
nujateng.com – Tsa’labah bin Haathib Al-Anshari adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw yang kisah hidupnya mengandung pelajaran berharga tentang kesabaran, syukur, dan bahaya lupa diri ketika rezeki datang.
Awal Kehidupan, Seorang yang Rajin Ibadah dalam Keterbatasan
Tsa’labah dikenal sebagai sosok yang sangat rajin menjalankan salat berjamaah bersama Rasulullah Saw meskipun hidup dalam keadaan sangat miskin dan tidak memiliki penghasilan tetap.
Ia selalu bergegas pulang setelah salat karena hanya memiliki satu kain untuk bergantian shalat bersama istrinya di rumah.
Pengetahuan akan keterbatasannya inilah yang membuatnya terburu-buru setelah shalat untuk kembali bergantian memakai kain tersebut.
Suatu hari, Rasulullah Saw pun memanggilnya dan menanyakan alasan kebiasaannya tersebut. Setelah Tsa’labah menjelaskan kondisinya, Rasulullah Saw pun memahami dan mengizinkannya pulang.
Permohonan Doa kepada Rasulullah Saw
Karena berkeinginan memperbaiki kehidupannya, Tsa’labah kemudian mendatangi Rasulullah Saw dan memohon agar beliau mendoakan kepada Allah agar diberi rezeki dan kekayaan.
Pada awalnya, Rasulullah Saw mengingatkan betapa pentingnya bersyukur atas apa yang dimiliki, namun pada akhirnya beliau mendoakannya setelah Tsa’labah berjanji akan menggunakan rezeki itu untuk kebaikan.
Allah mengabulkan doa Nabi Saw. Tsa’labah pun dianugerahi rezeki berupa ternak yang banyak sehingga hidupnya berubah menjadi berkecukupan.
Ujian Setelah Kaya, Lupa Pada Rasa Syukur dan Kewajiban Agama
Setelah hidup berkecukupan, keadaan Tsa’labah berubah. Ia menjadi sangat sibuk mengurus hartanya terutama ternak hingga mengabaikan waktu shalat berjamaah yang dulu ia tekuni.
Kehidupan yang semakin leluasa kemudian membuatnya terlena dan lalai terhadap kewajiban agama, khususnya zakat.
Dalam suatu peristiwa penting, ketika telah datang waktu zakat bagi yang mampu, Tsa’labah menolak perintah membayar zakat dari hartanya.
Ia bahkan berdalih seperti orang yang hanya mempermasalahkan “pajak” tanpa memahami makna zakat sebagai kewajiban agama. Perilaku ini membuat Rasulullah Saw sangat kecewa.
Ketika Tsa’labah kemudian merasa bersalah dan ingin menyerahkan zakatnya, Rasulullah Saw menolak menerimanya dengan tegas karena sebelumnya Tsa’labah sudah mengingkari perintah Allah.
Bahkan setelah Nabi Saw wafat, khalifah Abu Bakar dan Umar pun menolaknya sehingga hingga akhir hayatnya zakat Tsa’labah tidak diterima.
Hikmah Utama dari Kisah Tsa’labah
Kisah Tsa’labah memberikan banyak pelajaran penting bagi setiap Muslim, di antaranya:
1. Syukur Lebih Utama daripada Banyak Rezeki
Memiliki harta bukanlah tujuan akhir. Syukur kepada Allah dan tetap taat kepadaNya jauh lebih berharga dibanding kekayaan semata.
2. Rezeki yang Diberikan adalah Amanah
Allah memberikan rezeki bukan untuk membuat seseorang lupa pada perintah-Nya, tetapi untuk meningkatkan keimanan dan ketaatan.
3. Jangan Sampai Lupa Kewajiban Agama
Kisah ini mengingatkan kita bahwa harta seharusnya mendorong seseorang lebih rajin beribadah, berzakat, dan berbagi dengan sesama bukan membuat lalai terhadap kewajiban agama.
Kisah Tsa’labah bukan sekadar cerita sejarah, tetapi refleksi hidup bagi setiap Muslim tentang bagaimana cara memaknai rezeki, menjaga keimanan, dan tetap berpegang teguh pada syariat Allah meskipun hidup berubah.
Jadikan kisah ini sebagai pengingat agar selalu bersyukur, beribadah, dan melaksanakan kewajiban agama dengan penuh kesadaran.***


