Alasan Sayyidina Husein Pergi ke Karbala dalam Tarikh At-Thobari

1
2959
ilustrasi. sumber: istimewa
Iklan

Oleh: Abdullah Faiz (Pimpinan Redaksi nujateng.com)

Dalam sejarah umat beragama khususnya Islam, tanggal 10 Muharram merupakan hari yang sangat penting. Pada tanggal tersebut terjadi banyak pristiwa agung yang tercatat dalam sejarah umat Islam. Salah satu kejadian agung dalam tanggal tersebut adalah terbunuhnya Sayidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, salah satu cucu kesayangan Rasulallah saw. Ia terbunuh secara tragis dibantai bersama 70 keluarganya di daerah Karbala.

Kejadian tersebut menjadi hari kesedihan bagi sebagian besar umat Islam. Namun kesedihan tersebut tidak lantas diartikan sebagai hari berkabung dikemudian hari dengan perayaan yang menyakiti diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh para muhibbin Ali bin Abi Thalib yang menjadikan hari itu sebagai hari kesedihan. Sementara sebagian umat Islam lainya merayakan atas terbunuhnya Husein.

Ia dibunuh oleh pasukan Yazid bin Mu’awiyah setelah dikepung selama tiga hari. Dalam sejarah disebutkan bahwa Husein mendapatkan undangan dari masyarakat Kufah untuk datang ke tempatnya dan menjanjikan dengan dukungan serta kekuasaan menggantikan Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu Husein tertarik dan ingin mendatangi Kufah namun para sahabat mencegahnya dengan berbagai alasan.

Meskipun para sahabat sudah mencegahnya untuk tidak pergi ke Kufah namun Husein tetap berpegang teguh dengan keinginanya. Diantara sahabat yang mencegah adalah Abdullah bin Zubair.

أين تذهب؟! تذهب إلى قوم قتلوا أباك وطعنوا أخاك. لا تذهب فأبى الحسين إلا أن يخرج

“Kamu mau kemana.? Akankah pergi menemui kaum yang sudah membunuh ayahmu dan menikam kakakmu Hasan.? Coba urungkan niatmu untuk mendatangi mereka,” ungkap Abdullah bin Zubair.

Namun Husein tetap pergi, ia memiliki alasan tersendiri dalam perjalanan tersebut. Sebelumnya beberapa tahun yang lalu Rasulallah saw sudah memberikan kabar bahwa cucu kesayanganya akan meninggal terbunuh oleh umatnya sendiri. Kabar tersebut kemudian tersebar kepada para sahabat dan telinga Husein sendiri.

Kepergianya ke Kufah adalah bentuk keyakinan Husein dengan sabda datuknya. Sementara di bulan Muharram ia sudah merasakan bahwa ajalnya sudah dekat. Beliau ingin menjauh dari tanah Makkah dan Madinah karena kedua tempat tersebut adalah tempat haram. Ia berharap terbunuh di tempat lain untuk menjaga kemuliaan tanah Mekkah dan Madinah dari pertumpahan darah sehingga beliau memiliki alasan untuk pergi ke Kufah dan meninggal di Karbala.

Dalam Tarikh At-Thabari disebutkan kisah

و الله لأن اقتل خارجا منها بشبر أحب إلي من أن أقتل داخلا منها بشبر، و اين الله لو كنت في حجر هامة من هذه الهوام لاستخرجوني حتى يقضوا في حاجتهم، والله ليعتدن علي كما اعتدت اليهود في السبت

Demi Allah swt terbunuhnya aku sejengkal di luarnya (tanah haram) lebih aku sukai daripada aku terbunuh sejengkal di dalamnya. Demi Allah swt andai aku bersembunyi di salah satu lubang persembunyian hewan hewan melata, mereka pasti mengeluarkanku sampai mereka memenuhi hajatnya (membunuh husein) dan demi Allah swt mereka akan mendzalimiku sebagaimana kaum Yahudi berbuat zalim di hari sabtu. (HR. At-Thobari)

Pernyataan Husein ini semakin menegaskan bahwa beliau sudah merasakan dan mengetahui kapan kematian itu akan tiba. Kemudian Husein memilih keluar dari tanah haram agar tidak menodai kesucian tanah haram (Makkah dan Madinah) dengan pertumpahan darah.