
SEMARANG –Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF), Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang, menggelar peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-8 PPFF yang bertepatan dengan Haul ke-7 Almaghfurlah KH. Maimoen Zubair pada Kamis (6/8/2026). Momentum ini menjadi pengingat bahwa berdirinya PPFF tidak dapat dipisahkan dari doa, restu, dan dhawuh ulama kharismatik yang akrab disapa Mbah Moen tersebut.
Jauh sebelum PPFF berdiri, Pendiri dan Pengasuh PPFF, Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., M.A., telah memiliki cita-cita mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan yang memadukan penguasaan ilmu agama, karakter salaf, dan wawasan global. Setelah menyelesaikan pengabdiannya di Mesir, beliau memboyong keluarga kembali ke Indonesia pada 11 Agustus 2010. Meski telah meraih berbagai pencapaian akademik dan dakwah di Negeri Seribu Menara, Kyai Fadlolan memilih pulang demi berkhidmah membangun bangsa melalui pendidikan.
Pada tahun 2012, Kyai Fadlolan sowan kepada Almaghfurlah KH. Maimoen Zubair untuk memohon restu mendirikan pondok pesantren. Namun, saat itu Mbah Moen belum memberikan izin. Beliau justru memberikan dhawuh agar Kyai Fadlolan mendirikan pesantren ketika memasuki usia 49 tahun, sebagaimana beliau sendiri memulai perjuangan membangun pesantren pada usia tersebut. Dawuh itu diterima dengan penuh tawaduk dan dijadikan pedoman oleh Kyai Fadlolan.

Empat tahun kemudian, saat usia 46 tahun Kyai Fadlolan kembali sowan kepada Mbah Moen. Kali ini, beliau matur bahwa usianya sudah hampir 49 tahun, dan memperoleh restu yang dinantikan. Restu tersebut menjadi titik awal berdirinya PPFF. Pada 16 Syawal 1437 H atau 16 Juli 2016, peletakan batu pertama pembangunan pesantren dilaksanakan oleh Almaghfurlah KH. Ahmad Hasyim Muzadi, KH. Ahmad Darodji, KH Ahmad, dengan iringan doa dan keberkahan dari KH. Maimoen Zubair. Pembangunan asrama dimulai pertengahan 2017 namun terkendala tidak ada akses jalan memasukkan material. Alhamdulillah perjuangan yang rumit terlampaui awal 2018 bisa membeli akses 4 m sepanjang jalan masuk dari jln Robyong dan baru bisa melanjutkan pembangunan, yang akhirnya tepat pada 26 Agustus 2018, Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan resmi berdiri dan diresmikan oleh Wakil Gubernur Jawa, Gus Taj Yasin Maimoen. Satu tahun berikutnya tepatnya 6 Agustus 2019 Syaekhona KH Maimoen Zubair, wafat di Makkah saat menunaikan ibadah haji. Makan harlah PPFF dan haul Syaekhona Maimun Zubair terpaut satu tahun.

Sejak awal dibuka, PPFF langsung ditempati 200 santri. Dalam perjalanan delapan tahun, PPFF terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang menaungi sekitar 1600 santri dengan jenjang pendidikan RA Al Hidayah, MI Al Musyaffa’, MTs Al Musyaffa’, MA Al Musyaffa’, SMK Al-Musyaffa’, Ma’had Aly Fadhlul Fadhlan, dan dalam proses berdiri STAI Al-Musyaffa’ Semarang, disertai 3 program unggulan yakni, program bilingual Arab-Inggris, program pendalaman Kitab Kuning, serta program Tahfidh Al-Qur’an 30 juz dalam waktu 6 bulan.

Peringatan Harlah ke-8 PPFF yang bertepatan dengan Haul ke-7 KH. Maimoen Zubair menjadi momentum untuk mengenang jasa dan keteladanan sang guru. Bagi keluarga besar PPFF, Mbah Moen bukan hanya sosok ulama besar, tetapi juga guru yang melalui doa, restu, dan dhawuhnya telah membuka jalan lahirnya Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan. Semangat keilmuan, keikhlasan, dan pengabdian yang diwariskan beliau terus menjadi ruh dalam perjalanan PPFF untuk mencetak generasi ulama, intelektual, dan pemimpin bangsa yang berakhlakul karimah.
(Rihanah-Santri PPFF***)
