Ngaji Posonan: Antara Budaya dan Otoritas Keagama’an

0
3645
Ngaji Posonan
Abah Kiai Dimyati sedang mendoakan santri yang mengikuti ngaji posonan di ndalem beliau. sumber: alif.id
Iklan

Oleh: Abdullah Faiz (Pimpinan Redaksi nujateng.com)

nujateng.com – Ngaji posonan adalah istilah yang disematkan untuk para santri yang menjalani pengajian bersama kiai selama bulan puasa berlangsung. Ngaji posonan juga menjadi ajang silaturrahim dan ngalap berkah bagi para santri di seluruh penjuru dunia. Biasanya para santri berbondong-bondong menuju kiai tertentu untuk sebatas mengaji dan ngalap berkah selama bulan puasa.

Dalam tradisi ini para santri biasanya memiliki list sasaran kiai yang menjadi prioritas untuk menimba ilmunya, kriteria kiai yang diprioritaskan adalah kiai yang sudah sepuh, alim atau kiai yang menjadi pengasuh di pondok pesantren yang berusia tua. Di Jawa ada beberapa titik kiai dan pesantren yang memiliki daya tarik sangat kuat sehingga menjadi pusat kajian selama bulan puasa. Misalnya di Jawa bagian barat ada Kiai Musthofa Aqil di kawasan pesantren Khas Kempek Cirebon, Syarif Hasanain di Jagasatru dan beberapa kiai di Jawa Barat.

Sedangkan di Jawa bagian tengah ada Kiai Dimyathi Ro’is di Kaliwungu, Kiai Mudrik Khudhori di Tegalrejo, Kiai Ubab Maimun dan saudara-saudaranya di Sarang, Kiai Musthofa Bishri di Leteh. Sementara di Jawa bagian timur ada Kiai Anwar Manshur dan Kiai Kafabihi Mahrus Lirboyo.

Kediaman kiai-kiai sepuh tersebut selalu ramai oleh santri yang datang dari berbagai daerah untuk mengaji dan bertabarruk selama Ramadhan. Budaya ngaji pososnan ini sudah mengakar sejak zaman dahulu. Meskipun sempat terhenti karena dilanda pandemi, namun tidak mengurangi sedikit put semangat para santri untuk menghidupkan kembali budaya tahunan ini.

Mengingat Ramadhan tahun ini tidak terlalu ketat dengan protokol Covid-19 para kiai berani untuk membuka pengajian secara offline tanpa dibatasi. Misalnya Di kawasan pesantren Kaliwungu Kendal terlihat sangat ramai dengan kedatangan para santri dari manapun. Hal ini dapat kita temui dari pengajian yang dibuka oleh Kiai Dimyathi Ro’is, terlihat ribuan santri rela mengaji sambil lesehan di jalanan untuk ikut mendengarkan apa yang disampaikan Abah Dim.

Antara Ahli Agama dan Pakar Agama

Pengajian yang digelar oleh para kiai sepuh sangat luar biasa, saya mengamati beberapa santri yang mengikuti pengajian Abah Dim sapa’an akrab Kiai Dimyathi Rois, tidak dari kaliwungu saja melainkan dari luar Jawa juga. Selain itu juga berasal dari berbagai golongan, dalam arti tidak hanya santri saja melainkan datang pula para pedagang, muhibbin dan lainya.

Saya sempat heran dengan otoritas seorang kiai yang biasanya jauh dari pendidikan dalam kampus namun memiliki otoritas dan daya tarik yang sangat kuat. Misalnya Abah Dim, sependek pengetahuan saya, beliau sejak masa mudanya belajar di pondok pesantren saja tidak pernah menjajaki dunia perkuliahan, namun yang kita saksikan sekarang beliau dapat menjadi magnet yang dapat menarik berbagai golongan untuk merapat ke kediamanya. Tentu saja hal ini senilai dengan kiai-kiai yang lain seperti Kiai Anwar Mashur Lirboyo, Kiai Kafabihi dan kiai sepuh lainya.

Fenomena demikian patut kita akui bahwa pengetahuan dan pembelajaran sikap cara pandang hidup kita dalam beragama selama ini tentu menggantung erat pada kiai-kiai sepuh tersebut. Selain itu otoritas keagamaan masih mengakar kepada ulama/kiai yang memang mengajarkan ilmu dengan mengayomi serta mengantarkan kepada tujuan hidup kemanusiaan yang sejati. Pada moment demikian kiai mengajarkan agama tidak hanya dengan teori akademik saja melainkan dengan sikap dan praktik yang sudah mendarah daging dalam dirinya.

