Ini Alasan Mengapa Dokter Bedah Tidak Selalu Memilih Operasi Terbuka?
Oleh: Dr. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa*)
NUJATENG.COM – Dalam benak masyarakat awam, sosok dokter bedah sering kali identik dengan ruang operasi yang dingin, lampu benderang, dan pisau bedah yang siap
menyayat. Muncul stigma bahwa “bertemu dokter bedah berarti harus siap dipotong.”
Ketakutan inilah yang sering kali membuat pasien terlambat mencari pertolongan, hingga penyakitnya mencapai stadium yang sulit dikendalikan.
Padahal, di era kedokteran digital dan biomolekuler saat ini, wajah dunia bedah telah berubah total. Seorang dokter bedah modern bukan sekadar teknisi medis, melainkan seorang “Internist who has a knife”—seorang dokter spesialis penyakit dalam yang dibekali kemampuan intervensi fisik.
Beban Intelektual di Balik Keputusan Klinis
Beban terberat seorang dokter bedah bukanlah saat menggerakkan tangan di meja operasi, melainkan saat menentukan: “Kapan pasien ini harus dioperasi, dan kapan operasi justru harus dihindari?”
Sebagai “internis berpisau”, kami harus menguasai pengetahuan yang sangat luas—mulai dari anatomi makro hingga fisiologi molekuler. Sebelum menyentuh instrumen, seorang dokter bedah harus menganalisis apakah kondisi sistemik pasien (jantung, paru, metabolisme) mampu menahan trauma pembedahan. Keputusan untuk tidak melakukan operasi terbuka pada kasus-kasus tertentu sering kali merupakan bentuk keahlian tertinggi untuk menjaga keselamatan pasien (patient safety).
Reparasi Anatomi untuk Memulihkan Fisiologi
Tujuan utama pembedahan bukanlah sekadar membuang bagian tubuh yang sakit. Misi kami adalah mereparasi anatomi agar fisiologi kembali normal. Tubuh adalah sistem biologis yang saling terhubung; jika strukturnya rusak, maka fungsinya akan kacau.
Namun, reparasi ini tidak selalu memerlukan sayatan lebar (Open Surgery). Saat ini, kita memiliki spektrum tindakan yang jauh lebih ramah bagi tubuh.
Minimal Invasive (Laparoskopi/Endoskopi): Cukup melalui lubang kecil seukuran kunci, kami bisa memperbaiki organ di dalam perut atau sendi dengan bantuan kamera digital. Pemulihan jauh lebih cepat dan nyeri minimal.
Intervensi Non-Bedah: Menggunakan gelombang kejut atau kateter untuk menghancurkan batu ginjal atau sumbatan pembuluh darah tanpa luka sayat.
Biomolecular Surgery & Terapi Sel: Inilah masa depan yang sedang kita jalankan.
Terapi Sel: “Operasi” di Tingkat Molekuler
Salah satu terobosan besar yang kami kembangkan adalah Autologous Cell Therapy. Dalam metode ini, dokter bedah melakukan intervensi pada level biologi sel.
Alih-alih memotong jaringan yang rusak atau mengganti sendi dengan logam, kami memanfaatkan potensi regeneratif dari tubuh pasien sendiri (seperti Stem Cell atau Secretome).
Dengan menyuntikkan sel sehat ke area yang cedera, kita memicu tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Ini adalah bentuk “operasi biologis” yang sangat minim trauma namun memberikan hasil yang revolusioner.
Jangan Terlambat karena Ragu
Pesan saya kepada masyarakat: Jangan takut menemui dokter bedah. Ketakutan Anda akan operasi terbuka sering kali justru menjadi penghambat kesembuhan.
Semakin awal Anda berkonsultasi, semakin besar peluang kami untuk menerapkan tindakan yang cepat dan tepat melalui filosofi BiSQuAT (Biological Smart Quick Action Treatment).
Dengan deteksi dini, dokter bedah dapat memilih opsi yang paling ringan—baik itu melalui teknologi digital minimal invasif maupun terapi regeneratif seluler—agar Anda bisa kembali beraktivitas dengan kualitas hidup yang optimal.
Mari kita pandang dunia bedah bukan sebagai ancaman fisik, melainkan sebagai ikhtiar ilmiah yang terintegrasi untuk memulihkan fitrah kesehatan manusia seutuhnya.***
*)Dr. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa adalah Ketua Umum PREDIGTI dan Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang
