2 mins read

Kisah Abdurrahman bin Auf, Saudagar Kaya yang Takut Kekenyangan Dunia

nujateng.com – Di suatu hari, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu salah satu sahabat Nabi yang dikenal sebagai saudagar kaya datang kepada keluarganya dengan membawa sebuah wadah berisi roti dan daging.

Namun yang terjadi setelah itu sungguh mengguncang hati. Ia menangis.

Orang-orang di sekitarnya bertanya,
“Wahai Abu Muhammad, apa yang membuatmu menangis?”

Dengan suara bergetar, ia menjawab:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dalam keadaan beliau dan keluarganya belum pernah kenyang dengan roti gandum. Aku khawatir kebaikan kami justru disegerakan di dunia ini.”

Tangisan itu bukan karena kekurangan, melainkan karena takut berlebih. Takut jika kenikmatan dunia telah mengurangi bagian pahala di akhirat.

Kedermawanan Abdurrahman bin Auf yang Melampaui Logika Dunia

Abdurrahman bin Auf bukanlah sosok miskin. Ia adalah pedagang sukses yang hartanya melimpah. Namun kekayaan itu tidak pernah membuatnya terikat.

Dalam sejarah, disebutkan bahwa:

* Ia pernah menyedekahkan setengah dari seluruh hartanya di jalan Allah.

* Di kesempatan lain, ia kembali bersedekah 40.000 dinar, jumlah yang sangat besar pada masanya.

* Sebagian besar hartanya diperoleh dari perdagangan yang jujur dan berkah.

Meski demikian, kekayaan itu justru membuatnya semakin takut kepada Allah, bukan semakin lalai.

Abdurrahman bin Auf wafat pada usia 72 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Baqi’, Madinah.

Shalat jenazahnya bahkan diimami oleh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, sahabat sekaligus khalifah saat itu.

Sebuah penghormatan besar bagi seorang hamba yang hidupnya dipenuhi ketakwaan.

Cermin untuk Kita, Mengejar Kaya atau Mengejar Ridha Allah?

Dari kisah Abdurrahman bin Auf, kita belajar sebuah ironi zaman. Ia yang kaya takut hartanya mengurangi pahala akhirat.

Sedangkan kita yang belum tentu kaya sering kali terlalu takut miskin hingga lupa pada akhirat.

Ia ingin “jatuh miskin” karena takut pada Rabb-nya.

Sementara kita berjuang mati-matian mengumpulkan harta, kadang tanpa menyadari apakah hati kita masih tunduk atau justru terikat.

Kisah ini bukan larangan untuk kaya, tetapi peringatan agar harta berada di tangan, bukan di hati.

Abdurrahman bin Auf adalah bukti bahwa kaya dan bertakwa bisa berjalan bersama, selama hati tetap bergantung pada Allah.

Ia adalah saudagar yang sukses di dunia, namun jauh lebih sukses dalam menjaga akhiratnya.

Semoga Allah membimbing kita untuk:

1. Menjadikan harta sebagai alat ibadah, bukan tujuan hidup

2. Meneladani kedermawanan dan ketakutan kepada Allah

3. Menjadi pribadi yang kaya secara harta dan kaya secara iman

Karena sejatinya, bukan seberapa banyak yang kita miliki yang akan ditanya, tetapi ke mana harta itu dibawa dan untuk siapa ia digunakan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *