Hijrah Bukan Soal Merasa Lebih Baik Dari Liyan

1
1026
Hijrah bukan Soal Lebih baik dari pada liyan
ilustrasi. sumber: alodokter
Iklan

Oleh: Mohamad Muzamil (Ketua Tanfidziyah PW NU Jawa Tengah)

nujateng.com – Diterimanya Islam sebagai jalan hidup umat merupakan hidayah atau petunjuk dari Alloh Ta’ala, dan merupakan suri tauladan yang baik (uswah al-hasanah) Nabi Muhammad Saw beserta keluarga, para sahabatnya dan pengikutnya dengan akhlak yang mulia. 

Karena itu, diterimanya Islam oleh umat bukan merupakan paksaan. Melainkan karena kesadaran yang dibangun atas dasar kesukarelaan bahwa umat merupakan hamba Alloh Ta’ala yang bertugas untuk berserah diri kepada-Nya dan berbuat baik kepada sesama umat. Di samping itu, Islam dibangun atas dasar ilmu dan ketakwaan kepada Alloh SWT, bukan karena kekuatan militer. Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya memang memiliki kekuatan militer, namun hal ini semata-mata untuk mempertahankan diri dari agresi militer pihak lain.

Pada dasarnya Nabi Muhammad Saw berdakwah dengan argumentasi ilmu berdasarkan Wahyu yang diterimanya melalui Malaikat Jibril as. Pada mulanya Nabi menyampaikan Wahyu tersebut kepada orang per orang melalui dialog. Kemudian disampaikan secara terbuka melalui kerumunan orang di berbagai tempat. Setelah itu muncul perlawanan dari sebagian kelompok orang hingga Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya diperintahkan hijrah ke Habasyah, dan kemudian ke Yatsrib.

Pada hijrah yang pertama dilakukan oleh sahabat-sahabatnya dan mendapatkan perlindungan dari Raja Habasyah. Setelah itu hijrah yang kedua dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya yang kemudian disebut sebagai Muhajirin. Sedangkan penduduk Yatsrib yang menyambut baik kedatangan Nabi dan sahabatnya disebut sebagai kaum Anshar.

Kaum Anshar yang sebelumnya dibaiat Nabi Muhammad Saw ketika perjalanan menunaikan ibadah haji, secara penuh menolong Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. Kaum Muhajirin dan Anshar dipersatukan oleh Allah SWT dengan ikatan jiwa dan raga, sehingga terbentuk komunitas masyarakat madani di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.

Orang-orang Madinah yang masih beragama Yahudi dan Nasrani namun tetap bergabung dalam komunitas masyarakat Madani tetap mendapatkan hak-haknya sebagai anggota masyarakat. Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya juga melindungi mereka. Mereka pun juga membantu Nabi Saw dan para sahabatnya apabila mendapat serangan dari pihak lain. Kehidupan yang harmonis tersebut membuat Islam semakin berkembang. Nabi Muhammad Saw mengirimkan surat ajakan kepada negeri-negeri lainnya agar Raja dan penduduknya dapat memeluk agama Islam.

Terhadap ajakan Nabi Saw tersebut ada yang menerima seperti Raja Etiopia, Bahrain, dan adapula yang menolak seperti Bizantium. Kepada masyarakat Madinah, Nabi Saw memperlakukan dengan adil. Bahkan sebelum Nabi Saw wafat, para penduduk dikumpulkan dan Nabi Muhammad meminta kesaksian dari mereka tentang Wahyu yang diterimanya apakah sudah disampaikan semuanya kepada mereka? Kemudian mereka menjawab, “sudah ya Rasulullah”.

Kemudian Nabi Saw bertanya, “adakah diantara kalian pernah dengan sengaja atau tidak, aku sakiti?” Semua menjawab, “tidak ya Rasulullah”. Namun ada seorang sahabat yang menyatakan, pernah ya Rasulullah. “Waktu itu Nabi naik kuda namun pecutnya mengenai badan saya”, kata Sahabat Ukasah.  “Kalau begitu silahkan membalas”, tegas Rasulullah.

Para sahabat lainnya dan keluarga Nabi merelakan agar dirinya sebagai pengganti yang menerima pembalasan. Namun Nabi Saw mencegahnya. Akhirnya Sahabat Ukasah mendekat kepada Nabi hendak membalas, namun akhirnya cambuknya dijatuhkan dan kemudian memeluk Nabi Saw sambil berkata, “Maaf Nabi, paduka pernah berkata siapa yang pernah memeluk ku dengan rasa hormat maka ia akan bersamaku di Syurga”. Mendengar ini Nabi Saw tersenyum, kemudian bergiliran para sahabat Nabi memeluk pemimpinnya yang agung dan berakhlak mulia tersebut.

Dengan demikian hijrah bukan semata-mata pindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan suatu perpindahan dari “kegelapan” menuju “cahaya”. Bukan semata-mata pindah dari yang tidak baik menjadi baik melainkan adanya kesadaran bahwa kebaikan itu semata-mata kehendak Allah semata.

Hal ini bukan tentang “merasa baik”, sedangkan yang lain “tidak baik”, namun kebaikan itu perlu kesaksian lainnya, khususnya dari Baginda Rasulullah Saw. Semoga kita semua mendapatkan hidayah, taufiq dan inayah Alloh SWT serta mendapatkan syafaat dari Baginda Rasulullah Saw, amin.

“Demikian lah Kami jadikan kamu ummatan washathan (umat pertengahan) supaya kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad Saw) menjadi saksi atas perbuatan kamu” (QS. 2 : 143).

Wallahu a’lam