
BREBES – nujateng.com – Iimu tasawuf berfungsi untuk membersihkan kotoran hati atau yang disebut dengan najis batin. Ilmu syareat tentang taharoh yang berfungi untuk membersihkan najis dan hadas juga wajib dipelajari. Meski demikian ilmu tasawuf yang didalamnya ada mujahadah dengan wirid wirid tertentu menjadi hal yang sangat penting. Orang yang beribada secara dhohir dalam ini fiqih akan tetapi tidak membersihkan hati dengan cara mujahadah bisa disebut dengan menetapi perbuatan dosa. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab Tasawwuf. Demikian disampaikan oleh KH Mansur Tarsudi selaku Mustasyar PCNU Brebes saat mengawali mujahadah Ahad Manis di masjid Jami Baiturrahman Sigedeg Kec Wanasari Kab Brebes.
Wirid menurut KH Mas Mansur dalam dunia tarekat harus memiliki sanad yang bersambung dengan Nabi Muhammad SAW. Menurut kesepakatan Ulama ada sekitar 42 tarekat yang diakui atau mu’ tabaroh. Diantaranya, Qodiriyah, Syadziliyah, Tijaniyah dan lainnya. Masing-masing tarekat memiliki wirid tersendiri yang diajarkan oleh gurunya atau Mursyid dalam tarekat tesebut.
Kyai Mansur menegaskan sebagai manusia yang ingin selamat tentu harus mengikuti jalan dan perilaku para ulama dalam bertarekat. Tidak boleh menyimpang dari apa yang telah digariskan oleh para Ulama. Begitu juga sebagai orang NU juga harus berpegang teguh kepada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Ulama Aswaja mengakui sahabat Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali sebagai Sahabat Nabi. Lain hal dengan golongan Syi’ah yang hanya mengakui Sayidina Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat Nabi Muhammad.
” Mujahadah menjadi bagian yang tidak terpisahjan dalam dunia tarekat. Mujahadah menjadi perintah Alloh SWT sebagaimana disebutkan dalam Al Quran yang artinya, berjuanglah ( mujahadah) di jalan Alloh dengan jihad yang sebenarnya. Ini artinya bahwa mujahadah menjadi perintah agama yang harus dilakukan oleh setiap orang Islam. Orang yang hidupnya tidak pernah mujahadah maka tidak selamat.” kata Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Di hadapan para jamaah, Kyai Mansur mengajak untuk memperbanyak doa dan dzkir, terutama pada tanggal 9 Dzuhijhah yang disebut dengan Yaumu Arofah. Dzikir yang dibacakan tadi secara bersama Beliau berharap untuk dibaca kembali pada tanggal 9 Dzuhijhah, tepatnya hari Selasa setelah duhur.
Kegiatan mujahadah yang dilaksanakan pada Ahad manis tanggal 24 Mei 2026 bertepatan dengan tanggal 7 Dzuhijhah 1447 dihadiri oleh Rois Syuriyah MWCNU Wanasari, KH Sobarudin, Ketua Tanfidziyah, H Takmuri, M.Pd. Tampak hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Tanfidziyah MWCNU Wanasari, H Tobiin MA, Sekretaris Tanfidziyah Akhmad Sururi dan beberapa pengurus MWCNU lainnya.
Jajaran Pengurus Ranting NU Sigedeg juga hadir antara lain KH Imron Rosyadi selaku Ketua dan beberapa pengurus lainnya. Badan Otonom NU Ranting Sigedeg juga hadir bersama dengan warga NU dukuh Sigedeg. Pengurus Ranting NU se Kecamatan juga hadir ikut serta dalam mujahadah yang berakhir pada saat duhur tiba.
