Pertanian Ramah Lingkungan, Meningkatkan Produkfitas Hasil dengan Tetap menjaga Keseimbangan Alam

KENDAL (nujateng.com) – Program edukasi dan mentoring pertanian Ramah Lingungan yang damping oleh Kang Ayis hari ini selalu digelar di kediamannya di Dusun Tlodas, Desa Pesaren, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal. Acara ini menarik partisipasi dari petani dan pegiat pertanian dari Sukorejo , Weleri, Kendal, Semarang, dan wilayah sekitarnya.
Fokus Utama: Petani tidak hanya Benar dalam menanam tapi Harus Ideal dalam berbudidaya
Dalam sesi yang berfokus pada pertanian berkelanjutan, Kang Ayis memaparkan secara rinci Filosofi dasar tentang pertanian ramah lingkungan, mulai dari Dasar dasar pembibitan tanaman budidaya, perawatan, penanggulangan hama, dan seluruh masalah pertanian, materi ini diajarkan secara bertahap, dan setiap dua minggu sekali petani selalu mendapatkan materi baru baik teori maupun praktek di lapangan.
Kelompok ini juga diajarkan memperbanyak microba dan pupuk organic, mulai perbanyakan Nitrobacter sebagai penambat nitrogen, PGPR, maupun microba decomposer lainnya, serta diajarkan bagaimana mempergunakannya di lahan.
”Pupuk yang kami buat sangat pekat. Dari satu liter pupuk, kita bisa mengencerkannya hingga 50 liter artinya satu liter bisa dipakai untuk 3 tangki ukuran 16 liter, dan tidak perlu membeli tapi memperbanyak sendiri dengan biaya murah, bahkan mendekati 0 rupiah,” jelas Kang Ayis , dengan menekankan penggunaan pupuk pabrikkan, maka hal ini dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Metode pengendalian hama juga dibahas, salah satunya adalah dengan menanami berbagai jenis daun lokal di sekitar lahan, yang berfungsi sebagai penangkal hama alami. Kang Ayis mendorong petani untuk beralih ke praktik ini demi hasil panen yang lebih sehat dan biaya produksi yang lebih rendah.
Diskusi Hangat Lahan dan Peluang Edukasi
Diskusi juga menyoroti aspek ekonomi, di mana keuntungan terbesar, terutama di perkotaan, kini bergeser dari hasil panen ke penjualan edukasi dan workshop pertanian.
Pak Edi dari Kendal menyambut baik inisiatif ini namun menyoroti kendala lahan dan biaya perawatan yang tinggi di area Sukorejo/Batuan. Ia mengajukan usulan strategis pemanfaatan lahan idle, seperti lahan tidur di sekitar jalan tol (Rumija) atau aset pemerintah yang tidak terpakai, melalui sistem kerjasama (bagi hasil atau kerja sama penuh).
Pusat Pembibitan dan Suasana Kekeluargaan
Usai sesi mentoring yang intens, para peserta melakukan salat berjamaah di masjid dekat lokasi, dilanjutkan dengan sesi santai sambil menikmati kopi dan menjalin silaturahmi.
Di lokasi, tersedia banyak sekali bibit tanaman unggul yang menjadi bagian dari pembahasan, termasuk kopi, durian, alpukat, nangka, pete, mangga, rambutan, klengkeng, stroberi, dan berbagai jenis bibit lainnya. Disepakati bahwa bibit cabe jawa hibrida akan diambil dari dibuat sendiri dan Sebagian dari Temanggung, dengan harapan harga per bibit tidak melebihi Rp7.000 untuk pembelian bersama.***
