Redaksi nujateng.com dan Penasihat Gelar Doa Bersama, Guyon Maton, hingga Ziarah Waliyullah di Nyatnyono Ungaran
UNGARAN – nujateng.com – Jajaran wartawan nujateng.com dipimpin Pimred (Ali Arifin) menggelar acara doa bersama di Kantor nujateng.com yang sekaligus Kantor DPW FKDT Jawa Tengah, kawasan Nyatnyono, Ungaran.
Kegiatan diawali dengan shalat Dzuhur berjamaah, dilanjut doa bersama yang dipimpin Kyai Abdul Rohman (Mbah Yai Dur).
Suasana doa terasa khusyuk, tapi selepas itu acara berubah hangat dan cair. Jamaah dan awak media larut dalam ramah tamah, diskusi ringan, dan guyon maton yang penuh makna. Meski banyak tawa, pesan yang disampaikan tetap ngena dan menyentuh kehidupan sehari-hari.
Dalam obrolannya, Kyai Abdul Rohman membagikan cerita-cerita nyata jamaah mujahadah. Ada yang tanahnya akhirnya laku, ada yang dimudahkan rezekinya berupa uang. Namun beliau menegaskan, semua itu tidak untuk dibanding-bandingkan. “Rezeki sudah ada jatahnya masing-masing, jadi tidak perlu ngiri,” pesannya.
Salah satu cerita yang paling bikin jamaah tersenyum bahkan tertawa lepas adalah kisah kendi celengan. Dikisahkan seorang penjual kendi yang awalnya menjual seharga Rp50 ribu, lalu dinaikkan jadi Rp100 ribu. Tapi si penjual justru mengeluh ketika tahu pembelinya malah dapat uang sampai ratusan juta setelah kendi itu dipecah di rumah.
Sementara saat si penjual mencoba membanting kendi-kendi miliknya sendiri, isinya kosong semua.
“Itu gambaran orang yang kurang bersyukur,” ujar Kyai Abdul Rohman, disambut tawa jamaah. Intinya, meski sudah untung, kalau masih melihat rezeki orang lain, hati tetap saja terasa kurang.
Beliau juga menyelipkan kisah inspiratif Kanjeng Syekh Abdul Qodir yang tidak mau dipanggil kyai karena merasa tidak punya murid, tapi justru punya banyak guru. Ditambah guyon ala Mbah Dur tentang bakul celengan, suasana makin cair sampai awak media guyu lakak-lakak, tapi tetap pulang membawa pelajaran hidup.
Setelah puas berdiskusi dan guyon maton, jamaah kemudian melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Kegiatan ditutup dengan ziarah ke makam Mbah Hasan Munadi, sebagai bentuk penghormatan kepada para sesepuh sekaligus ngalap berkah lewat doa.
Kegiatan sederhana ini menjadi momen silaturahmi yang hangat, penuh tawa, tapi juga sarat makna tentang syukur, ikhlas, dan menerima ketentuan Allah dalam kehidupan sehari-hari.***