Apabila kita telisik lebih dalam, beberapa kiai sepuh banyak yang membuka kajian tafsir, hadis, ushul fiqih dan ilmu lainya, sementara mereka sama sekali tidak memiliki ijazah profesor atau doktor yang linier dengan bidangnya di dunia akademik. Namun kiprahnya di masyarakat lebih mengena dan lebih kuat powernya dari pada para doktor bahkan profesor dan jebolan perguruan tinggi yang menyandang gelar lulusan tafsir, hadis dan ilmu lainya.

Sebenarnya agama adalah komponen nilai dan energi untuk menyelesaikan persoalan dengan menguraikan satu persatu permasalahan yang kerap terjadi di masyarakat. Para kiai sepuh rela tertatih-tatih mengikuti dinamika zaman yang melaju sangat kencang ini. Kerelaan kiai tersebut tidak memukul mundur para pengikutnya melainkan menjadi kewajiban untuk mengayomi masyarakat secara umum, oleh karena itu para santri dan muhibbin yang terhimpun dalam komponen masyarakat bisa dengan mudah mengikutinya.

Sementara yang kita temui dikalangan akademik. Para akademisi menjadikan agama seakan-akan terpisah dengan aktifitas kehidupan dan budaya kemasyarakatan. Dalam pengalaman ini muncul fenomena formalisme beragama yang mengarah pada kesalihan personal namun berjarak dengan kesalihan sosial untuk mewarnai masyarakat dan kebudayaan.

Perbedaan dalam Metode Pengambilan Pengetahuan

Apabila kita runut perbedaan ini dapat ditemui dalam praktik pengambilan ilmunya. Metode yang digunakan jelas berbeda. Para kiai sepuh cenderung menggunakan metode klasik atau tradisional yang menyimpulkan bahwa kebenaran agama adalah jalan untuk menuju keridhoan Allah swt. Kesan dari pengambilan ilmu melalui metode ini dapat menyimpulkan bahwa ilmunya tidak berhenti sebatas pengetahuan saja melainkan menjadi amaliyah sehari-hari hingga menyatu, mendarah daging dalam setiap langkahnya.

Sementara kalangan akademis lebih memilih metode akademik barat yang sering mengatakan data empiris atau kebenaran adalah tujuan, sehingga dampak dari pengambilan metode tersebut hanya berhenti dalam pengetahuan dan data saja. Bagian kedua ini kerap menjadi pakar dan diakui sebagai guru bisar dalam bidang tertentu namun pengakuan sosial masyarakat kurang beruntung. Misalnya beberapa akademisi yang sudah mendapatkan gelar guru besar bidang hadist atau bidang tafsir akan diakui di dalam diskusi-diskusi akademik namun minim powernya di tengah masyarakat dan santri karena terkesan sangat elit dan kurang membumi.

Kedua model tersebut sebenarnya dapat bersatu dan menjadi jembatan bersama apabila sadar dengan kebutuhan yang sejati. Bisa kita temui beberapa kiai muda yang memiliki dasar pesantren tradisional namun diusia perkembanganya ia habiskan menjelajah di dunia akademik. Hal ini harus diwujudkan dengan bentuk kesadaran, jangan sampai muncul krisis identitas, krisis jati diri dan krisis kemanusiaan.

Karena biasanya semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, bukan semakin dekat dengan masyarakat melainkan semakin terpisah dan asing karena sikap elitisnya yang membengkak. Sebaliknya dunia pesantren tidak mesti dengan anti akademik, semestinya kedua metode pengambilan tersebut dijalankan secara bersamaan agar mendapatkan keseimbangan yang stabil.

Satu hal lagi yang takut untuk ditingalkan adalah standar kemajuan bangsa tidak sepadan dengan kedewasaan mental kita dalam beragama, budaya yang dipertahankan harus membumi dan dapat diterima oleh masyarakat, agar kemampuan masyarakat semakin dimudahkan untuk bergaul dan mencerna ilmu yang diajarkan oleh para ulama dan intelektual.

Tidak kemudian budaya kita dikesampingkan karena budaya elitis yang tidak mendewasakan kehidupan kita. Pada tahap inilah kita merasakan sebuah perbedaan yang sangat mencolok dalam diri ilmuan-ilmuan kita. Rumus perkembangan masyarakat dan kebudayaan tidak boleh hilang dan teteap membangun peradaban yang baik.

Refleksi tulisan ini tentu saja bukan bermaksud menyampingkan atau panik dengan keadaan para ulama dan ilmuan kita. Melainkan sebagai kritik yang harus dibangun untuk meluruskan para akademisi di lingkungan kita agar lebih membumi dalam mengamalkan ilmunya.

Konten ini diproduksi dari kolaborasi nujateng.com X justisia.com X pmiiwalisongo.com selama bulan Ramadhan 1443 H

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di alif.id dengan judul “Ngalap Berkah dengan Ngaji Pasanan”