dari yang kita butuhkan, maka sebaiknya kita bisa bersedekah kepada saudara kita yang membutuhkan.
Namun demikian, kita yang memberi juga tidak dibenarkan mengikutinya dengan sikap dan prilaku yang bermuatan merendahkan saudara kita yang menerimanya.
Saudaraku yang dimuliakan Allah!
Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan kita, bahwa “perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang mereka infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), bagi mereka pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih”.
Allah memerintahkan kita sebagai hamba bergegar untuk mendapatkan pengampunan dan surga-Nya, yang sudah disiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.
Indikator ketaqwaan itu adalah:
1). Mereka yang menginfakkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit,
2). orang-orang yang menahan amarahnya.
3). memaafkan (kesalahan) orang lain.
Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan (QS. Ali Imran: 134). Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (QS. Ali Imran: 135).
Sedekah selainAllah lipatgandakan balasannya, dengan 700 kali lipat, sedekah ini akan dapat terus mengalir pahalanya hingga kita nanti berada di alam barzakh.
Kita semua ini ibaratnya, nunggu panggilan, dan tidak ada satu pun yang tahu misteri dan rahasia Allah. kematian tidak pernah meminta syarat apapun, termasuk harus sakit atau syarat lainnya. Dalam QS. Al-Munafiqun: 10 Allah mengingatkan:
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”
Semua aktivitas dan ibadah kita akan berhenti dan selesai ketika ajal kita tiba. Kecuali tiga hal, yang pertama adalah, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mau mendoakan kedua orang tuanya (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).
Oleh karena itu, selagi kita masih produktif, marilah kita sisihkan sedekah, dari yang wajib berupa zakat, yang sunnah, seperti wakaf, infak, dan sedekah lainnya, karena harta yang kita sedekahkan itu yang akan kita bawa mati. Ia akan menjadi pendamping kita kala kita sudah berada di alam qubur atau alam barzakh.
Sedekah jika tidak terbiasa, boleh jadi hati dan fikiran kita terasa berat, akan tetapi bagi yang sudah terbiasa, sedekah akan menjadi kebutuhan kita, karena kita sadar bahwa dengan sedekah itu, kita berinvestasi untuk masa depan kita yang abadi, setelah melalui masa-masa hidup di dunia yang penuh tipuan dan kesenangan yang semu.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rizqi yang berkah, menafkahi keluarga untuk bekal ibadah, dan diringankan untuk bersedekah jariyah, agar kelak mengalir pahalanya secara berlimpah, dan Allah melimpahi kita ampunan dan maghfirah. Amin.***
*)Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Wakil Ketua Harian Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Pusat, Ketua Bidang Pendidikan DP Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Ketua II Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Direktur LPH-LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW-DMI) Jawa Tengah, Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung Semarang, Anggota DPS BPRS Bina Finansia Semarang, dan Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang.
