Tradisi Syawalan di Jawa: Antara Dakwah Islam dan Budaya Lokal

0
8130
Credit: Dr.KH. Rofiq Mahfudz, M.Si.

Oleh: Dr. KH. Rofiq Mahfudz, M.Si. (Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah dan Pengasuh Pesantren Ar-Ro’is Cendekia Kota Semarang)

Syawalan adalah salah satu dari ribuan tradisi yang tersebar di masyarakat Jawa, baik Jawa di bagian barat, tengah dan timur. Kita tahu bahwa Jawa adalah suku yang memiliki banyak ritual yang masih dilestarikan hingga sekarang. Terutama ritual yang berkaitan dengan pelaksanaan keagamaan.

Syawalan berasal dari kata Syawal dalam segi bahasa adalah nama bulan di tahun hijriyah yang jatuh setelah bulan Ramadhan. Dalam penanggalan Islam, syawal termasuk bulan yang diistimewakan oleh Allah swt dimana salah hari raya besar Islam ada di dalam bulan ini. Di Syawal juga ada anjuran untuk melaksanakan puasa sunnah yang dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut setelah perayaan Idul Fitri.

Sementara Syawalan dalam kultur masyarakat Jawa lebih dikenal sebagai tradisi perayaan atau ungkapan syukur yang diwujudkan dalam laku ritual tertentu. Hal ini menjadi ciri khas tersendiri bagi masyarakat Jawa dalam serangkaian perayaan Idul Fitri. 

Pada dasarnya tradisi-tradisi yang berkembang di Jawa sangat berkaitan dengan paham keagamaan yang diwariskan dari walisongo ketika menyebarkan agama Islam di Jawa dengan penuh kedamaian dan kesejukan.

Tradisi tersebut bermula dari kebiasaan baik seperti silaturahmi, ziarah hingga sedekah. Kemudian berkembang hingga menjadi nyadran, ziarah, grebeg syawal dan lain sebagainya yang memiliki nuansa sedekah, silaturahmi dan persatuan umat Islam

Ada beberapa tradisi yang unik di berbagai daerah diantaranya:

Pertama, tradisi Grebeg Syawal di Yogyakarta. Tradisi ini pertama kali dilaksanakan pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar tahun 1725 M. Perayaan ini menjadi simbol akulturasi budaya Jawa dan ajaran Islam di Yogyakarta. Tradisi ini adalah bagian dari wujud syukur atas berakhirnya bulan Ramadhan. “Grebeg” sendiri memiliki makna  berjalan beriringan di belakang “ngarso ndalem” atau raja dan sebenarnya tradisi ini adalah upacara adat yang dilakukan oleh pihak keraton untuk memperingati hari-hari besar dalam Islam. Dalam pelaksanaanya diawali dengan iring-iringan prajurit keraton yang mengawal gunungan berisi aneka ragam hasil bumi.

Di sumber yang lain, disebutkan bahwa Grebeg Syawal sudah ada sejak kerajaan Jawa Kuno. Namun ketika Islam masuk ke Jawa, tradisi ini sempat ditiadakan sementara sampai akhirnya digelar kembali oleh walisongo dengan nuansa yang lebih religius yaitu diiringi dengan do’a-do’a dan wujud syukur karena mendapatkan hasil bumi yang melimpah.

Kedua, tradisi Syawalan di Kaliwungu Kendal. Tradisi ini berlangsung selama 7 hari setelah Idul Fitri yang dilakukan oleh masyarakat Kaliwungu. Pusat tradisi syawalan ini adalah makam Kiai Guru Asy’ari, salah satu ulama yang membuka wilayah Kaliwungu Kendal dan aktor utama penyebaran Islam di daerah tersebut. Adanya pelaksanaan syawalan ini sebagai bentuk mengenang sejarah dan mengingat Kembali perjuangan orang-orang terdahulu dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Sebelum berkembang seperti sekarang, tradisi ini dimulai dengan ziarah ke makam leluhur oleh keluarga Kiai Asyari saja kemudian diikuti oleh masyarakat luas.

Ketiga, tradisi Syawalan di Demak. Kota wali tersebut adalah kota yang kental dengan Islam dan budaya Jawa. Mengingat Demak pernah menjadi kota terpenting di wilayah pantura pulau Jawa. Ada satu tradisi selepas lebaran yang masih dilestarikan hingga sekarang yaitu sedekah laut atau nyadran. 

Masyarakat Demak banyak yang hidup bergantung dengan kekayaan laut, artinya mereka sangat dicukupi kebutuhannya oleh Allah swt melalui adanya lautan yang luas, sehingga mereka bisa menjalani hidup dengan mengandalkan hasil laut. Oleh karena itu, masyarakat Demak mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah melalui laut dengan cara memberikan sedekah laut.

Dari ketiga contoh tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa tradisi lokal di Jawa yang berkaitan dengan aktivitas keagamaan sangat berkaitan dengan metode dakwah yang dilakukan oleh walisongo. Agus Sunyoto salah satu sejarawan di kalangan Nahdlatul Ulama menjelaskan dalam Atlas Walisongo bahwa para walisongo memiliki kecerdasan dalam melakukan dakwah di Jawa yaitu mengakulturasikan aktifitas atau ritual yang sudah berjalan dengan memodifikasi memakai ajaran Islam.