2 mins read
Pentingnya Menjaga Tradisi Intelektual Santri, MWCNU Ngaliyan Luncurkan Buku KOPIKHAS

SEMARANG – nujateng.com – Puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 tingkat Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Ngaliyan berlangsung meriah di Aula Kecamatan Ngaliyan, Ahad (9/11/2025). Acara dihadiri ratusan peserta dari kalangan santri, tokoh masyarakat, dan jajaran pejabat Kecamatan Ngaliyan serta Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Semarang.
Salah satu agenda utama dalam acara tersebut adalah peluncuran buku perdana berjudul “KOPIKHAS: Komunitas Pecinta Karya Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari & LBMNU MWCNU Ngaliyan Semarang.” Buku ini merupakan hasil kerja sama antara Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) dan Lembaga Bahtsul Masail (LBM) MWCNU Ngaliyan.
Ketua MWCNU Ngaliyan, Dr. Agus Khunaefi, dalam sambutannya menegaskan bahwa buku KOPIKHAS menjadi simbol semangat keilmuan santri dan warga NU dalam menjaga tradisi intelektual pesantren.
“Tradisi keilmuan NU bukan hanya warisan, tapi juga gerak peradaban yang terus hidup. Santri berjuang dengan ilmu, dengan pena, dan dengan karya,” ujarnya.
Sementara itu, Gus Sa’dullah Shodiq, selaku penasihat tim penulis sekaligus pembina komunitas KOPIKHAS, mengungkapkan rasa syukur atas lahirnya buku ini yang merekam hasil kajian dan diskusi rutin warga NU Ngaliyan. Buku tersebut berisi kumpulan kajian dari kitab-kitab klasik dan pembahasan isu-isu keagamaan aktual.
Sekretaris MWCNU Ngaliyan, M. Sunarto, menambahkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan penerbitan buku baru berisi biografi para muassis (pendiri) MWCNU Ngaliyan.
“Generasi sekarang perlu mengenal jejak perjuangan dan dedikasi para pendiri NU di Ngaliyan. Ini bagian dari upaya mendokumentasikan sejarah lokal secara sistematis,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu juga, buku KOPIKHAS diserahkan secara simbolis kepada Forkopimcam Ngaliyan, para kiai, dan tokoh masyarakat.
Selain peluncuran buku, rangkaian HSN MWCNU Ngaliyan tahun ini juga menghadirkan berbagai kegiatan sosial dan edukatif seperti pengobatan gratis, lomba esai bagi pelajar SMA/MA, lomba pidato SD/MI, serta lomba mewarnai tingkat TK/RA.
Sekretaris Kecamatan Ngaliyan turut menyampaikan pesan penting bagi generasi muda untuk menimba ilmu di pesantren.
“Pondok adalah tempat membangun nasionalisme dan belajar ilmu sosial sebelum terjun ke masyarakat,” tuturnya.
Acara ditutup dengan doa bersama dan penyerahan hadiah kejuaraan lomba pidato, esai dan mewarnai, serta kenang-kenangan dari komunitas KOPIKHAS kepada para tokoh. Para tokoh merasa bangga dan haru atas persembahan karya tersebut sebagai kontribusi nyata santri untuk peradaban.
