nujateng.com – Dalam episode ke-56 dari seri kajian tematik yang dibawakan oleh Prof Sholihan, tema “Kemuliaan Manusia Secara Potensial Maupun Aktual” dibahas secara mendalam dengan pendekatan teologis dan filsafati yang relevan bagi konteks kontemporer.
Dalam pemaparan beliau, manusia diposisikan pada dua dimensi kemuliaan: potensial (yakni segala daya dan kapasitas yang tertanam dalam manusia sebagai makhluk ciptaan) dan aktual (yakni pengaktifan atau realisasi dari kapasitas tersebut dalam kehidupan nyata).
Prof Sholihan menekankan bahwa kemuliaan manusia tidak hanya semata dilihat dari aspek lahiriah — seperti status sosial, kekayaan atau kemampuan — melainkan terutama melalui aktualisasi batin dan moralitas berdasarkan nilai-nilai Islam.
Menurut pembicara, manusia sebagai makhluk memiliki tingkatan yang menakjubkan: ia bukan hanya sebatas makhluk alamiah seperti hewan atau tumbuhan, tetapi memiliki potensi transendental yang memungkinkan dirinya untuk mengangkat martabatnya melalui iman, akhlak, dan pengetahuan spiritual. Dalam hal ini, teks-teks klasik filsafat Islam juga menjadi rujukan untuk menggambarkan hal tersebut. Sebagai contoh, dalam tradisi Islam terdapat konsep “insan kamil” (manusia sempurna) yang menunjukkan bahwa manusia bisa mencapai derajat kemuliaan tertinggi melalui kesadaran spiritual dan pengamalan nilai Allah.
Prof Sholihan menyampaikan bahwa untuk mewujudkan kemuliaan manusia secara aktual, beberapa aspek penting perlu dijalankan:
-
Kesadaran bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab besar sebagai khalifah di muka bumi, bukan hanya sebagai objek hidup.
-
Pengembangan potensi intelektual dan moral agar tidak tersia-sia dalam hedonisme atau sekadar pencapaian duniawi.
-
Transformasi batiniah yang membawa manusia dari kondisi “hanya berpotensi” menjadi “realisasi” — yakni hidup yang selaras dengan fadilah (kebaikan) dan takwa.
-
Pemahaman bahwa kemuliaan hakiki bukan hanya milik beberapa individu elitis, tetapi bisa diraih oleh siapa pun yang mau berikhtiar dan taat kepada Allah.
Dalam kajiannya, Prof Sholihan juga menyinggung tantangan zaman — seperti konsumerisme, individualisme, dan dominasi materialisme — yang bisa menjauhkan manusia dari realisasi kemuliaannya.
Oleh karena itu, pemahaman nilai-nilai spiritual dan internalisasi ajaran agama menjadi sangat penting agar manusia tidak hanya “hidupkan potensi” tetapi benar-benar “aktualisasikan kemuliaan”.
Kajian ini mengajak setiap individu untuk refleksi: Apakah kita hanya punya potensi kemuliaan, atau kita telah mengaktualisasikannya?
Dan jika belum, bagaimana langkah-nyata yang bisa kita ambil hari ini agar kemuliaan itu menampakkan diri dalam keseharian kita — di keluarga, pekerjaan, masyarakat dan dalam relasi kita dengan Sang Pencipta.***


