GUSDURian Pekalongan Gelar Diskusi ‘Memaknai Pelestarian Lingkungan dalam Perspektif Agama’

1
7392
foto bersama peserta dan narasumber setelah diskusi. sumber: Khairul Anwar
Iklan

Pekalongan, nujateng.com – GUSDURian Pekalongan menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Ngobrol Maslahat” bersama Pelaku 1000 Abrahamic Circles Project bertempat di Rumah Makan Ayam Kalongan, Pekalongan, pada hari Selasa (23/8/2022).

Selain GUSDURian Pekalongan, kegiatan ini juga diinisiasi oleh empat komunitas lainnya, yakni Foreign Policy of Community of Indonesia (FPCI), Pembela Tanah Air Indonesia (Petanesia), Yayasan Jalan Terjal Mendaki dan Komunitas Sahabat Kalongan (Kosaka).

Program “The 1000 Abrahamic Circles’ merupakan program pengalaman antar-iman yang melibatkan tiga pemuka agama samawi di antaranya Islam, Kristen dan Yahudi dari berbagai negara. Program ini digagas oleh FPCI.

Pada kegiatan yang mengambil tema “Memaknai Kelestarian Lingkungan dari Sudut Pandang Agama” menghadirkan tiga narasumber, yakni Jeffrey Stefen Berger (Yahudi) dari Inggris, Reverand Dwi Argo Mursito (Kristen) dari Indonesia, dan Imam Alaa Elzokm (Islam) dari Australia.

Sebelum diskusi dimulai, terlebih dahulu Koordinator Komunitas GUSDURian Pekalongan, Riril Widi Handoko, memperkenalkan makna tentang 9 prinsip nilai-nilai GUSDURian kepada para tamu yang hadir. Disampaikan bahwa 9 nilai utama itu menjadi pondasi dan gerak langkah para Gusdurian untuk merawat dan melestarikan perjuangan Gus Dur.

“Sembilan nilai itu antara lain adalah ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaa, persaudaraan, keksatriaan, dan kearifan tradisi,” kata Riril.

Sementara itu, salah satu narasumber yang juga menjadi pendeta di Gereja Kristen Jawa Pekalongan, Reverand Dwi Argo Mursito, selaku mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah salah satunya untuk membangun pemahaman bersama lintas agama.

“Selain itu, tujuan lainnya yakni membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga alam berdasar dorongan agama dan endorong aksi nyata untuk pelestarian lingkungan,”ucapnya.

Dalam penyampaiannya, Imam Masjid Elsedeaq Heidelberg di Melbourne, Australia, Alaa Elzokm, menyatakan bahwa tugas menjaga lingkungan alam semesta ini harus dilakukan oleh semua agama.

“Dalam perspektif Islam, manusia dan lingkungan memiliki hubungan relasi yang sangat erat karena Allah SWT menciptakan alam ini termasuk di dalamnya manusia dan lingkungan dalam keseimbangan dan keserasian. Keseimbangan dan keserasian ini harus dijaga agar tidak mengalami kerusakan,” paparnya.

Sedangkan, Rabi Yahudi asal London, Jeffrey Stefen Berger, menuturkan bahwa pembahasan isu lingkungan jangan hanya berhenti pada titik diskusi saja, melainkan juga pada aksi nyata, supaya konsep dan pemikiran yang sudah direncanakan dapat terimplementasikan dengan baik.

“Upaya pelestarian lingkungan dapat dilakukan dengan hal-hal kecil terlebih dahulu. Baik individu maupun sebuah kelompok perlu memiliki prinsip-prinsip yang sama, yakni akan pentingnya merawat lingkungan,” terangnya.

Kegiatan diskusi ini juga dihadiri oleh berbagai kelompok lain, seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), pejabat Pemerintah, hingga tokoh masyarakat. Sesuai kesepakatan bersama, kegiatan ini akan kembali ditindaklanjuti dengan waktu dan tempat yang belum ditentukan.

(Kontributor: Khairul Anwar/ed. Sidik Pramono)