Idul Fitri 1447 H di Banjarnegara: Kejar Ridho Allah, Bukan Sekadar ‘Like’ di Media Sosial
2 mins read

Idul Fitri 1447 H di Banjarnegara: Kejar Ridho Allah, Bukan Sekadar ‘Like’ di Media Sosial

BANJARNEGARA, NUJATENG.COM – Gema takbir terus berkumandang sejak selepas salat Isya hingga menjelang pelaksanaan salat Idul Fitri 1447 H pada Jumat (20/03/2026).

Suasana khidmat menyelimuti warga Dusun Karanggude, Desa Badakarya, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara yang memadati lapangan RT 02/04 untuk merayakan hari kemenangan.

​Tepat pukul 06.30 WIB, rangkaian salat Idul Fitri dimulai dengan H. Ali Suroyo bertindak sebagai imam dan Ustadz Roni Jaya Abadi sebagai khatib.

Esensi Kemenangan di Madrasah Ramadan

​Dalam khotbahnya, Ustadz Roni mengajak jamaah untuk merenungkan makna sejati dari kemenangan setelah sebulan penuh digembleng di “Madrasah Ramadan”.

Ia menekankan bahwa kemenangan bukan sekadar perubahan status sosial, melainkan perubahan perilaku yang mendasar.

​”Mari kita bertanya pada diri sendiri, di manakah letak kemenangan itu? Di era digital yang serba cepat ini, nilai puasa harus menjadi kompas dalam berinteraksi,” ungkapnya.

3 Pesan Penting Puasa di Era Digital

​Ustadz Roni yang juga merupakan guru di SD Mandiraja ini menyampaikan tiga poin penting yang bisa direnungkan oleh umat Muslim saat ini:

1. Puasa Melatih Tabayyun (Filter Informasi)
​Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih diri untuk menyaring informasi (tabayyun).

Di tengah gempuran hoaks, umat Islam diminta berhati-hati agar tidak mudah tertipu atau memfitnah orang lain melalui media sosial.

​”Jika kita mampu menahan diri dari air yang halal demi perintah Allah, seharusnya kita juga mampu menahan diri untuk tidak menyebarkan berita bohong atau menghujat di kolom komentar,” tegasnya.

2. Berhenti Mengejar Pengakuan Manusia
​Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah haus akan validasi digital.

Ustadz Roni mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam pencarian like atau pengakuan manusia.

​”Jangan biarkan layar ponsel membuat kita lupa pada nikmat yang ada di depan mata. Ingatlah, Allah Maha Melihat setiap ketikan dan pesan rahasia kita. Kejarlah ridho Allah, karena satu doa yang tulus jauh lebih berharga daripada seribu jempol tanpa makna.”urainya

3. Utamakan Silaturahmi Nyata
​Khatib mengajak jamaah untuk sejenak meletakkan ponsel dan kembali pada hakikat kasih sayang.

Hari Idul Fitri adalah momentum untuk bertatap muka secara langsung, bukan sekadar mengirim pesan singkat.

​”Simpan ponselmu sejenak. Tataplah mata ayah dan ibu, genggam tangan saudara-saudara kita, dan rasakan kehadiran mereka secara nyata.”harapnya

Digital hanyalah alat, namun kasih sayang adalah hakikat,” pesannya menutup khotbah.

Pelaksanaan salat Idul Fitri di Dusun Karanggude ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan perbaikan diri bagi seluruh umat.

“Semoga nilai-nilai Ramadan tetap tertanam sebagai “sistem operasi” dalam kehidupan sehari-hari meski bulan suci telah berlalu.”pungkasnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *