Mewaspadai “Pemutaran Ulang Lagu Lama”

0
6930
recycling symbol carved in wood on grass. recycling concept. 3d render
Iklan

Oleh: K.H. Mohamad Muzammil (Ketua PWNU Jawa Tengah)

Mengapa kita umat Islam relatif terlambat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, barangkali salah satu sebabnya adalah seringnya kita membahas persoalan yang telah dibahas oleh generasi sebelumnya. Ibaranya “memutar ulang lagu lama” untuk disajikan kembali di tengah publik. Akibatnya Publik menjadi “jenuh”, seolah tidak dapat disajikan dengan penuh kreativitas, atau inovasi.


Jika tujuan pembahasan tersebut untuk belajar seperti di ruang kelas atau di ruang kuliah, maka merupakan suatu kebaikan yang pahalanya berlipat ganda, namun jika tujuannya untuk memecahkan persoalan-persoalan kekinian maka tentu tidak selaras dengan persoalan yang dihadapi ummat dewasa ini, sehingga umat tidak mendapatkan Jawaban atas persoalan riil yang dihadapinya, sehingga kebanyakan mereka menjadi “gamang” dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan perubahan.


Salah satu contoh masalah yang lama yang sering diungkit-ungkit adalah tentang bid’ah dan sunnah. Masalah ini tentu sudah final dibahas oleh ulama terdahulu, sehingga generasi sekarang tinggal mempelajarinya dan mengambil pendapat yang aslah untuk kehidupannya, dan dijalankan dengan prinsip tasamuh di tengah kemajemukan umat.


Kemudian masalah kepemimpinan, dalam fiqh klasik juga sudah dibahas secara lengkap tentang syarat-syarat menjadi pemimpin, ketentuan memilih pemimpin, dan konsekuensinya apabila seorang pemimpin tidak amanah dan sebagainya.
Demikian juga tentang negara, tentang partai politik, dan organisasi kemasyarakatan, juga sudah lama dibahas oleh generasi terdahulu. Namun sepertinya, tema-tema tersebut sering “diputar ulang”, sehingga seolah umat Islam tidak memiliki tema baru dalam pembahasan ilmiah.


Kajian yang benar-benar berangkat dari realitas kebutuhan hidup umat dan skala prioritas masalah mereka masih sedikit dibahas, dan masih dianalisis dalam forum yang terbatas. Akibatnya agenda utama ummat menjadi tidak terumuskan dengan baik sesuai dengan kebutuhan utama yang selalu berkembang.


Tentu saja, persoalan umat bukan sekedar bertahan untuk hidup mencari sesuap nasi, sehingga mereka cukup dikasih dengan “bingkisan” yang bersisi dua kilo gram beras, sekilo minyak goreng, sebungkus roti kering atau mie instan. Tentu bukan sekedar itu.


Masih ada realitas kehidupan bagaimana dengan tempat tinggal mereka, bagaimana dengan mata pencaharian mereka, pendidikan putra-putri mereka, dan sebagainya. Tentu semua ini menjadi tanggung jawab Ulil Amri diantara mereka.
Istilah Uil Amri tentu lebih luas dari sekedar pemerintahan, namun juga menjadi tugas para kaum hartawan, ulama dan do’a para fakir miskin itu sendiri. Sebab, Rasulullah Saw menegaskan, “tegaknya dunia karena adilnya para pemegang kebijakan, ilmunya para ulama atau kaum cendekiawan, kedermawanan orang-orang kaya, dan do’anya fuqara wal masakin”.
Apakah keempat pilar strategis dalam kehidupan ummat tersebut masih sinergis sebagaimana dikehendi Nabi Saw, atau justru telah terjadi sebaliknya?


Tanpa bermaksud berburuk sangka, dengan adanya asumsi para ahli politik yang menyebutkan adanya praktik politik oligarki, tentu umat menjadi tidak “berdaya” secara politik. Maka selalu dilemparkan isue agar umat selalu tertuju perhatiannya pada masalah-masalah khilafiyah, dan tidak bisa berkonsentrasi pada masalah pokok yang sebenarnya mereka hadapi secara nyata.  Dengan demikian umat akan mudah “dikondisikan” untuk mencapai tujuan para pihak yang terlibat dalam praktek politik oligarki.


Karena itu kapan kah umat dan para pemimpinnya memiliki kesadaran baru untuk berikhtiar secara kolektif mengatasi skala prioritas masalah utama yang dihadapi, berikut dengan seksama mencari jalan keluarnya dengan skema gerakan yang sistematis dan efektif?


Tentu ini bukan perkara mudah. Selain diperlukan keimanan dan integritas yang kuat, juga diperlukan solidaritas sesama umat. Dan justru untuk mencapai hal tersebut diperlukan “uluran tangan pihak lain” bukan berupa “sebungkus sembako”, melainkan kerelaan hati mereka yang memiliki kemampuan untuk melakukan pendidikan guna transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi kepada umat. Jadi “berilah mereka kail, jangan diberi ikannya. Selebihnya agar mereka nanti bisa diajak bersama mencari ikan”. Barangkali ini lah yang dikehendaki Rasulullah Saw dan para sahabatnya, “carilah ilmu walau di negeri China”.


Wallahu a’lam.