At-Tadabbur wa Ar-Ruju’ Hari Keempat: Penguatan Kompetensi Pedagogik melalui Microteaching Asatidz PPFF

Semarang — Rangkaian kegiatan At-Tadabbur wa Ar-Ruju’ _(Retreat)_ Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang memasuki hari keempat pada Kamis (2/4/2026). Setelah tiga hari penuh dengan pembinaan fisik, mental, dan karakter santri, agenda hari terakhir difokuskan pada penguatan kompetensi dewan asatidz melalui kegiatan microteaching.
Kegiatan ini menjadi penutup yang bersifat strategis dalam rangkaian retreat, dengan tujuan meningkatkan kualitas pedagogik para asatidz agar mampu menjadi pendidik yang tidak hanya mentransfer ilmu _(transfer of knowledge)_ , tetapi juga nilai _(transfer of value)_ kepada para santri.
Bertempat di ruang-ruang kelas yang dibagi sesuai kelompok, kegiatan diawali dengan penyampaian materi pedagogik dan Pedagogical Content Knowledge (PCK) oleh para narasumber dari kalangan dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang, yaitu Dr. H. Fakhrudin Aziz, Lc., M.S.I., Dr. Naifah, S.Pd.I., M.S.I., Dr. Citra Rizky Lestari, M.Pd., Vina Mariana, M.Pd., Risky Soffiana, M.Ed., M.Si., serta Inayah, M.Pd.
Materi yang disampaikan menekankan pentingnya perencanaan pembelajaran yang sistematis, strategi penyampaian yang efektif, serta kemampuan memahami karakteristik peserta didik, sehingga proses pembelajaran tidak hanya bersifat transfer of knowledge, tetapi juga mampu menghadirkan transfer of value dalam setiap aktivitas belajar mengajar.

Memasuki sesi inti, para asatidz melaksanakan praktik microteaching secara bergantian dengan durasi 20–25 menit per individu. Dalam praktik tersebut, setiap peserta dituntut untuk mengimplementasikan metode pembelajaran yang variatif, komunikatif, dan inspiratif sebagaimana yang telah dipelajari dalam sesi materi sebelumnya.
Setiap penampilan microteaching mendapatkan evaluasi dan umpan balik langsung dari narasumber, baik dari aspek penguasaan materi, metode penyampaian, interaksi dengan peserta didik, hingga kemampuan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran. Hal ini menjadi bagian penting dalam proses perbaikan dan peningkatan kualitas mengajar secara berkelanjutan.
Kegiatan ini juga menegaskan kembali peran strategis asatidz sebagai role model dan inspirator bagi santri. Sebagaimana yang menjadi ruh pendidikan di PPFF, seorang guru tidak hanya dituntut cakap secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan keteladanan dalam sikap, akhlak, dan kedekatan kepada Allah SWT.

Melalui kegiatan microteaching ini, diharapkan seluruh dewan asatidz PPFF mampu meningkatkan kompetensi pedagogiknya, menyusun perangkat pembelajaran yang lebih baik, serta mengimplementasikan metode pembelajaran yang efektif dan inspiratif dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
Dengan berakhirnya hari keempat ini, maka rangkaian kegiatan At-Tadabbur wa Ar-Ruju’ Tahun 2026 resmi ditutup. Besar harapan, seluruh hasil dari kegiatan ini tidak hanya berhenti sebagai program sesaat, tetapi dapat berlanjut dalam implementasi nyata di lingkungan pesantren, sehingga terwujud generasi santri yang unggul serta guru-guru yang inspiratif, sesuai dengan visi besar Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan.
