2 mins read

Demi Mengejar Cinta Ilahi, Seorang Raja Rela Meninggalkan Tahta di Kerajaannya

nujateng.com – ​Kisah seorang raja sering kali identik dengan kemewahan, kekuasaan mutlak, dan harta yang melimpah.

Namun, sejarah Islam mencatat sebuah riwayat menyentuh tentang seorang penguasa yang justru memilih jalan sebaliknya.

Ia melepaskan mahkotanya bukan karena kalah perang, melainkan karena kesadaran akan hakikat kehidupan yang fana.

Kesadaran di Balik Dinding Istana

Dalam sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani, dikisahkan ada seorang raja yang merenung di tengah kemegahan istananya.

Di puncak kekuasaannya, ia justru merasa gelisah. Ia menyadari sebuah kebenaran mutlak, kerajaannya pasti akan hilang dan kedudukannya selama ini telah melalaikannya dari beribadah kepada Allah SWT.

Dorongan spiritual ini begitu kuat hingga pada suatu malam, sang raja memutuskan untuk pergi diam-diam.

Tanpa pengawal dan tanpa membawa kemewahan, ia meninggalkan wilayah kekuasaannya menuju daerah lain untuk memulai hidup baru sebagai rakyat biasa.

Menjadi Buruh Batu Bata demi Menjaga Ibadah

Untuk menyambung hidup, sang mantan raja ini memilih pekerjaan yang sangat kontras dengan kehidupan lamanya.

Ia bekerja sebagai pembuat batu bata di pinggir pantai. Ia hanya mengambil upah secukupnya untuk makan dan menyedekahkan sisanya.

Ketaatan dan kedermawanannya akhirnya terdengar oleh raja di wilayah tersebut.

Meskipun sempat menolak untuk bertemu karena merasa tidak lagi memiliki urusan dengan dunia kekuasaan, sang mantan raja akhirnya dikejar oleh penguasa setempat yang merasa takjub dengan kezuhudannya.

Pertemuan Dua Jiwa yang Merindu Surga

Saat akhirnya mereka bertemu, sang mantan raja mengungkapkan jati dirinya: “Aku adalah Fulan bin Fulan, mantan raja kerajaan.

Aku sadar kekuasaan akan hilang dan menyibukkanku dari Rabb-ku, maka aku tinggalkan semua demi beribadah kepada-Nya.”

Mendengar ketulusan tersebut, raja yang mengejarnya justru tergerak hatinya.

Ia berkata, “Anda tidak lebih butuh terhadap apa yang Anda lakukan dibanding diriku.”

Raja tersebut kemudian turun dari kendaraannya, melepaskan jabatannya, dan memilih ikut beribadah bersama hingga akhir hayat mereka.

Hikmah yang Bisa Kita Petik

Kisah seorang raja ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada jabatan atau tumpukan harta.

Ibnu Mas’ud bahkan menyebutkan bahwa makam kedua orang saleh ini berada di tanah Mesir sebagai bukti nyata perjalanan spiritual mereka.

Di dunia yang serba mengejar materi ini, kisah ini menjadi pengingat bagi kita untuk sejenak berhenti dan merenung.

Apakah kesibukan duniawi kita saat ini telah mendekatkan kita pada Sang Pencipta, atau justru menjauhkan kita dari-Nya?.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *