Zuhud Itu Bukan Anti-Dunia: Hidup Sederhana Tanpa Menolak Nikmat Tuhan
NUJATENG.COM – Kata zuhud sering terdengar dari mimbar-mimbar masjid, dibicarakan dalam majelis taklim, bahkan jadi tema ceramah yang penuh keheningan. Namun, banyak orang keliru memahami makna sejatinya. Zuhud sering dianggap sebagai sikap menjauh dari dunia, menolak harta, dan memilih hidup miskin ala sufi dengan pakaian lusuh.
Padahal, menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin, zuhud tidak sekadar meninggalkan harta atau hidup serba kekurangan. Zuhud adalah urusan hati bukan tampilan luar. Dunia tidak menjadi dosa; dunia hanyalah cermin yang memantulkan isi hati manusia.
Jika hati dikuasai keserakahan, dunia menjadi jebakan. Tapi jika hati tenang dan terkendali, dunia justru menjadi jalan menuju Tuhan. Seperti kata Imam Ghazali, banyak orang meninggalkan harta hanya untuk dipuji sebagai orang zuhud. Itulah bentuk kepalsuan batin.
“Ketahuilah, bisa jadi seseorang mengira bahwa orang yang meninggalkan harta adalah zahid, padahal tidak demikian. Sebab meninggalkan harta dan menampakkan kesederhanaan itu mudah bagi orang yang mencintai pujian karena sifat zuhudnya.”
(Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, juz IV, hlm. 252)
Makna Hakiki Zuhud: Hati yang Tak Tergantung Selain Kepada Allah
Abu Bakar al-Kalabazi dalam At-Ta‘arruf li Madzhab Ahl at-Tashawwuf menegaskan bahwa zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal atau meninggalkan sebab-sebab duniawi. Zuhud adalah keadaan batin seseorang yang tidak tergantung pada apa pun selain Allah.
“Orang yang zuhud adalah orang yang tidak memiliki keterikatan sebab apa pun selain kepada Allah.”
Artinya, seseorang bisa kaya raya, punya harta melimpah, tapi tetap zuhud selama hatinya tidak diperbudak oleh kepemilikan itu. Zuhud bukan kemiskinan, tapi kebebasan. Ia bukan penolakan terhadap dunia, tapi kemampuan untuk tidak dikuasai dunia.
Para sufi klasik bahkan menertawakan mereka yang berbangga diri karena meninggalkan dunia. Asy-Syibli pernah berkata,
“Celaka kalian! Apa nilai dunia ini bahkan kurang dari sayap seekor nyamuk sehingga seseorang merasa perlu bersikap zuhud terhadapnya?”
Menikmati yang Halal Bukan Berarti Kehilangan Zuhud
Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyyah juga mengkritik pandangan sempit yang menganggap menolak harta halal sebagai bentuk kesalehan. Ia menulis bahwa meninggalkan rezeki yang telah Allah halalkan justru bukan sikap zuhud yang benar.
“Ketika Allah menganugerahkan kepada hamba-Nya harta yang halal dan memerintahkannya untuk bersyukur, maka meninggalkannya tanpa alasan bukanlah sikap zuhud yang benar.”
Dengan kata lain, zuhud bukan berarti menolak nikmat, tapi menempatkannya dengan benar. Dunia boleh dimiliki, asal tidak sampai menguasai hati. Karena hakikat zuhud adalah bagaimana seseorang mengatur hubungannya dengan nikmat dunia agar tidak tergelincir menjadi budak dari kenikmatan itu.
Zuhud di Era Media Sosial: Memiliki Tanpa Dimiliki
Di era digital saat ini, zuhud justru menemukan maknanya yang paling relevan. Dunia media sosial membuat banyak orang mengejar validasi dari jumlah followers, banyaknya likes, hingga merek pakaian yang dikenakan. Semua hal diukur dari tampilan luar.
Menjadi zuhud di zaman sekarang bukan berarti meninggalkan teknologi atau berhenti bekerja. Justru, zuhud adalah cara hidup yang sadar dan seimbang: bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi tidak terikat pada hasilnya. Memiliki banyak, tapi tetap ringan hati.
Sufyan ats-Tsauri pernah berkata,
“Zuhud di dunia adalah pendek cita-cita, bukan dengan makan makanan kasar atau memakai pakaian wol.”
Al-Junaid pun menambahkan,
“Zuhud adalah tangan yang kosong dari kepemilikan, dan hati yang kosong dari ketertarikan.”
Itulah inti dari zuhud modern: memiliki dunia di tangan, bukan di dada. Dunia boleh mengelilingi kita, tapi jangan sampai masuk ke dalam hati. Jika perahu dikelilingi air, ia tetap terapung. Tapi ketika air masuk ke dalamnya, ia akan tenggelam.
Zuhud Adalah Jalan Hidup yang Membebaskan
Sikap zuhud bisa dimiliki siapa pun, di profesi apa pun. Seorang pengusaha bisa zuhud jika kekayaannya tidak membuatnya sombong. Pejabat bisa zuhud bila kekuasaannya tidak membuatnya lupa pada kebenaran. Pekerja kreatif pun bisa zuhud bila karyanya tidak membuatnya haus pujian.
Zuhud bukan tentang berapa banyak yang kita punya, tapi seberapa dalam kita bergantung pada Yang Maha Punya. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, zuhud mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dan bertanya:
“Untuk apa aku melakukan semua ini?”
Jika jawabannya adalah untuk kebaikan, maka di sanalah ruh zuhud mulai hidup dalam diri kita. Zuhud bukan menolak dunia, tapi memerdekakan diri dari perbudakan dunia.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Zuhud Itu Bukan Anti-Dunia
