Makna Simbolik Ingkung Bancakan

0
3945
Makna simbolik Ingkung Bancakan
ilustrasi ingkung dalam sebuah upacara adat. sumber: kabarhandayani.com
Iklan

Oleh: Muhamad Sidik Pramono (Pengurus PC IPNU Kabupaten Sragen)

Bagi masyarakat Indonesia, istilah kenduri bukan hal asing yang jarang didengar. Kenduri merupakan suatu akulturasi antara agama Islam yang mencoba mengakomodir budaya yang sudah ada terlebih dahulu bahkan sebelum Islam datang (Indana et al., 2020). Di berbagai daerah hal tersebut memiliki penyebutan acara atau ritual kenduri yang bermacam-macam.

Sragen dan Karisidenan Surakarta misalnya, kenduri biasa disebut dengan bancakan atau juga kondangan. Di daerah lainnya kenduri memiliki sebutan sebagai sedekah bumi, syukuran, kenduren, atau juga slametan. Pada tulisan ini, penulis akan menggunakan kata bancakan–istilah tersebutlah yang lazim digunakan di wilayah penulis yakni Sragen, Jawa Tengah–sebagai istilah lain kenduri.

Acara bancakan biasanya diadakan guna memperingati berbagai peristiwa seperti peringatan hari kematian. Istilah hari yang digunakan pasca kematian juga menjadi patokan dalam acara bancakan, seperti tiga hari (nelung dino), tujuh hari (pitung dino), empat puluh hari (matang puloh), seratus hari (nyatus) hingga seribu hari (nyewu).

Selain itu bancakan di sana juga dilaksanakan saat memperingati hari besar keagamaan seperti kelahiran Nabi Muhammad Saw, Isra’ Mi’raj, Nisfu Syaban, hari-hari menjelang Ramadan (mapak tanggal), Idul Fitri, dan juga pada Bulan Suro (Muharram).

Menurut Afsai, sebuah tradisi memiliki simbol-simbol yang mengikat kuat dengan manusia dan budayanya (Afsai, 2009). Sebagai produk tradisi atau budaya masyarakat Jawa, bancakan mempunyai berbagai simbol yang menganalogikan maksud tertentu (Rokhmah, 2019). Simbol-simbol tersebut salah satunya terkandung dalam Ubo Rampe –segala sesuatu yang perlu disiapkan untuk upacara– seperti nasi uduk, rempeyek, kedelai hitam, serundeng, tahu tempe bacem, mie, kue apem, termasuk ayam ingkung serta masih banyak lagi lainnya. Pada tulisan ini, penulis akan berfokus untuk mengurai makna di balik ayam ingkung yang selalu ada dalam bancakan.

Hampir di setiap bancakan ayam ingkung dapat dipastikan turut hadir dalam Ubo Rampe yang disiapkan oleh pihak yang memiliki hajat. Keberadaan ayam ingkung tersebut memiliki analogi berupa pengingat, harapan, dan arahan bagi masyarakat Jawa. Ingkung merupakan makanan yang terbuat dari ayam jago utuh yang dibentuk sedemikian rupa dengan posisi kepala dan kaki ayam diikat, sehingga membentuk seperti orang yang sedang bersemedi atau diartikan seperti posisi orang yang sedang bersujud (Lestari & Pratami, 2018).

Secara etimologi ingkung berasal bahasa Jawa yakni dari kata ing manekung. “ing” berarti di/pada/dalam dan “manekung” sendiri memiliki arti memusatkan pikiran (baca: konsentrasi). Manekung diartikan juga sebagai semedi atau bertapa. Selain itu manekung juga diartikan sebagai tirakat (Hamid, 2019).

Selain itu juga bisa diartikan sebagai upaya menjaga sembilan lubang yang dimiliki manusia (ngrekso babagan hawa sanga). Maksud dari ngrekso babagan hawa sanga atau menjaga sembilan lubang milik manusia–dua lubang mata, dua lubang telinga, dua lubang hidung, lubang mulut, kubuldan dubur–dari segala tindakan yang dapat menimbulkan dosa.

Internalisasi dari konsep manekung yang disimbolkan pada sebuah ingkung pada acara bancakan sangat beragam bentuknya. Manekung tidak cukup hanya dimaknai sebagai upaya untuk melakukan semedi saja. Lebih dari itu, manekung dapat dilakukan dengan puasa, menyedikitkan tidur, melakukan pantangan terhadap sesuatu, atau memperbanyak mengamalkan dzikir, dan lain sebagainya.

Puasa dalam masyarakat Jawa tidak sebatas pada bulan Ramadhan seperti sekarang atau puasa sunnah seperti yaumul bidh, Senin-Kamis dan puasa daud. Namun, ada beberapa model puasa yang dilakukan masyarakat Jawa sebagai upaya untuk menerapkan laku tirakat (memanekungkan diri). Sebagai contoh adalah puasa ngrowot, yakni puasa yang hanya mengonsumsi umbi-umbian dan air putih selama 24 jam dari petang sampai petang lagi. Di lain sisi, keberadaan ingkung dalam bancakan yang biasanya juga dijadikan ekspresi bersyukur atas pencapaian atau diraihnya keinginan, memiliki makna sebelum berada pada keadaan yang menyenangkan (baik) maka perlu menjalani kesengsaraan.

Melalui ingkung masyarakat Jawa mensimbolisasi bahwa dalam menjalani kehidupan seseorang mesti melakukan sebuah pemanekungan atau laku tirakat sebagaimana yang dipercayai. Dari situ dapat dipahami keberadaan dari ingkung adalah sebuah arahan, harapan juga pengingat jika dalam menjalani hidup setiap manusia perlu melakukan tirakat untuk menjadi manusia seutuhnya.

Daftar Pustaka

Afsai, Y. M. (2009). Gelar Adat dalam Upacara Perkawinan Adat Masyarakat Komering di Gumawang, Belitang, Ogan Komering Ulu Timur. FAKULTAS ADAB UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

Hamid, A. L. (2019). KONSEPSI MARTABAT TUJUH DALAM WIRID HIDAYAT JATI RANGGAWARSITA. Al-Afkar, Journal For Islamic Studies. https://doi.org/10.31943/afkar_journal.v4i1.61

Indana, N., Makmun, M. A., & Machmudah, S. (2020). Tradisi Ruwah Desa dan Implikasinya Terhadap Pengetahuan Tauhid Masyarakat Dusun Ngendut Kesamben Ngoro Jombang. Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman. https://doi.org/10.52431/tafaqquh.v7i2.222

Lestari, N. S., & Pratami, K. E. N. (2018). Ayam Ingkung Sebagai Pelengkap Upacara Adat di Bantul Yogyakarta. Jurnal Sains Terapan Pariwisata.

Rokhmah, F. N. (2019). Javanese Religious Expression Through Kenduren Tradition. Ijtimā’iyya: Journal of Muslim Society Research. https://doi.org/10.24090/ijtimaiyya.v4i1.1966

Konten ini adalah hasil kolaborasi nujateng.com X justisia.com X pmiiwalisongo.com selama Ramadhan 1443 H.