Pembelaan Atas Nahdliyyin: Resensi Hujjah Aswaja KH. Ali Maksum Krapyak

0
2135
Pembelaan Atas Nahdliyyin: Resensi Hujjah Aswaja KH. Ali Masum Krapyak
Foto KH. Ali Maksum Krapyak. sumber: mwahyuarif.com
Iklan

Oleh: Ircham Mudzakir (Santri PP Al-Hikmah Assalafiyah Pedurungan)

nujateng.com – Bagi Masyarakat Nahdliyin, nama KH Ali Maksum dikenal sebagai tokoh ulama al-mausu’iyyu karena dengan segala keahliannya dalam berbagai bidang keilmuan. Sikapnya yang haus akan ilmu membawanya menuju perjalanan panjang menuntut ilmu.

Andilnya dalam bidang keilmuan juga tak bisa luput dari perhatian, banyak sekali karya beliau yang masih sering dikaji dalam pembelajaran pondok pesantren. Salah satunya adalah kitab beliau yang berisi praktik ibadah ahlussunnah wal Jamaah yang sering diperdebatkan. Kitab tersebut berjudul Hujjatu Ahlussunnah wal Jamaaah (Argumentasi Ahlusunnah wal Jamaah dalam bahasa Indonesia).

Kitab tersebut di latar belakangi kegelisahan beliau akan masih banyaknya perdebatan soal praktik ibadah Ahlussunnah wal Jamaah. Secara pribadi, KH Ali Maksum memperhatikan para santri Pondok Krapyak Yogyakarta khususnya dan kaum muslimin umumnya yang masih awam terhadap keilmuan dan membutuhkan penjelasan tentang beberapa persoalan agama yang nampaknya sepele dan selayaknya tidak perlu dipertengkar-kan diantara sesama umat Islam, seperti masalah shalat sunnah qobliyah jum’at, talqin mayit, dan sebagainya.

Hal ini beliau lakukan, tak lain agar umat nahdliyyin khususnya dan umat muslim umumnya tidak lagi merasa skeptis dan waswas terhadap kebenaran amaliyah keagamaan mereka, tidak dijerumuskan oleh setan, tidak terjerumus ke jurang kesesatan, tidak mudah terkecoh dengan berbagai pandangan ngawur para pemuja hawa nafsu, dan agar mereka mengetahui dengan sebenarnya bahwa apa saja yang telah dilakukan oleh para ulama salaf as-shalih itu semuanya benar (haqq) dan mesti diikuti.

Melalui karya ini, KH Ali Maksum berikhtiar membela dan mempertahankan kebenaran praktik ibadah dan Ahlussunnah wal Jamaah dengan cara mengkaji kembali, dalil-dalil dan mengembalikannya kepada sumbernya yang asli, yakni Al-Qur’an dan Hadis, serta perilaku para sahabat dan salafus-shalih. Hal ini bertujuan agar kaum Nahdhiyyin khususnya semakin mantap dalam menjalankan praktik ibadah dan tradisinya, serta tidak terjebak kedalam perdebatan semu dengan sesama saudara muslim tentang persoalan khilafiyah.

Dalam kitab ini terdiri dari 8 bab permasalahan dan 1 bab penjelasan tentang tawasul yang dibahas secara runtut. Pada bab pertama, KH Ali Maksum menjelaskan pendapat beberapa ulama tentang bolehnya memberikan pahala bacaan Al-Qur’an dan Shadaqah kepada mayit. Berikutnya, beliau mnjabarkan segala sesuatu mengenai shalat sunnah Qobliyyah Jum’at.

Bab 3 berisi persoalan talqin mayit, pada bab 4 dan 5 berisi persoalan shalat taraweh dan penetapan 2 awal akhir ramadhan dan syawal secara berturut-turut. Bab 6, 7 dan 8 berisi persoalan kubur yang dibahas secara runtut. 

Terdapat juga penjelasan tentang Tawassul, bab ini merupakan tambahan dari KH. Ahmad Subki Masyhudi sendiri karena banyak yang mempertanyakan penjelasan hukum bertawasul kepada para nabi, wali, dan orang shaleh.

