Perilaku Anak Cerminan Didikan Orang Tua: Alarm Besar dari Perspektif Islam dan Pesan “Quu Anfusakum”
NUJATENG.COM – Dalam beberapa tahun terakhir, ruang media dipenuhi berita perilaku anak yang meresahkan: kasus perundungan di sekolah, kecanduan gawai, hingga aksi kekerasan yang mengarah pada perilaku neo-terorisme. Fenomena ini bukan lagi insiden sporadis, tetapi seperti “hidangan harian” yang menghiasi linimasa digital masyarakat.
Dari sudut pandang psikologi, perilaku anak tidak tumbuh secara instan atau acak. Anak menyerap apa pun yang ia lihat, dengar, dan rasakan sejak kecil. Nilai moral, kedisiplinan, kesantunan, ataupun kekerasan semua bermula dari rumah, dari pola asuh yang membentuk dasar karakternya.
Seperti dijelaskan dalam kajian psikologi sosial oleh Zhu dkk., pengaruh orang tua adalah fondasi utama dalam perkembangan sosial dan emosional anak.
Pandangan ini sejalan dengan ajaran Islam, yang menempatkan keluarga sebagai institusi pendidikan pertama dan paling penting dalam kehidupan seorang anak.
Didikan Orang Tua dalam Islam: Tugas Utama, Bukan Sampingan
Dalam Islam, pendidikan anak bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan tanggung jawab pokok yang wajib dipikul orang tua. Rumah adalah madrasah pertama tempat anak belajar mengenali:
- kebaikan dan keburukan,
- akhlak dan etika,
- disiplin dan tanggung jawab.
Anak tidak tumbuh sendiri; ia dibentuk. Karena itu, Islam menegaskan bahwa orang tua terutama ayah sebagai pemimpin keluarga wajib menjaga dan membimbing keluarganya agar terhindar dari penyimpangan moral dan bahaya spiritual.
Perintah Quu Anfusakum dan Beban Moral Orang Tua
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
Ayat ini bukan peringatan biasa, tetapi amanah besar yang memerintahkan orang tua untuk aktif membina keluarganya dengan:
- pendidikan akhlak,
- arahan moral,
- pembiasaan ketaatan,
- serta menjauhkan mereka dari maksiat.
Ali ash-Shabuni menegaskan bahwa tugas menjaga keluarga dari api neraka dilakukan melalui pengajaran, pembiasaan amal saleh, dan pendidikan yang membentuk karakter.
Urgensi Didikan Orang Tua dalam Pembentukan Perilaku Anak
Masa kanak-kanak adalah fase emas ketika seluruh nilai baik atau buruk sangat mudah diserap. Perilaku, ucapan, cara menyelesaikan konflik, bahkan cara memperlakukan orang lain, semuanya ditiru dari lingkungan terdekat: orang tua.
Apa yang tertanam sejak dini akan terbawa hingga anak terjun ke lingkungan sekolah dan masyarakat.
Hadis tentang Fitrah: Anak Lahir Suci, Orang Tua yang Membentuknya
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah; kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim)
Hadis ini menjelaskan dua konsep penting:
- Anak lahir dengan fitrah, yaitu potensi alami untuk mengenal kebenaran dan berkembang ke arah yang baik.
- Orang tualah yang membentuk arah hidupnya, melalui pendidikan, teladan, dan bimbingan.
Penjelasan Ulama: Fitrah adalah Potensi untuk Mengenal Tuhan
Abu Umar menegaskan bahwa fitrah adalah penciptaan manusia dengan kesiapan untuk mengenal Tuhannya dan memahami kebenaran. Inilah yang membedakan manusia dari hewan yang tidak memiliki potensi moral dan intelektual tersebut.
Potensi ini tidak akan berkembang tanpa pendidikan dan bimbingan.
Mengapa Perilaku Anak Sangat Dipengaruhi Didikan Orang Tua?
1. Anak Belajar dari Teladan, Bukan Hanya Kata-Kata
Ketika orang tua bersikap lembut, disiplin, atau tegas pada tempatnya, anak pun cenderung meniru pola yang sama. Begitu pula ketika orang tua mudah marah, kasar, atau mengabaikan nilai moral, anak akan menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang wajar.
2. Fitrah Perlu Diisi dan Diarahkan
Fitrah hanya menjadi potensi dasar. Tanpa arahan, potensi itu tidak berkembang. Sebaliknya, dengan teladan yang benar, fitrah itu tumbuh menjadi karakter yang kuat.
3. Rumah Menjadi Barometer Perilaku Anak di Lingkungan
Perilaku anak di luar rumah adalah cerminan bagaimana ia diperlakukan dan dibentuk di dalam rumah. Anak yang mendapatkan pendidikan emosi, akhlak, dan kasih sayang biasanya lebih mampu berinteraksi positif dengan guru maupun teman-temannya.
Perilaku Anak Adalah Refleksi Didikan Rumah
Islam memandang bahwa pendidikan anak adalah amanah yang harus dipenuhi dengan sungguh-sungguh. Setiap anak lahir dengan potensi kebaikan, tetapi hanya akan berkembang jika orang tua memberikan:
- bimbingan yang benar,
- teladan moral,
- pengajaran agama,
- serta lingkungan rumah yang mendukung.
Fenomena perilaku negatif anak yang marak saat ini adalah alarm bagi setiap orang tua. Bahwa membentuk karakter anak tidak cukup hanya dengan menyediakan kebutuhan fisik, tetapi juga memerlukan perhatian pada pendidikan akhlak, kontrol emosional, dan pengawasan terhadap perkembangan moralnya.
Pesan “quu anfusakum wa ahlikum naara” adalah pengingat bahwa tanggung jawab itu dimulai di rumah, dimulai dari diri sendiri, dan harus diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Perilaku Anak Cerminan Didikan Orang Tua: Perspektif Islam dan Kewajiban Quu Anfusakum
