Sarung Sebagai Identitas Kultural Islam Nusantara

0
3320
Sarung Sebagai Identitas Kultural Islam Nusantara
ilustrasi sarung. sumber: islamkaffah.id
Iklan

Oleh: M. Taufiqurrohman (Pengurus PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang)

nujateng.com – Sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari banyak Kegagalan kita dalam memahami apa itu Islam Nusantara, hal ini diawali dengan pembenturan anatar budaya lokal dengan agama islam. Budaya seringkali di anggap sebagai lawan dari Islam sendiri, sedangkan islam ada sebagai upaya menghapus budaya. Yang perlu kita ketahui di sini nilai-nilai keislaman akan selalu ada dimana saja, bahkan dalam berbagai macam situasi.

Jika kita berbicara Islam Nusantara sendiri memanglah bukan ajaran Islam yang baru, melainkan ajaran Islam yang telah di sebarkan sejak zaman para Wali. Bagi saya sendiri Islam Nusantara merupakan baju atau pakaian yang dianggap cocok untuk bermuamalah dengan manusia di  sekitarnya, berhablun minallah dan berhablun minannas sekaligus menjaga  tradisi yang baik. Islam Nusantara bukan syariat, bukan ibadah mahdoh. Kalau menganggap Islam Nusantara akan berhaji di Monas, sholat berbahasa Jawa, dan adzan subuh dengan lagu lingsir wengi, berarti tidak bisa membedakan antara pakaian dan daging. Islam nusantara sendiri boleh dipakai, tidak pun tidak mengapa.

Dalam Islam Nusantara sendiri yang notabenenya begitu menghormati sebuah tradisi yang ada dalam masyarakat tentu memiliki begitu banyak kebudayaan. Dengan begitu banyaknya budaya para penggaung Islam Nusantara mencoba mengingatkan muslim di nusantara bahwa para da’i dan muballigh tempo dulu  menjadikan budaya sebagai alat dakwah, dan lem perekat  antara manusia dengan agama, bukan sebagai sekat penghambat yang harus diluluh-lantakkan, dan dibumi hanguskan.

Tak menarik jika membincangkan Islam Nusantara tanpa kita singgung terkait budaya yang ada di Nusantara ini. Dengan begitu luasnya cakupan wilayah Nusantara ini sudahlah tentu memiliki begitu banyak budaya, tak terkecuali budaya dalam berpakaian umat Muslim di kehidupan sehari-hari, terlebih dalam penggunaan Sarung ketika beribadah.

Sarung begitu identik dengan muslim di Indonesia, Sarung juga telah menjadi salah satu pakaian penting dalam tradisi Islam di Indonesia. Tradisi menggunakan sarung di Tanah Air tersebar di berabagi wilayah. Pria Muslim di Indonesia biasa menggunakan sarung untuk keperluan ibadah, upacara perkawinan maupun acara adat. Lantas sejak kapan tradisi menggunakan sarung di Nusantara ini mulai berkembang?. Mari kita bahas setelah ini.

Boleh jadi tradisi penggunaan Sarung di Nusantara ini bermula pada abad ke-14 setelah masuknya ajar Islam yang dibawa para saudagar dari Arab, khususnya Yaman. Sarung juga merupakan pakaian tradisional para nelayan Arab yang berasal dari Teluk persia, Samudera Hindia, maupun Laut Merah sejak dulu. Seiring berjalannya waktu, sarung di Indonesia menjadi busana yang identik dengan budaya Muslim, dan digunakan sebagai busana sehari-hari.

Barang kali ada beberapa faktor yang membuat sarung begitu melekat dalam tradisi Islam di Indonesia, antara lain; sarung sangat mudah dipakai dan simpel. Selain itu ukurannya yang panjang mudah untuk menutupi aurat dengan baik. Sarung juga longgar dan tebal sehingga tidak menunjukkan lekuk tubuh pemakainya.

Bisa kita tengok hadis Nabi Muhammad yang menyinggung terkait penggunaan Sarung. Hal ini terlihat pada sebuah Hadis Riwayat Bukhari- Muslim. Dari Sahal bin Sa’ad dikisahkan bahwa Nabi SAW pernah didatangi seorang wanita yang berkata, ”Ya Rasulullah kuserahkan diriku untukmu”.  Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata,” Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya.” Rasulullah berkata,” Punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar? Dia berkata, “Tidak kecuali hanya sarungku ini”.

Lalu Rasulullah menjawab, “Bila kau berikan sarungmu itu maka kau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu.” Dia berkata, ”Aku tidak mendapatkan sesuatu pun.” Rasulullah berkata, ”Carilah walau cincin dari besi.”  Pria itu mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Rasulullah berkata lagi, ”Apakah kamu menghafal Alquran?”  Dia menjawab, ”Ya surat ini dan itu” sambil menyebutkan surat yang dihafalnya. Berkatalah Rasulullah, ”Aku menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan Alquranmu.”

Jika melihat hadis tersebut bisa kita lihat bahwasanya penggunaan Sarung sendiri sudah ada ketika zaman Rasulullah SAW. tak heran kiranya jikalau muslim Nusantara hari ini mengklaim sarung sebagai satu pakaian tradisi Muslim di Indonesia semacam pakaian untuk sholat, pergi ke masjid, pergi tahlilan ke tempat saudara maupun teman yang meninggal, dan memperingati hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha.

Selain itu semua sarung juga sebagai simbol perlawanan terhadap koloniaisme. Sarung tampaknya sudah menjadi bagian dari identitas Muslim di Indonesia. Bahkan, sarung juga identik dengan santri yang mondok di pesantren. Mereka  sering disebut sebagai ‘kaum sarungan’.

Hampir di semua pesantren tradisional, para santri menggunakan sarung untuk kegiatan belajar mengajar maupun aktivitas sehari-hari. Sarung juga  telah menjadi simbol perlawanan. Sebagai sebuah wilayah yang mayoritas beragama Islam,  sarung sudah menjadi sebuah simbol perlawanan terhadap negara penjajah Belanda yang terbiasa  menggunakan baju modern seperti jas.

Seiring berjalannya waktu saat ini trend pemakaian sarung yang ada dalam masyarakat hanya pada momen-momen tertentu saja. Berbeda dengan kaum santri yang masih senantiasa memakai sarung dalam kehidupan sehari-hari. Namun tidak perlu kiranya kita sesali, paling tidak saat ini sarung menjadi salah satu identitas Islam Nusantara.

Selain identik dengan budaya Islam Nusantara, sarung saat ini menjadi simbol kehormatan dan kesopanan yang sering digunakan untuk berbagai macam upacara sakral di tanah air. Sedikit mengutip kalimat dari Bung Karno “ Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen jangan jadi Yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat dan budaya yang kaya raya ini”.

Mencermati kalimat tersebut, kiranya kita patut terus merawat segala budaya yang ada di Nusantara ini, termasuk budaya Sarungan. Ikhtiar ini perlu kita lakukan agar anak cucu kita nanti juga terus melakukan apa yang kita lakukan dalam menjaga sebuah tradisi.

Konten ini merupakan hasil kolaborasi nujateng.com X justisia.com X pmiiwalisongo.com selama Ramadhan 1443 H.