Sasar Generasi Millenial, Mahasiswa Kelompok 10 KKN MIT 14 UIN Walisongo Gelar Webinar Moderasi Beragama

1
4086
Iklan

Mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang tergabung dalam Kelompok 10 KKN MIT ke 14 menggelar Webinar Moderasi Beragama bertajuk “Penguatan Moderasi Beragama di Kalangan Generasi Milenial” pada Minggu (3/7).

Acara yang diselenggarakan secara daring melalui Google Meet ini diikuti oleh kurang lebih 40 peserta dari berbagai kalangan.

Dalam sambutannya, Aang Asari selaku Dosen Pembimbing Lapangan menegaskan bahwa moderasi beragama seharusnya tidak hanya diterapkan dalam ranah perbedaan agama saja, tetapi juga diimplementasikan dalam berbagai bentuk dengan cara memahami dan menghargai perbedaan di tengah kita.

“Moderat itu seimbang, tengah-tengah, tidak ke kiri tidak ke kanan. Moderat itu toleransi, saling memahami, memaklumi didalam perbedaan kalau istilah di dalam kitab khoiru umur ausathuha sebaik-baiknya perkara itu di tengah-tengah, sehingga ketika ada yang perbedaan satu sama lain kita bisa saling menghormati”

Ia juga berpendapat agar moderasi beragama dapat ditafsirkan secara luas dan tidak berhenti pada ritual ibadah saja.

“Ini bukan hanya tentang keyakinan tapi apapun, seperti beda pendapat dan lainnya. Saya harap moderasi beragama bisa ditafsiri dengan luas, bukan seperti ritual ibadah saja, dan harapannya, acara yang disajikan ini memberikan wawasan baru, ilmu yang lebih sehingga kita bisa memahami perbedaan diantara kita” tutur Aang.

Menurut Abdullah Faiz Pimpinan Redaksi nujateng.com sekaligus Narasumber, penjelasan Moderasi Beragama ini sangat kompleks dan dapat diartikan secara luas.

“Moderasi beragama menceritakan pola sosial kita dalam beragama, jadi yang moderat itu para penganutnya, bukan agamanya, karna setiap dalam agama tidak ada ajaran menyudutkan kelompok lain. Dasar moderasi beragama ini sudah ada sejak zaman Rasulullah dahulu”.

Pria yang akrab disapa Faiz tersebut berharap Moderasi Beragama tidak hanya menjadi gagasan yang hanya bermuara diide saja, tetapi juga dapat dipraktikkan pada bentuk kerja yang nyata di tengah masyarakat.

“Banyaknya diskusi moderasi beragama di lingkungan kita semoga tidak hanya menjadi instrumen eksistensi saja tetapi bisa diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Saling memahami perbedaan merupakan instrumen menerapkan moderasi beragama secara kaffah .”

Dirinya yang juga aktif menulis isu-isu keislaman di kolom alif.id menyebut gagasan moderasi beragama sering dianggap lahir sebagai jalan tengah dari dua paham yang berlebihan yakni Liberalisme dan esktremisme.

“Kalau ditelaah lebih lanjut arti sebenarnya moderasi beragama memiliki makna yang lebih luas. Moderasi beragama bukan berarti tidak ikut sana, tidak ikut sini melainkan harus memiliki pendirian yang kuat, kita harus memposisikan diri sebagai bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman dan banyak perbedaan”

Menurutnya, indikator moderasi beragama memiliki beberapa aspek yaitu komitmen kebangsaan, sikap toleransi dan saling menghormati, tidak berlebihan dan akomodatif terhadap budaya lokal.

Reporter: Selma, Sabil