Haul Malam Selikur, Ketawadukan Romo Kyai dan Temu Alumni yang Tak Formal

0
5930
Haul Malam Selikur, Ketawadukan Romo Kyai dan Temu Alumni yang Tak Formal
Saat acara haul malam selikur, sumber: istimewa
Iklan

Oleh: Rusda Khoiruz Zaman

Tahun ini jadi tahun pertama setelah sekian purnama saya tak menginjakkan kaki di Gresik. Tentu saja tujuan utama saya adalah ke pondok, untuk turut serta dalam majlis haul malam selikur dan melepas rindu pada pondok. Haul malam selikur, selain menjadi rutinitas tiap tahun pondok pesantren Mamba’us Sholihin yang digelar pada malam ke-21 ramadhan, sekaligus menjadi ajang buat bertemu teman lama. 

Majlis haul malam selikur memang sempat ditiadakan dua kali berturut-turut karena pandemi Covid-19. Bukan berarti ditiadakan sama sekali, hanya saja dibatasi, khusus untuk tamu undangan tertentu dan segelintir santri yang tidak pulang, semata agar mata rantai covid-19 terputus.

Saya tak berpikir panjang untuk membeli tiket kereta api dari Semarang ke Lamongan kota ketika membaca selebaran poster yang bertuliskan bahwa haul malam selikur tahun ini akan dihelat dan terbuka untuk alumni. Dua tahun adalah waktu yang lumayan lama untuk tidak nyambangi (berkunjung)pondok, bersilaturahmi kepada gurudanbertemu seseorang, pikir saya. Lebih-lebih teman yang dulu selalu bersama dalam segala keadaan suka maupun duka. 

Bagi saya, dan bagi semua alumni Mamba’us Sholihin di manapun berada, haul malam selikur semacam menyimpan daya magis tersendiri. Jika tidak ada halang merintang, di manapun tinggalnya, para alumni mesti punya ‘azam yang kuat untuk hadir. Ini cukup beralasan, sebab turut serta dalam majlis haul malam selikur bisa menjadi salah satu tali penghubung dimensi ruhaniyah antara guru dengan murid. Dan saya yakin itu. 

Awakmu kudu ngerti, acara pondok sing paling gowo barokah lan manfaat haul malam selikur. Iku acara sing paling puncak lan paling akeh barokah e lan paling akeh manfaat e. Pertama, karena yang dihauli adalah hadrotul walid (ialah Ayahanda Beliau, KH. Abdullah Faqih Bin Toyyib). Kedua, Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki (Kalian mesti tahu, di antara acara pondok yang paling membawa barokah dan manfaat [yaitu] malam selikur. Itu acara yang paling puncak dan paling banyak barokah dan manfaatnya. Pertama yang dihauli adalah hadrotul walid. Kedua, Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki)”, begitu kira-kira dawuh Romo Kyai Masbuhin Faqih.  

Sebuah keyakinan, bagi saya, tak layak untuk dipikir terlalu dalam. Ia ada untuk diyakini lantas dijalankan, diamalkan dan ditunaikan. Bagi saya pribadi, keyakinan, sekalipun ia imanen di dalam hati tak kasat mata, ia sekaligus merupakan kata kerja. Konsekuensi saya meyakini barokah dan manfaat yang ada pada haul malam selikur sebagaimana yang didawuhkan beliau, mesti sepaket dengan kewajiban saya untuk menunaikannya. Sesederhana itu. 

Potret Betapa Tawaduknya Romo Kyai Masbuhin Faqih

Duduk bersama orang-orang sholeh dan habaib pada haul malam selikur memang mampu menjadi oase tersendiri. Saat di luar sana banyak orang berbondong-bondong secara gebyah uyah mendiskreditkan bani Alawy karena menilai ada beberapa habaib yang kontroversial dan bernuansa politis ceramah-cermahnya, Romo Kyai — begitu biasanya para santri menyebut beliau — tetap dan tak goyah untuk menunjukkan sikap tawaduknya. Ini terlihat saat bagaimana antara beliau dengan para habaib saling berebut untuk lebih dulu mencium tangan. Tak peduli baik yang sudah sepuh maupun yang masih muda

Penghormatan berbalut tawaduk Romo Kyai Masbuhin Faqih kepada para guru beliau dan dzurriyah Rasul memang tidak dapat dipungkiri lagi. Bahkan sebagian besar tamu undangan khusus yang berada di panggung majlis haul malam selikur, adalah para habaib. Mulai yang membaca ratib, doa, hingga yang memberi mauidloh hasanah juga para habaib. 

