Pimred nujateng.com Sowani Abah Chamzah, Pengasuh Ponpes Tanbihul Ghofilin Banjarnegara

BANJARNEGARA – nujateng.com – Menjadi santripreneur bisa ditempuh dengan banyak cara. Tak harus modal puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Dan, tak harus pergi ke mana-mana.
“Di sela-sela waktu mengaji kitab kuning dan sekolah, santri bisa jadi santripreneur dari dalam pondok. Sehingga kalau sudah lulus dari pondok bisa mandiri, bekerja untuk diri sendiri, mempekerjakan kerabatnya, teman-temannya, atau bahkan masyarakat sekelilingnya,” hal itu diungkapkan Pimred nujateng.com Ali Arifin dan tim, saat silaturahim dan sowan KH Muhammad Chamzah Hasan (Abah Chamzah) Pengasuh Tanbihul Ghofilin Banjarnegara Bawang, Banjarnegara, beberapa waktu lalu.
“Misi saya sebenarnya ingin mengajak santri yang tetap belajar di pondok namun sudah mulai memasuki dunia kerja, dunia mencari uang, dunia mencari rezeki halal, dengan cara mendownload rezeki Allah via karya-karya dunia maya. Yakni dengan menjadi konten kreator di nujateng.com, atau membuat portal sendiri dan mengelola sendiri,” katanya.
Menciptakan santri untuk bisa berdaya saing atau menjadi santripreneur tidak mudah.
Santri harus mempunyai keahlian khusus untuk menghadapi kehidupan.
Kunjungan Pimpinan Redaksi Ali Arifin ke Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin Banjarnegara, mendapat sambutan hangat.
Kunjungan bertujuan untuk silatrurahmi dan menciptakan santri yang tangguh untuk bisa menghadapai tantangan zaman yang mudah berubah.
Kunjungan Ali Arifin diterima Pimpinan Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin Abah Chamzah dengan membawa Tim nujateng.com, antara lain content creator Taufik Hidayat PP sekaligus Dewan Guru Madrasah Tsanawiyah Tanbihul Ghofilin Banjarnegara.
Kunjungan disambut baik oleh pimpinan pondok karena perlu adanya kolaborasi menumbuhkan santri yang cakap dan modern saat ini.
Sebelumnya Ali Arifin dan rombongan bertemu dengan Waka Kurikulum Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin Banjarnegara Muhammad Ulil Albab atau Gus Ulil.
“Betul sekarang santri harus mempuyai keahlian khusus untuk kehidupannya setelah lulus dari pondok pesantren,” ungkap Gus Ulil.
Ali Arifin melanjutkan bahwa zaman milenal tak salah jika ada pembekalan menuju santripreneur.
Santripeneur merupakan program untuk menumbuhkan wirausaha bagi santri sebagai salah satu bekal untu menapakai kehidupan nyata.

Dengan harapan, selesainya para santri nyantri, sudah tidak mencari pekerjaan lagi tetapi mampu menghidupi diri sendiri bahkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan.
Jadi santri akan membawa kemanfaatan bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Wirausaha yang dimaksud oleh Pimred nujateng.com Ali Arifin adalah bukan melalui jalur perdagangan barang atau jasa melainkan berdagang hasta karya dalam bentuk tulisan atau biasa disebut sebagai Content Creator.
“Dengan menulis dan mengupas kajian-kajian Kitab Kuning di Pesantren bisa diajarkan kepada para pembaca melalui kegiatan tersebut,” ungkapnya.
Tim nujateng.com melihat potensi dan jumlah yang banyak di Pondok Pesantren yang banyak dengan jumlah 2000 santri.
Serta adanya jenjang Pendidikan dari Madrasah Tsanawiyah sampai ke perguruan tinggi.
Pengasuh Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin Banjarnegara yakni Abah Chamzah, pun menyambut baik dan penuh hangat atas kedatangan Tim nujateng.com.
“Berarti ini dari media ya? Kebetulan dari Tanbihul Ghofilin juga memiliki media,”
Namun, lanjut Abah Chamzah, hingga saat ini belum sampai ke tahap enterprenuer.
Harapan Abah Chamzah, kedua media, yakni nujateng.com dengan Tangho bisa bersinergi.
“Mengingat zaman sekarang, media online sudah menjadi sarana utama untuk penyampaian berita. Bahkan, beberapa ulama juga memanfaatkan media seperti media sosail dan YouTube sebagai dakwah,” tutur Abah Chamzah mengakhiri perbincangan.***
