NU, Idul Adha, dan Pengurangan Sampah Plastik

1
4622
NU, Idul Adha dan Pengurangan Sampah Plastik
Foto daging kurban yang dibagikan tanpa menggunakan plastik. sumber: istimewa
Iklan

Oleh: Muhamad Sidik Pramono (Kader PC IPNU Kab. Sragen)

nujateng.com – Hari raya idul Adha tinggal menghitung hari saja. Aktivitas persiapan mulai dari jualan hewan ternak untuk kurban sudah banyak digelar. Bahkan di kanan atau kiri jalan sudah mulai berjejer para penjual hewan ternak.

Hari raya kedua umat islam selain idul fitri memang identik dengan melakukan penyembelihan hewan ternak mulai dari kambing, domba, sapi, kerbau ataupun unta. Penyembelihan hewan kurban oleh umat islam di seluruh dunia berlangsung dari tanggal 10 Dzulhijjah hingga tanggal 13 Dzulhijjah atau biasa disebut dengan hari tasyrik.

Sebagai ibadah, tentu banyak manfaat yang dapat didapat dari menjalankan syariat agama tersebut. Mulai dari pahala hingga pemerataan keadilan dalam bentuk membagikan hewan kurban kepada semua umat islam tanpa terkecuali. Sayangnya, di tengah perayaan hari raya Idul Adha ada hal dinilai tidak begitu baik untuk dijalankan yakni penggunaan plastik sebagai wadah dari daging hewan kurban yang akan dibagikan untuk umat.

Persoalan terkait pemakaian plastik sebagai wadah daging kurban sebenarnya sudah menjadi kritik yang sudah lama bergaung. Namun, seakan tidak ada opsi lainnya, penggunaan sampah plastik terus berlanjut cum dilanggengkan. Masih banyak panitia-panitia kurban yang menggunakan plastik sebagai wadah daging kurban karena dinilai praktis dan ekonomis.

Di samping plastik yang dijadikan wadah daging kurban nantinya hanya akan mencemari lingkungan, sisi buruk lainnya dari penggunaan plastik ialah berpengaruh buruk pada kesehatan manusia. Terlebih lagi plastik daur ulang yang terbuat dari berbagai bahan-bahan limbah buangan manusia.

Akan tetapi, pelaksanaan di lapangan, plastik daur ulang sering kali dijadikan pelapis untuk plastik bening. Dengan demikian, semula niat baik berbalik dengan penambahan sampah plastik. Apalagi, plastik bekas wadah daging kurban tidak dimanfaatkan kembali atau dibuang begitu saja.

Alternatif Lain dan Upaya Mengurangi Sampah Plastik

Sebenarnya ada banyak alternatif yang dapat dijadikan pengganti plastik sebagai wadah daging kurban. Salah satunya adalah dengan menggunakan besek atau bambu yang sudah dianyam. Besek atau wadah tape yang terbuat dari bambu lebih ramah lingkungan karena tidak mencemari lingkungan dan bahkan dapat dimanfaatkan kembali. Bahkan, besek juga dapat digunakan untuk media tanam sayuran atau tempat untuk menyemai sayuran.

Alternatif lainnya yakni pada saat proses penyembelihan sudah selesai lalu daging siap dibagikan, masyarakat dapat diimbau mebawa wadah sendiri-sendiri untuk mengambil jatah hewan kurban yang biasanya dilaksanakan di halaman masjid.

Dengan begitu masyarakat datang dengan membawa wadah sendiri–selain plastik–tinggal mengambil jatah kurban pada wadah yang telah dibawa. Selain itu, wadah yang dapat dijadikan tempat daging kurban selain plastik, atau besek adalah daun pisang, daun jati atau pun juga bisa menggunakan wadah bukan sekali pakai.

Dapat dibayangkan jika setiap tempat penyembelihan hewan kurban baik yang dilaksanakan di masjid, musholla atau di tempat pemotongan hewan kurban setiap pembagiannya menggunakan kantong plastik berapa banyak sampah yang nantinya akan dihasilkan?

Mengutip pendapat dari Direktur Pengurangan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sinta Saptarina sebagaimana dimuat suara.com mengatakan, perkiraan jumlah hewan kurban tahun ini sebanyak 1.814.403 ekor dengan kemungkinan timbulan sampah plastik yang dihasilkan sebesar 124.265.950 lembar. Tentu angka tersebut bukanlah angka yang kecil.

Peran Vital NU dalam Upaya Pengurangan Sampah Plastik Kurban

Melihat fenomena sekarang ini, permasalahan lingkungan yang diakibatkan dari sampah plastik semakin parah. Mulai dari pemanasan global hingga pencemaran sampah plastik yang sudah berubah menjadi mikroplastik pun terdeteksi hingga di Palung Mariana. Tentu hal ini perlu menjadi berhatian kita bersama sekaligus perlu tindakan nyata.

Sebagai ormas islam terbesar dengan pengikut paling banyak di Indonesia, NU memiliki peran vital dalam pengendalian sampah plastik yang dipakai ketika pembagian daging kurban. Peran yang kiranya bisa dilakukan NU minimal ialah dengan mengeluarkan imbauan untuk tidak menggunakan plastik sebagai bungkus daging kurban ketika dibagikan.

Tidak berhenti dengan mengeluarkan imbauan untuk tidak menggunakan plastik saja namun, sebagai organisasi kultural, NU juga dapat melakukan fungsi pengawasan hingga ke ranah masjid atau musholla melalui kepengurusan NU atau banom NU di tingkatan Ranting (desa).

Dalam hemat penulis, diakui ataupun tidak pada tingkatan implementasi terkait penggunaan sampah plastik untuk daging hewan kurban, kepengurusan NU yang ada di tingkatan ranting ataupun anak ranting memiliki peran vital dibandingkan struktur di atasnya. Ini disebabkan karena, kepengurusan NU yang ada di tingkatan rantinglah yang bersinggungan langsung bahkan dipercaya menjadi panitia penyembelihan hewan kurban. Bagi penulis, langkah nyata perlu dilakukan oleh NU mengingat krisis iklim dan pencemaran lingkungan akibat plastik kian hari semakin memprihatinkan. Peran lainnya yang bisa dilakukan NU adalah dengan mengadakan gerakan kurban tanpa kantong plastik.