Habib Umar Muthohar, Semarang, yang dikenal jenaka dan gayeng ceramah-ceramahnya, menjadi langganan untuk memberi mauidloh hasanah dalam majlis haul malam selikur. Tahun ini beliau absen lantaran sakit dan sedang berobat. Mari kita doakan beliau agar segera diberi kesembuhan. 

Tidak hanya itu, dalam beberapa momen saat pondok Mamba’us Sholihin kedatangan ulama dari dzurriyah Rasul, yaitu habaib. Romo Kyai, dalam satu kesempatan, mengungkapkan bahwa harapan beliau hanya satu, ialah doa dari para habaib dan kiai. Semata agar pesantren dan para santrinya kecipratan berkah. Semasa saya masih tinggal di pondok kurun 2011–2018, memang sering sekali ada kunjungan ulama baik dari dalam atau mancanegara, lebih-lebih dari Yaman dan Suriah. 

Hal-hal yang mungkin terlihat remeh bagi orang yang tak pernah hidup dalam kultur pesantren tradisional seperti itu, nyatanya bagi kami selalu dapat menyejukkan hati yang gersang. Jujur saja, melihat bagaimana tawaduknya Romo Kyai kepada para guru-guru beliau dan para dzurriyah Rasul, hati ini merasa seperti dicambuk. ‘Athala Allahu ‘umrahu fi ash-shihat wa al-afiyat. Aamiin.

Saya jadi ingat dawuh Gus Huda, putra kedua Romo Kyai, dalam satu kesempatan menyampaikan yang kira-kira “nek duwe ilmu sak kilo, paling ora adabmu kudu telung kilo (Kalau punya ilmu satu kilogram, paling tidak [imbangilah] dengan adabmu tiga kilogram”, koreksi jika saya keliru. Ungkapan beliau itu tentu hanya metafor untuk menggambarkan betapa mestinya, adab selalu harus didahulukan ketimbang ilmu. Di luar, tak banyak yang bisa saya temukan kultur yang masih mengedepankan adab semacam di pondok dulu. 

Temu Alumni yang Tak Formal

Selain barokah dan manfaat yang ada pada haul malam selikur, temu alumni untuk melepas rindu menjadi hal kedua yang ditunggu-tunggu. Dalam waktu yang cukup lama tak bertemu, tentu saja banyak hal yang berubah dengan teman-teman saya. Mulai dari perubahan fisik; yang membuat sebagian yang tak pernah bertemu menjadi pangling, hingga perubahan laku. Untuk yang terakhir, saya rasa kebanyakan teman saya kelakuannya tak banyak yang berubah. Terutama ketika guyonan. 

Mereka tetaplah orang yang paling tahu bagaimana cara menggojlok satu sama lain. Meski sudah sejak agak lama tidak bertemu, saya tetap dipanggil dengan laqob (nama panggilan) lawas. Entah mulai kapan laqob itu disematkan kepada saya, saya tak tahu pasti. 

Yang jelas, karena saking terbiasanya dipanggil dengan laqob, beberapa teman saya jadi lupa nama asli saya. Saya cuman khawatir jika suatu saat mereka kesasar ketika mencari tempat tinggal saya, mereka akan makin kesasar dan kelimpungan. Bagaimana tidak begitu, orang-orang yang berada di sekitar saya saat ini tak ada yang tahu mengenai laqob masa lalu saya. Dan hal itu sudah saya pastikan. 

Warung-warung kopi di sekitar pondok biasanya akan menjadi titik temu kumpul-kumpul tak formal itu selepas bubaran majlis haul. Ini memang tidak masuk dalam rangkaian acara, tapi silatu rasa ini punya makna yang penting pula. Bagaimana hubungan emosional itu dibentuk kembali setelah terpisahkan oleh jarak dan pandemi, di sinilah tempatnya. Haul malam selikur beserta hal-hal yang berkaitan dengan pondok, dengan demikian, menjadi momen yang ditunggu-tunggu untuk melepas rindu.