Ketika Manusia Kehilangan Fokus atas Jaminan Rezeki dari Allah
SEMARANG – nujateng.com – Kajian bakda Subuh yang disampaikan oleh KH. Multazam Ahmad diawali dengan istighosah yang diikuti khusyuk oleh para jamaah, memohon keberkahan dan kelapangan rezeki kepada Allah SWT. Suasana penuh kekhidmatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi kajian yang sarat makna.
Dalam kajiannya, beliau menyoroti kandungan Surat Adz-Dzariyat, khususnya ayat “innallāha huwa ar-razzāqu dzul quwwatil matīn” yang menegaskan bahwa Allah adalah sebaik-baik Pemberi rezeki, Yang Maha Kuat lagi Maha Kokoh. Disampaikan bahwa pada hakikatnya setiap manusia telah dijamin rezekinya oleh Allah SWT, namun sering kali manusia sendiri yang kehilangan fokus sehingga tidak menyadari limpahan nikmat yang telah diberikan.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Allah menciptakan langit, bumi, dan seluruh isinya untuk kepentingan manusia. Nikmat seperti kemampuan berjalan, melihat, hingga kesehatan merupakan bagian dari rezeki yang sering dianggap biasa. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa manusia tidak akan mampu menghitung seluruh nikmat-Nya.
Dalam penyampaian yang ringan dan penuh hikmah, beliau memberikan contoh nyata dari salah satu jamaah, yakni Pak Arif, yang mengalami gangguan pada kakinya terlihat saat ke masjid yang mana sebelumnya menghadiri undangan makan kambing cempe. Makanan tersebut memang termasuk rezeki yang halal, namun belum tentu memenuhi unsur thayyib (baik dan menyehatkan). Beliau juga mengingatkan pentingnya tidak berlebihan dalam makan serta menjaga kesehatan sebagai bagian dari bentuk syukur atas nikmat Allah SWT.
Mengutip pendapat Ibnu Athaillah, beliau menyampaikan beberapa kunci untuk memperoleh dan melapangkan rezeki, yaitu :
- Bersyukur atas nikmat Allah,
- Gemar berbagi dalam berbagai bentuk kebaikan,
- Melakukan ikhtiar yang baik dan sungguh-sungguh, serta
- Senantiasa berdoa kepada Allah SWT.
Kajian ditutup dengan pesan agar jamaah senantiasa menyadari bahwa rezeki telah dijamin oleh Allah SWT, namun harus disikapi dengan rasa syukur, usaha yang benar, serta menjaga agar setiap yang dikonsumsi tidak hanya halal tetapi juga thayyib. Kegiatan kemudian diakhiri dengan ramah tamah, mempererat ukhuwah dan kebersamaan antar jamaah.

