
Masjid Islamic Centre Jawa Tengah kembali menggelar kajian pagi yang diawali dengan istighosah, kemudian dilanjutkan dengan kajian yang disampaikan oleh Dr. KH. Multazam Ahmad, MA. Kajian kali ini mengangkat tema “Syukur atas Kemerdekaan Hakiki dalam Islam.”
Dalam kajiannya, Dr. KH. Multazam Ahmad menjelaskan bahwa makna kemerdekaan yang hakiki dalam perspektif Islam bukan sekadar terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi merdekanya jiwa dari penghambaan kepada selain Allah SWT. Manusia yang benar-benar merdeka adalah mereka yang hanya tunduk dan menyembah kepada Allah serta tidak menjadikan selain-Nya sebagai sesembahan atau tujuan pengabdian.
Beliau mengingatkan tentang bahaya thaghut, yaitu segala sesuatu yang disembah, ditaati, atau diikuti dalam kemaksiatan dan bertentangan dengan ketentuan Allah. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. An-Nahl ayat 36:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُوْلًا أَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
Artinya:
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’ Kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”
Bersyukur atas Nikmat Pemimpin
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengajak jamaah untuk bersyukur atas hadirnya Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat manusia. Rasulullah merupakan teladan kepemimpinan yang profetik, dengan karakter siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
Di tengah kondisi dunia saat ini, menurut beliau, tidak mudah menemukan sosok pemimpin yang benar-benar memiliki sifat siddiq dan amanah. Dalam konteks Indonesia, berbagai kekurangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tentu masih ada. Karena itu, masyarakat perlu terus melakukan perbaikan dan mendorong lahirnya kepemimpinan yang lebih amanah dan berpihak kepada kemaslahatan.
Beliau menggambarkan bahwa tantangan kepemimpinan saat ini masih besar karena dalam praktiknya terkadang kehidupan bernegara lebih terasa seperti hubungan orang berdagang, yang mempertimbangkan untung dan rugi, sementara nilai amanah dan pengabdian harus terus diperkuat.
Nikmat Bernapas yang Sering Dilupakan
Lebih jauh, Dr. KH. Multazam Ahmad mengingatkan bahwa syukur yang paling utama dimulai dari nikmat yang paling sederhana, yakni keluar dan masuknya napas.
Beliau menceritakan sebuah ungkapan tentang seseorang yang sedang sakit dan dijenguk oleh Gus Mus. Orang tersebut menggambarkan betapa sulitnya bernapas ketika sedang sakit hingga harus menggunakan berbagai alat bantu pernapasan. Ketika kondisinya mulai membaik dan satu per satu alat tersebut dapat dilepas, yang dirasakan bukan sekadar kesembuhan, tetapi rasa syukur yang luar biasa.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa manusia sering kali baru menyadari mahalnya sebuah nikmat ketika nikmat itu terganggu. Napas yang keluar dan masuk tanpa kita pikirkan adalah karunia Allah yang sangat besar. Karena itu, setiap detik kehidupan semestinya menjadi alasan untuk mengucapkan Alhamdulillah dan memperbanyak syukur kepada Allah SWT.
Kajian pagi tersebut berlangsung dengan suasana penuh kekhidmatan. Setelah penyampaian materi, kegiatan ditutup dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah jamaah.
Melalui kajian ini, jamaah diajak memaknai kemerdekaan secara lebih mendalam: kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan kepada selain Allah, serta mengisi kemerdekaan dengan syukur, amanah, dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.