Mengutip Pendapat Ulama Rujukan Kaum yang Memperdebatkan Ahlussunnah wal Jamaah

Alih-alih mengutip pendapat ulama yang sepakat, guna menguatkan penjelasan dan argumentasi praktik ibadah Ahlussunnah wal Jamaah. KH Ali Maksum dalam kitab ini justru beberapa kali mengutip pendapat ulama rujukan kamun yang sering memperdebatkan praktik ibadah Aswaja.

Selain karena sangat memuliakan ulama dan menganggap mereka sebagai cahaya dunia, KH Ali Maksum ingin membuktikan bahwa semua yang mereka perdebatkan tentang praktik ibadah Aswaja juga dibenarkan oleh ulama rujukan mereka. 

Pada beberapa bab persoalan, KH Ali Maksum mengutip pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyim yang merupakan ulama rujukan beberapa kaum yang sering memperdebatkan tentang praktik ibadah Ahlussunnah wal Jamaah.

Salah satunya yang terdapat pada bab pertama, Memberikan Pahala Membaca Al-Qur’an dan Shadaqah Kepada Mayit. Dalam bab persoalan ini, baik Ibnu Taimiyah maupun Ibnul Qayyim, keduanya sepakat bahwasanya orang yang melakukan amal ibadah, baik yang berbentuk shadaqah, bacaan ayat Al-Qur`an (bacaan tahlil, tasbih, takbir dan zikir), maupun amal sholeh lainnya, boleh dihadiahkan atau ditujukan pahalanya kepada orang yang sudah meninggal dan pahala tersebut sampai kepadanya.

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Mayit dapat mengambil manfaat dari pahala bacaan Al-Qur’an orang lain yang dihadiahkan kepadanya, sebagaimana ia juga dapat mengambil manfaat dari pahala ibadah amaliyah, seperti Shadaqah dan sejenisnya.”

Ibnul Qayyim dalam kitab ar-Ruh: “Sebaik-baik pahala yang dihadiahkan kepada mayit adalah pahala shadaqah, istighfar, mendoakan kebaikan untuk mayit, dan ibadah haji atas namanya. Adapun pahala bacaan ayat Al-Qur`an yang dihadiahkan secara sukarela oleh pembacanya kepada si mayit, dan bukan karena dibayar, hal semacam ini pun sampai kepada si mayit, sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji kepadanya.”

Pada bab persoalan ketiga, Talqin Mayit. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan di dalam Kitab Majmuk Fatawi beliau (juz pertama), talqin ini yang telah disebutkan (yakni talqin mayyit sesudah dipendam) telah benar-benar ditetapkan oleh golongan dari sahabat bahwa mereka memerintahkannya seperti sahabat Abi Umamah Al-Bahili dan lainnya.

Walaupun dalam hal ini, hadis yang menjadi dasar persoalan talqin mayit ini tidak dinilai sebagai hadis shahih dan tidak banyak sahabat Nabi yang melakukannya. Namun, Imam Ahmad (Imam Hambali) dan beberapa jumhur ulama sepakat bahwa talqin mayit tidak apa dilakukan, mereka membiarkan dan tidak memerintahkan orang-orang untuk melakukannya.

Golongan dari sahabat Imam Syafii dan Imam Ahmad menganggapnya memandangnya mustahab. Sementara golongan Imam Maliki dan yang lainya, memakruhkanya.

Bab persoalan Ziarah Kubur, Jelas bahwa semua madzhab dalam islam memperbolehkan ziarah kubur dan menjelaskan adab sopan santunnya. Bahkan ziarah kubur disunnahkan sebagai ittiadz (pengambil pelajaran), pengingat akhirat, dan pengantar doa, maka ziarah kubur disunnahkan bagi setiap muslim.

Sikap anti dan melarang ziarah kubur, menunjukkan akal pendek manusia terhadap seluruh ajaran madzhab dalam Islam, yang padahal keempatnya memperbolehkan berziarah kubur bahkan menjabarkan adab dan sopan santun bagi peziarah. Wallahu A’lam Bishawab

Tulisan ini merupakan hasil dari kolaborasi nujateng.com X justisia.com X pmiiwalisongo.com selama Bulan Ramadhan 1443 H.