Jurnalistik di Era Digital dan Pandemi Hoak, Simak Penjelasan Ali Arifin
2 mins read

Jurnalistik di Era Digital dan Pandemi Hoak, Simak Penjelasan Ali Arifin

BANJARNEGARA – nujateng.com – Wartawan wajib berpikir kritis, cerdas, dan cepat dalam hal menganalisa berbagai isu dan fenomena di masyarakat.

Kasus Tran7 yang bikin heboh kalangan santri, kiai, ulama, dan pesantren di Indonesia adalah salah satu kebebasan pers yang kebablasan.

“Kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum atau di masyarakat luas (by media mainstream, TV, situs media online, radio, dll) berdasarkan fakta-fakta, termasuk video dan foto-foto, tidak boleh serta merta ditayangkan atau di uopload di media mainstream,” kata Ali Arifin, pimred nujateng.com.

“Dalam kasus ini, peran pemimpin redaksi atau pimred sangat penting. Sebab, pimred bisa meng-embargo artikel, berita, tayangan, atau features atau apapun produk wartawan untuk tidak tayang karena berbagai pertimbangan dan kebijakan,” tambahnya.

Wartawan atau awak media, kata Ali, harus bijak menyikapi berbagai fenomena dan isu-isu sensitif di masyarakat.

“Wartawan dituntut bijak dan berpikir dan bertindak. Kalau ada isu langsung ditayangkan di medianya tanpa tabayyun atau konfirmasi kebenaran berita tersebut, dan ternyata berita itu hoak, tentu sangat berbahaya.”

Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa Tahun 2025, perwakilan siswa SMK/MA/SMA se Kabupaten Banjarnegara sebanyak 116 siswa perwakilan SMA/SMA/ dan MA se Banjarnegara mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik di Aula SMAN 1 Banjarnegara, Senin, 27/20/2025.

Sunarti, ketua panitai menyatakan bahwa kegiatan itu bertema “Jurnalistik di Era Digital: Gerakan Menulis di Media dalam Rangka Menyongsong Indonesia Emas 2045”.

Yang membuat panitia bangga, selain animo peserta yang tinggi, juga  saat latihan jurnalitik berlangsung, animo peserta menayakan banyak hal kepada pembicara sangat tinggi.

Hampir setengah sesi mulai pagi hingga pukul 14.00 keinginan peserta mencari tahu tentang banyak hal terkait jurnalistik sangat banyak.

“Pemateri sampai membatasi siswa yang bertanya. Sebab, saat ditanya pemateri, siapa yang mau bertanya? Yang angkat tangan hampir seperempat dari jumlah peserta yang berjumlah 116 siswa,” jelas Sunarti.

“Ini sungguh luar biasa dan perlu ditindaklanjuti. Karena para siwa rupanya mendapatkan sesuatu yang berbeda dan menarik dari  pemateri, baik terkait perjalanan jurnalistik dan seputar dunia jurnalistik.”

Melalui pelatihan ini, diharapkan peserta khususnya tim jurnalistik SMK/SMA/MA dapat meningkatkan kemampuan menulis, berpikir kritis, serta menjadi generasi muda yang kreatif dan berintegritas dalam menyebarkan informasi positif.***

(Zulkarnain surya saputra/SMKN 1 Susukan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *