Puasa sebagai Terapi Kesehatan Mental

0
4706
Dr. KH. A. Rofiq Mahfudz, M.Si_Puasa sebagai Terapi Kesehatan Mental

Oleh: Dr. KH. A. Rofiq Mahfudz, M.Si
(Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah, Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Rois Cendekia Semarang)


Nujateng.com
– Umat Islam di seluruh belahan dunia telah menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan riang gembira dan kesungguhan untuk menjalani hari-hari yang mulia. Mengingat Ramadhan adalah bulan yang suci dalam Islam, Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada umat Islam dengan melipatgandakan segala kebaikan yang dilakukan selama di dunia. Selain itu, Allah SWT juga memberikan rahmat-Nya dengan menghapus berbagai dosa, baik yang terlanjur dikerjakan di masa lalu maupun di masa yang akan datang.


Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan (didasari) keimanan dan semata-mata mengharapkan Ridha-Nya, maka akan diampunkan dosa-dosanya di masa lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).


Pada dasarnya manusia diciptakan di bumi hanyalah untuk mengabdi (ta’abbudi) kepada Allah SWT, oleh karena itu kualitas kemuliaan manusia ditentukan dengan kapasitas peribadatannya. Setiap peribadatan dalam Islam mempunyai nilai pembentukan akhlak. Salah satu peribadatan tersebut adalah puasa, oleh sebab itu puasa (Ramadhan) merupakan pelatihan dan pembinaan akhlak yang dilakukan selama satu bulan Ramadhan. Selama proses puasa dijalankan setiap hari selama satu bulan penuh secara otomatis pengendalian diri dan pembinaan akhlak dapat berlangsung, sehingga hal ini akan menuntun manusia pada kondisi yang benar-benar sehat secara fisik dan mental karena diajarkan norma keikhlasan dalam menjalankannya.


Bulan Ramadhan adalah bulan suci yang penuh dengan berkah, keberkahan tersebut tidak hanya sebatas pada urusan-urusan yang berkaitan dengan akhirat saja, melainkan juga pada urusan dunia (termasuk kesehatan). Puasa yang didasari keimanan dan keikhlasan dapat menjadi kekuatan yang luar biasa dalam membekali manusia menuju religiusitasnya. Dengan demikian, kekuatan rohaniah yang ada dalam diri manusia bisa menopang dan menanggung beratnya kehidupan, menghindarkannya dari keresahan yang sering menimpa manusia generasi zaman modern yang didominasi dengan kehidupan materi.


Salah seorang peneliti ahli psikologi dari Amerika Serikat, William James mengatakan bahwa terapi terbaik dalam keresahan jiwa adalah keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan. Keimanan seseorang kepada Tuhan merupakan kekuatan untuk meminimalisir ketergantungan kepada materi. Manfaat ini dapat ditemukan dalam ibadah puasa, sebab puasa mengajarkan manusia untuk sederhana, sabar dan mengintrospeksi diri. Dari sini kesehatan mental sangat penting karena dapat memperbaiki cara pandang kita dalam menjalani kehidupan dan hubungan sosial dengan orang lain.


Pada hakikatnya kesehatan mental ini bisa mengantarkan kita pada peribadatan kepada Allah SWT dengan sempurna. Baik peribadatan secara vertikal maupun horizontal, karena Islam memberikan konsep perbuatan kebaikan (ibadah) dalam dua hal; Pertama, ibadah yang berkaitan langsung dengan Allah SWT (hablum minallah) dan ibadah yang berkaitan dengan sosial (hablun mina nas). Dua hal ini menjadi kewajiban seorang muslim sejati untuk menjalankan misi penghambaannya kepada Allah SWT. Dua hal ini adalah prinsip Islam yang bertumpu pada nilai ketauhidan dan penghambaan yang merupakan inti atau ruh dalam Islam. Dengan kata lain, dua hal tersebut merupakan konsep sentral dan sangat fundamental bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan di dunia. Sehingga dari hal tersebut dapat membentuk muslim yang memiliki kesalehan individu dan kesalehan sosial.