Gelar Mujahadah dan Ruwatan Kendi di Depan Gubernuran, Gempadewa Tuntut Ganjar Hentikan Proyek Pertambangan di Wadas

0
4323
Gelar Mujahadah dan Ruwatan Kendi di Depan Gubernuran, Gempadewa Tuntut Ganjar Hentikan Proyek Pertambangan di Wadas
Sumber foto: istimewa
Iklan

Semarang, nujateg.com – Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempadewa) gelar aksi mujahadah dan Ruwatan Kendi di depan kantor Gubernuran Jawa Tengah menuntut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Prawono untuk menghentikan proyek penambangan batuan andesit di Desa Wadas pada Senin, 6/6.

“Perencanaan tambang ini kami mohon untuk dibatalkan! Karena akan merusak lingkungan. Kalau batunya diambil pastilah tanah itu tidak akan kuat lagi. Apalagi kalau terjadi tanah longsor. Kami semua orang yang tinggal di desa wadas yang akan merasakan itu semua dan bukan kalian yang hanya melihat di televisi”, Ujar Yatimah, salah seorang perempuan Wadas, saat berorasi.

Warga Wadas menilai Ganjar terlalu menggampang-gampangkan persoalan yang terjadi di Wadas sementara masyarakat semakin khawatir karena rencana penambangan tak juga segera dihentikan.

“Mana kebijakan bapak selama ini yang katanya “Iya nanti gampang, iya nanti gampang”, Ungkap Yatimah menirukan kata-kata Ganjar.

Lebih lanjut, “Jangan hanya menggampang-gampangkan. Kami warga wadas masih resah sampai saat ini dengan adanya pertambangan. Jadi resah [karena] terjadi pembayaran dan itu dilakukan oleh orang-orang di luar Desa Wadas yang tidak punya tanah di Wadas tetapi punya kepentingan di atas tanah desa Wadas. Mohon itu diperhatikan, Bapak Gubernur,” Pinta Yatimah, mewakili aspirasi Warga Wadas.

Perjuangan Warga Wadas yang tidak pernah surut, ungkap Yatimah, bukan hanya untuk mereka saja, melainkan juga demi anak cucu mereka yang masih kecil bahkan yang belum lahir dan seterusnya. Sebab bagi Yatimah dan Warga Wadas, ia melanjutkan, mereka butuh tempat tinggal dan tanah tidak akan bertambah luas sementara manusia bertambah banyak.

“Jika tanah kami rusak ditambang, terus bagaimana kita mau hidup?” Kata Yatimah. 

Bertepatan dengan momen Hari Lingkungan Hidup, warga Wadas juga tetap konsisten menyuarakan bahwa hidup berkelanjutan, menjaga keutuhan desa serta merawat warisan nenek moyang menjadi alasan utama penolakan mereka dari rencana pertambangan di desanya.

“Bersamaan dengan hari lingkungan hidup ini kami datang kemari untuk sowan sama Bapak. Perlu Bapak ketahui bahwa kami dari hari ini sampai seterusnya masih membutuhkan (kelestarian) desa Wadas. Karena desa Wadas adalah tumpuan kami, kami hidup sebagai petani kalau nggak punya ladang lalu bagaimana kami berladang?” Ujar Yatimah.

Selain mujahadah duduk bersama memanjatkan doa bagi keselamatan alam Desa Wadas di depan kawat berduri yang dipasang di depan gerbang kantor Gubernuran Jawa Tengah, mereka juga menggelar ritual Ruwatan Kendi sebagai simbol penghormatan warga Wadas terhadap 28 sumber mata air yang merupakan elemen penting bagi kehidupan dan menjadi elemen privat bagi perempuan. Sumber mata air itu kini terancam rusak, bahkan hilang jika aktivitas pertambangan dilakukan.

Reporter: Rusda Khoiruz

Editor: Rusda Khoiruz