Biar Nggak Asal Posting! Santri Dilatih Menulis Berita Profesional

NUJATENG.COM – SEMARANG – Menulis berita ternyata tidak semudah membuat status media sosial. Kalimat pembuka harus kuat, data harus jelas, dan informasi harus lengkap. Itulah yang dipelajari 26 santri putra dan putri Madrasah Aliyah Al-Musyaffa’ Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang saat mengikuti Pelatihan Jurnalistik pada Ahad, 8 Februari 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Meeting Room PPFF ini, menghadirkan Ali Arifin, seorang jurnalis senior, yang membimbing santri mengenal dunia jurnalistik dari dasar. Para peserta tidak hanya diberi materi teori, tetapi juga dilatih membangun cara berpikir seorang wartawan: mengamati peristiwa, memilah informasi penting, lalu menyusunnya menjadi berita yang runtut dan mudah dipahami pembaca.
Sejak sesi awal, Ali Arifin menekankan bahwa menulis berita bukan soal panjang atau pendeknya tulisan, tetapi soal kelengkapan informasi. Karena itu, santri dikenalkan pada rumus utama jurnalistik yaitu 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, dan How) sebagai pondasi agar berita tidak membingungkan dan tidak kehilangan arah.
Pelatihan kemudian dibuat lebih hidup dengan sesi praktik. Santri diminta menulis sebuah berita yang mengandung unsur 5W+1H secara lengkap. Suasana ruangan pun berubah menjadi ruang kerja wartawan kecil-kecilan. Beberapa santri terlihat serius menyusun lead berita, sementara yang lain sibuk menata informasi agar tulisan mereka tidak berputar-putar.
Pelatihan jurnalistik ini menjadi bagian dari upaya Madrasah Aliyah Al-Musyaffa’ dalam menumbuhkan budaya literasi dan meningkatkan minat jurnalistik di kalangan santri. Selain melatih kemampuan menulis, kegiatan ini juga diarahkan untuk mengasah keterampilan komunikasi santri agar mampu menyampaikan informasi secara cerdas dan bertanggung jawab.
Sesuai dengan apa yang disampaikan DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA., “Menulis itu bukan sekadar keterampilan, tetapi cara untuk menjaga ilmu agar tidak hilang. Apa yang kita tulis akan menjadi jejak kebaikan yang bisa dibaca dan dimanfaatkan orang lain. Itu amal jariah yang dilakukan para ulama terdahulu, hingga kini bisa kita jadikan rujukan ilmu.”
Melalui pelatihan ini, pesantren berharap santri tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan ilmu agama, tetapi juga memiliki keterampilan menulis yang kuat. Dengan bekal tersebut, santri diharapkan mampu menjadi generasi yang kritis, produktif, serta mampu berkontribusi bagi masyarakat melalui karya jurnalistik yang bermanfaat. (Lintang Angguningtyas)***
