KUPI Gelar Halaqah Pra Kongres Bersama Ulama Perempuan Se-Jawa

2
1578
KUPI Gelar Halaqoh Pra Kongres Bersama Ulama Se-Jawa
foto saat pembukaan halaqah yang dilangsungkan di Ruang teater fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang Senin 8 Agustus 2022. sumber: Sidik Pramono
Iklan

Semarang, nujateng.com – Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menggelar acara halaqoh pra kongres bersama dengan ulama-ulama perempuan se-Jawa yang berempat di UIN Walisongo Semarang pada Senin, (8/8/2022).

Acara yang diikuti oleh 50 ulama dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Yogyakarta tersebut dimaksudkan untuk persiapan kongres kedua KUPI yang akan dilangsungkan pada November 2022 di Jepara.

Hal tersebut sesuai yang disampaikan oleh Perwakilan KUPI, Nyai Badriyah Fayyumi dalam sambutan sebelum memulai halaqah. Dirinya menyampaikan halaqoh tersebut adalah rangkaian acara untuk menyiapkan organisasi pada Kongres yang akan datang.

“Halaqah ini adalah serangkaian persiapan kongres yang akan diadakan pada November mendatang. Selain itu halaqah ini adalah bagian dari pertanggungjawaban substansi dan proses,” tuturnya kepada peserta halaqah yang datang.

Tanggung jawab dalam konteks proses ini menurut Nyai Badriah dilakukan dengan mengakomodir berbagai suara dari bawah dalam merumuskan produk hukum melalui halaqah di berbagai tempat untuk merumuskan suatu hukum.

“Pertanggungjawaban secara proses ini adalah dengan membuat produk hukum secara bottom up atau dari bawah ke atas, bukan dari atas ke bawah,” tutur pengasuh pondok pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits tersebut.

Dengan begitu, tambah Nyai Badriah, produk hukum yang dihasilkan merupakan tanggung jawab bersama utamanya ulama peserta halaqah. Sedangkan pertanggungjawaban secara substansinya, produk hukum yang akan dihasilkan harus mencerminkan KUPI itu sendiri.

“Ini bukanlah proses awal atau hanya satu-satunya saja. Akan tetapi, serangkaian proses yang dikerjakan secara sungguh-sungguh dan tidak main-main,” pungkasnya dalam memberikan sambutan.

Halaqah dilaksanakan dengan membagi peserta menjadi dua forum yang membahas dua isu besar. Pertama, peran perempuan dalam merawat kebangsaan dan mencegah ekstrimisme. Kedua, pengelolaan sampah.

(Rep. Sidik Pramono/ed. Sadad Aldiansyah)