
SEMARANG – Suasana khidmat saat Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang menggelar agenda tahunan Penguatan Karakter dan Bimbingan Mental bagi Santri Baru Tahun Ajaran 2026/2027. Acara seperti ini setiap tahun menghadirkan Ustadz Yus Ibnu Yasin, seorang konsultan SDM dan motivator nasional, guna mengawali masa transisi serta ta’aruf para santri di lingkungan barunya.
Acara diawali dengan ice breaking seru yang mencairkan kecanggungan antar santri baru. Ustadz Yus mengajak santri menganalogikan proses mondok seperti pembuatan kue klepon; butuh racikan bahan yang pas untuk menghasilkan kualitas terbaik. Dalam kehidupan pesantren, bahan baku tersebut mewujud dalam fondasi akhlak dan adab yang utama, kemampuan kolaborasi untuk beradaptasi, dan kesungguhan dalam belajar.
Lebih dalam, Ustadz Yus menekankan rekonstruksi mindset dengan menanamkan kesadaran bahwa santri sedang dibentuk bukan dibuang, menemukan arti sejati seorang santri, serta mengenali potensi terbaik dalam diri.

Memasuki sesi renungan, tangis haru para santri pun pecah. Isak tangis tersebut menjadi simbol pelepasan ego sekaligus penguat tekad meski harus jauh dari orang tua, saat menangis seru itulah setiap santri harus menulis ikrar diri menuliskan janji untuk dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari selama menuntut ilmu. Kertas tulisan ikrar tersebut disimpan di Al-quran atau tempat tethormat agar setiap tidak konsisten bisa melihat janji dan ikrar saat air mata bercucuran menjadi saksi bisu. Tulisan tersebut menjadi cambuk saat semangat pudar dan dengan membaca ulang tulisan tersebut mereka akan nyaman tinggal di PPFF mengemban misi mulia untuk mengangkat derajat ayah dan bunda di dunia-akhirat dan menjadi ahli ilmi dan amali.

Acara dipungkasi dengan orasi motivasi yang membakar semangat. Ustadz Yus berpesan agar para santri tidak sekadar menjalani rutinitas bangun, mengaji, dan tidur, melainkan tumbuh menjadi anak panah yang melesat untuk mewujudlam mimpi tinggi. Hal demikian sejalan dengan wejangan Dr KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA: “Cita-cita tidak akan terwujud dengan sendirinya, tetapi akan datang apabila seseorang bersungguh-sungguh berusaha untuk meraihnya”.
Air mata yang tumpah malam itu menjadi benih kesiapan bagi para santri baru PPFF Semarang untuk meluruskan niat dan berproses menjemput keberhasilan masa depan. Allahumma Amim🤲✨
